Karisma dan Karya Serikat Yesus di Kepulauan Nusantara

Disarikan dari: Tim Kolsani, Meyesuit Lewat Kolsani, Yogyakarta, Kolsani, 1993, hal. 15-27.

Benih yang ditabur oleh Xaverius banyak mengalami hambatan, sehingga baru dua-setengah abad kemudian benih Kristianitas mulai menampakkan tunasnya. Pada tahun 1798, VOC dibubarkan dengan menderita kerugian 134,7 juta gulden. Sejak saat itu Nusantara resmi menjadi bagian koloni negeri Belanda. Kondisi ekonomi Belanda makin melemah akibat hutang yang makin menumpuk setelah perang Belgia dan perang Diponegoro. Atas perintah van den Bosh, tanam paksa diberlakukan di Nusantara. Bencana kelaparan dan kematian besar-besaran terjadi khususnya di tahun 1848-1849. Lepas dari itu, Gereja di Nusantara mendapat perhatian lebih memadai dari Raja Wilem II. Serikat Yesus pun ikut mendukung perkembangan Gereja di Nusantara. Perhatian utama dari misi pada saat itu adalah pelayanan rohani untuk orang-orang Belanda dan Indo yang beragama Katholik. Karya awal Serikat Yesus di Nusantara dimulai dari kedatangan dua orang Yesuit yaitu M. van den Elzen, SJ, dan Y.B. Palinckx, SJ, yang tiba di Batavia pada 9 Juli 1859. Mereka ditugaskan untuk membantu dan mengganti para pastor Praja guna melayani kepentingan rohani orang Belanda dan Indo yang bekerja di perkebunan. Dalam perkembangannya, Mgr. Claessens yang saat itu menjabat sebagai vikaris apostolik mengirimkan 57 imam dan 15 bruder Yesuit ke daerah-daerah di Nusantara. Strategi yang dipakai Yesuit pada masa itu tidaklah selalu sama, namun yang menjadi ciri umum adalah mempelajari bahasa daerah dan kebudayaannya, serta mencari kemungkinan tindakan kerasulan selanjutnya.

Periode kedua karya Serikat Yesus sekitar tahun 1894 diawali dengan terpilihnya P. Walterus Staal, SJ sebagai vikaris apostolik Hindia Belanda. Semangat apostolik dari Mgr. Staal SJ amatlah besar. Setelah beliau meninggal, semangat misi SY makin intensif di Jawa. Kedatangan dua pastor Yesuit yaitu P. Hoevenaars dan P. van Lith menambah peran terhadap perkembangan Gereja Katholik, khususnya di Keuskupan Agung Semarang. Kondisi lain terjadi pada misi di luar jawa. Kesulitan yang dialami oleh SY untuk mengembangkan karyanya di sana terletak pada kurangnya tenaga, banyaknya bahasa daerah, dan terbatasnya keuangan Gereja untuk membiayai karya misi ini. Selain itu, kesulitan lain adalah bahwa pada masa itu, jabatan superior SY masih dirangkap dengan jabatan pastor paroki. Yang kiranya perlu dicatat pada periode karya misi SY sekitar tahun 1894 adalah semakin intensifnya pendekatan terhadap pribumi. Pelbagai usaha telah digunakan oleh para Yesuit pada karya misinya, seperti: mempelajari bahasa dan kebudayaan setempat, membangun tempat ibadat agar pribumi tidak merasa asing di tempat ibadat orang Belanda, mendirikan tempat pendidikan bagi kaum pribumi, mendekati para ‘priyagung’ (kaum elit), serta memberikan bantuan medis dan ekonomis kepada pribumi. Tanggal 21 Mei 1898, Mgr. Luypen, SJ diangkat menjadi Vikaris Apostolik oleh Paus Leo XIII. Masa jabatannya ditandai dengan bertambahnya sekolah Katholik dan munculnya gereja-gereja baru. Salah satu keistimewaan yang terjadi selama masa pemerintahan Mgr. Luypen adalah dimulainya pembagian satu vikarat Jakarta menjadi beberapa bagian yang berdiri otonom. Ini selanjutnya mengantar pada pembagian tanggungjawab yang pertama; SY menyerahkan daerah Indonesia Timur kepada ordo MSC sesuai Dekrit Roma tanggal 22 Desember 1902. Berangsur-angsur sejak itu, pembagian wilayah dan pengambil-alihan pekerjaan dilaksanakan di antara ordo-ordo dan konggregasi-konggregasi lain. Yesuit berani menegaskan bahwa, seturut penegasan roh, Jawalah yang akhirnya menjadi pusat kerasulannya.