Eleksio: Siapa Memilih Apa? Siapa Memilih Siapa?

Latihan Rohani ialah “segala cara untuk mempersiapkan dan mendisposisi jiwa, untuk melepaskan darinya segala kelekatan tak teratur, dan setelah itu dilepas, mencari dan menemukan kehendak Allah dalam disposisi hidup, demi keselamatan jiwa” (LR 1). “Mencari dan menemukan” itulah yang disebut “melakukan pemilihan”. Melakukan pemilihan sebagaimana dimaksudkan dalam Latihan Rohani berlatar belakang keyakinan. Secara tepat serta menurut maksudnya, kita menemukan kehendak Allah dalam disposisiNya atas hidup kita. Bukan dengan menarik suatu kesimpulan khusus dari asas-asas umum, melainkan dengan secara eksistensial dan pribadi menjawab Allah yang secara pribadi menyapa.

Keputusan eksistensial

1. Dengan kemungkinan kedua ini, orang sampai pada suatu keputusan eksistensial dan pribadi. Keputusan seperti itu bukan sesuatu yang aneh atau luar biasa, melainkan berulang-ulang kali terjadi dalam hidup. Paling biasa ternyata orang punya preferensi memilih jalan dari rumah ke sekolah atau tempat kerja (padahal ada dua atau tiga jalan lain yang bisa dipilih). Paling sering: setelah membaca segala hasil pemeriksaan di laboratorium, dalam seni kedokterannya, dokter A mendiagnose – pribadi dan unik – bagi saudara B. Paling jelas: setelah dan di atas semua pertimbangan ekonomis, psikologis, sosial, etis, dst. Orang memilih partner hidup karena “klik” (ada sesuatu). Diambil keputusan atas dasar kecocokan dasar, setelah dan di atas segala pertimbangan yang dedukatif. Keputusan itu bukan irrasional (apalagi tidak buta), cuma tidak merupakan kesimpulan dari premis-premis dan pada umumnya keputusan yang berbobot sewajarnya dijabarkan secara rasional.

2. Keputusan eksistensial dan pribadi bukan jalan pintas atau jalan cadangan untuk menentukan baik buruk (moral) dari suatu tindakan. Tidak pantas mengharapkan bahwa pencerahan dari surga atau dari Gunung Suroloyo akan menyelesaikan masalah etis (di bidang kedokteran atau ekonomi perusahaan), kalau diskursus buntu atau bodoh. Keputusan eksistensial tidak mencari benarnya kaidah umum, melainkan memastikan arus hidup yang pada hakekatnya pribadi.

  1. Maka, keputusan hidup in yang pada hakekatnya pribadi. us buntu atau bodoh.alau ahan dari surga atau dari Gunung Suroloyo akan menyelesaikan masalah etis (di bidang kedokteran i pada umumnya dicari dalam medan yang digariskan oleh tongkak-tongkak umum berlaku (dan khususnya untuk orang katolik: dalam jangkauan yang dipatok oleh ajaran gereja perihal iman dan moral.
  2. Keputusan itu sekaligus merupakan “pengertian” bukan orang tidak sadar melainkan orang menangkap sesuatu. Bukan orang merasa melainkan menjadi tahu apa yang harus dilakukan dan mengapa demikian.
  3. Adakalahnya, keputusan eksistensial bagaikan jatuh dari langit biru (seperti pada Romi dan Julie—pilihan waktu I). Lain kala, keputusan eksistensial (juga yang amat menentukan hidup selanjutnya) diambil dalam lanjutan tugas-tugas dan tantangan hidup (seperti Caesar menyebrang sungai Rubikon—pilihan waktu II). Ataupun menjajaki dan mempertimbangkan segala kebijaksanaan pada situasi khusus hidupku, akhirnya memilih melakukan ini ata itu (karena terpaksa memilih karena tidak memilih juga merupakan pilihan—pilihan waktu III).

3. Dengan pilihan itu, orang melakukan sesuatu yang menyangkut keseluruhan hidup. Dalam arti yang sebenarnya, menyangkut hidup mati kisah selanjutnya. Sejak Descartes dan Pascal, laku pilih ini diterangkan sebagai pengalaman dasar. Menyambung pada epistemologi Kant, diterangkannya sebagai keterbukaan transendental. Melanjutkan kritik oleh Nietzsche, eksistensialisme menyebutnya Geworfensein (keterlemparan [Heidegger]).

Dalam aneka lingkungan budaya diakui pengalaman perorangan, yang pada dasarnya dan dalam keseluruhannya mencangkup seluruh hidup dan kehidupan. Semacam pengalaman panggilan (nabi) yang membuka peluang, dan oleh karena itu dipertahankan dalam segala liku-liku nasib dan melawan segala kesulitan. Sejarah dan filsafat manusia memang memperhitungkan suatu pengalaman yang transendental terbuka, dengan tidak terpusat pada usaha atau barang tertentu. “Karcis masuk sirkus di bumi ini, tidak mungkin kamu kembalikan”. Maka kamu melakukan sesuatu yang serba baru, seandainya tidak dilakukannya, seumur hidup, sepanjang sejarah tidak terjadi demikian. (sia-salah berspekulasi, terjadi apakah seandainya Arjuna tidak turun perang pandawa….seandainya Paulus tidak dari Galatia menyebrang ke Filipi….).

4. Ternyata, pilihan itu bukan untuk mencari sesuatu yang tepat (untuk aku) yang seperti semacam obyek sudah ditentukan atau dalam supermarket hidup tersedia di depan mataku. Dalam bahasa “religius”, kita tidak mencari sesuatu sebelum segala abad (dan dari kandungan ibuku) sudah ditentukan untuk aku sebagai anangke atau fatum atau dharma atau nasib, oleh moira atau Ingkang Paring Gesang. Dengan mengadakan pilihan, keputusan menjadi usaha, usaha kemerdekaan itulah “obyek” pilihan dan begitulah menjadi nasib dan dharma dan makna hidupku.

Yang Ignatian

Lantas apa maksudnya: mencari kehendak Allah?

1. Hanya untuk orang beriman masuk akallah bicara mengenai kehendak Allah. Adalah beriman bahwa dengan keputusan hidup orang menjawab Dia, yang adalah awal dan akhir segala kehidupan dan yang kita sapa dengan nama Allah. Dialah demikian terlibat dalam kelangsungan hidup kita (masing-masing dan bersama [Kerajaan Allah telah dekat, berbaliklah dan percayalah!] sehingga terlebih dahulu menginginkan lebih-lebih (magis) aku.

2. Orang mencari kehendak Allah karena yakin di atas segala kebenaran iman yang berlaku umum (“…dari situ ia akan mengadili orang hidup dan mati. Aku percaya akan Roh Kudus, gereja katolik yang kudus, persekutuan orang kudus, pengampunan dosa…” – dan aku hanya satu kasus dalam segala kebenaran itu) terdapat senyatanya bimbingan Roh yang dalam keputusan hidupku mengantar aku ke dalam perjumpaanku dengan Tuhanku dan Allahku. Keputusan hidupku merupakan perkara rahmat dengan dan dari kelimpahan hidup ilahi. Maka, hidup dalam kemiskinan aktual dapat merupakan panggilan dan rahmat yang dapat kumohon dalam doaku.

3. Maka selanjutnya dipertanyakan, apakah dalam hidup kita yang unik, senyatanya terdapat gerakan-gerakan ilahi (motions, bukan emotions) dan bagaimana gerakan-gerakan ilahi itu dapat kita kenal sebagai ilahi? Untuk itu, Latihan Rohani Ignatian merancang dan mengembangkan suatu proses pengenalan secara metodis untuk mentemukan kehendak Allah yang individual itu.

Manakah metodenya?

a. Lazimnya dan umumnya dilakukan bagaikan pertimbangan rohani: Manakah obyek pilihan yang baik dan manakah jahat (moral)? Manakah dilarang – manakah diperintahkan oleh Tuhan/dalam Kitab Suci? Manakah dilarang dan manakah diperintahkan oleh gereja? Manakah yang dianjurkan oleh guru rohani? Bagaimanakah kaidah-kaidah umum itu kena pada situasi dan tugas hidupku? Kehendak Allah yang individual dilihat sebagai kasus dari aturan-aturan umum.

b. Dalam Latihan Rohani, pertimbangan pilihan tidak mulai dari obyek yang dipilih, sebaliknya diperhatikan: dari manakah datang motion yang mendorong aku pada keputusan ini atau itu? Apakah rahmat individual itu dapat dikenal sebagai rahmat? Atau sekurang-kurangnya dikenal dari buah-buahnya motion tertentu dikenal sebagai rahmat?

4. Hiburan adalah kata kunci untuk mengenal pengalaman sebagai pengalaman rahmat, yakni “sewaktu dalam jiwa timbul suatu gerak batin, yang membuat jiwa jadi berkobar dalam cinta kepada Pencipta dan Tuhan” sampai segala usaha dan barang hanya menarik “demi Pencipta segalanya” (LR 316). Gerak batin dikenal bukan saja sebagai keterbukaan yang menentukan seluruh hidup melainkan sebagai peluang yang dibuka oleh Pencipta dan Tuhan bagi hidupku. Tekad mengangkat kaki untuk menempuh pertualangan dan menangani hidup dihayti sebagai sapaan sabda yang memohon dan memampukan penyerahan.

  1. Pada intinya, pengalaman dasar rahmat (seperti “aku dicintai Allah”) oleh Ignatius disebut “hiburan…tanpa sebab-sebab sebelumnya” (LR 330), yakni keterbukaan dan tekad merdeka yang tidak dibangkitkan pada tantangan atau keputusan tertentu. Dan memang, adalah “khas pencipta” untuk “keluar masuk” menyapa orang pada “keterbukaan dan tekad merdeka” (sementara apapun di dunia dapat membangkitkan suatu motion hanya lewat obyek suatu usaha). Dalam hiburan tanpa sebab sebelumnya keterbukaan transenden orang beriman menjadi eksplisit diperhatikan sebagai pengalaman rahmat yang menggerakkan “sepenuhnya ke arah cinta kepada Keagungan IlahiNya”.
  2. Adalah keterbukaan dan tekad merdeka kalau terarah pada Allah yang hidup (dan bukan pada gambaran Allah yang kita bawa). Dan sebaliknya, “Murni terbuka selalu berarti benar, tak mungkin “missing” sesuatu karena terbuka tidak mengesampingkan sesuatu melainkan “benda apapun di dunia ini dicintai, diinginkan, dan diusahakan melulu dan hanya demi Pencipta segalanya”. (Karl Rahner).

5. Kesungguhan dasar menjadi terang dasar, menjadi eviden bahwa telah bertemu disposisi manusia atas hidupnya dengan disposisi “Pencipta dan Tuhan”. Bedalah dari zaman ke zaman dan dari satu pengarang asketis ke pengarang yang lain, apakah pilihan waktu pertama amat sangat tidak biasa ataukah justru kebanyakan keputusan hidup malahan diambil sebagai pengalaman rahmat melulu. Dengan piihan waktu kedua, orang menempatkan alternatif keputusan yang akan diambil dalam keterarahan dasar sambil memuji bagaimana arah yang dipilih didorong oleh pengalaman yang disebut hiburan. Di jalan pilihan waktu ketiga, orang mengambil keputusan setelah menelaah dan memikir-mikirkan perkara yang dipertimbangkan dari segala aspek untuk memandang ke pihak manakah budiku lebih condong. Namun, akhirnya haruslah ia berdoa dengan sungguh-sungguh di hadapan Allah Tuhan kita dan mempersembahkan pilihan itu kepadaNya agar Keagungan Ilahi berkenan menerima dan memberi peneguhan…” (LR 182 + 183). Pilihan tidak untuk menentukan kwalitas moral atau asketis dari suatu usaha. Dalam pilihan terlaksana dan terwujud temu antar dinamika berbagi yang ilahi dengan dinamika melampaui diri manusia. Syukur.

Akhirulkata:

1. Perjumpaan dalam pilihan adalah peristiwa dasar sejarah keselamatan, efektif saat Dia yang adalah Pencipta sendiri telah sampai berkenan menjadi manusia, dst… Tidak ada pilihan selain dalam mengikuti dan menyerupai Kristus… – sebab dengan pilihan bukanlah ajaran agama atau aturan moral atau nilai religius yang ingin dihayati dan diteruskan melainkan hidup iman, yang adaah nyata dan pribadi.

2. Adapun pilihan, orang wajib mempertanggungjawabkan bagaimana pilihan ikut dalam berusaha agar hidup dalam lingkungan kita berlangsung terus secara manusiawi dan tetap memikul beban moral untuk melibatkan semua orang yang bersangkutan dalam usaha demi kepentingan bersama itu.