Doa kepada Kristus, Sang Guru Sejati Kita

(Doa disusun dengan inspirasi dari, Arrupe, P., “Doa kepada Kristus, Teladan Kita,” dlm. Teman dalam Perutusan, Yogyakarta, Kanisius, 1985, hal. 338-343; dan Martini, C., Perjalanan Rohani Keduabelas Murid: Menurut Injil Markus, Yogyakarta, Kanisius, 1991, hal. 28-67.)

lilin-lilin

Tuhan Yesus Kristus, dalam upaya kami untuk merefleksikan ‘pendidikan karakter manusia,’ kami ingin belajar dan berpaling pada apa yang telah Engkau tempuh di dalam mendampingi para muridMu yang terkasih. Selama masih hidup bersama Engkau di dunia, mereka tidak lebih hanya sebagai kelompok pemuda biasa. Mereka suka bertengkar untuk menentukan siapa yang paling besar di antara mereka (Mk. 9: 34; Lk. 9: 46). Bahkan mereka masih juga melakukan itu, ketika mereka mengikuti perjamuan terakhir bersamaMu (Lk. 22: 24). Di antara mereka belum pula terwujud kesatuan hati dan budi. Dapat kami bayangkan bagaimana Simon orang Zelot (Mk. 3: 18) membangun relasi dengan Mateus (Mt. 9: 9). Simon adalah bekas anggota kelompok yang berjuang untuk mengangkat senjata melawan pemerintah Romawi, sementara Mateus adalah bekas pemungut cukai yang bekerja untuk pemerintah Romawi. Perhatian mereka juga masih terpusat pada kepentingan diri sendiri. Itu tampak dalam diri Yohanes dan Yakobus yang suatu saat minta untuk ditempatkan di sebelah kanan dan kiriMu (Mk. 10: 37). Mereka menutup mata terhadap kesepuluh rekan yang lain, sampai akhirnya kesepuluh rekan lain itu pun marah kepada mereka (Mk. 10: 41). Mereka belum bijaksana dan tindakan mereka belum membangun satu sama lain. Di samping itu, mereka sering tidak paham akan apa yang Engkau maksudkan. Mereka bertanya-tanya akan arti di balik perumpamaan tentang seorang penabur (Lk. 8: 9). Pada suatu kesempatan, mereka pun bertanya, “Apakah artinya Ia berkata: Tinggal sesaat saja? Kita tidak tahu apa maksudnya” (Yoh. 16: 18). Mereka juga sering keliru menangkap pesan-pesanMu. Pada waktu Engkau memperingatkan mereka untuk berhati-hati terhadap ragi orang Farisi dan Saduki, mereka malah mengaitkannya dengan ragi roti (Mt. 16: 6-7). Ketika akhirnya mereka melihat sendiri bagaimana Engkau membuat mukjijat dengan menggandakan roti dan ikan, mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil (Mk. 6: 52). Beberapa dari antara mereka pun sering dipenuhi dengan tanda tanya. Yudas Tadeus tidak dapat memahami mengapa Engkau tidak menyatakan diri kepada dunia (Yoh. 14: 22), Tomas merasa tidak tahu ke mana Engkau pergi (Yoh. 14: 5), dan Filipus serta Andreas tidak tanggap ketika Engkau menanyakan tentang makanan untuk orang-orang yang mendengarkan pengajaranMu (Yoh. 6: 5-9).

Sedemikian seringnya mereka tidak mengerti apa yang Engkau maksudkan, sampai-sampai mereka sering merasa segan untuk menanyakan kepadaMu (Mk. 9: 32). Mereka memang belum memiliki pengetahuan batin yang mendalam. Iman mereka pun masih dangkal. Di hadapan mereka yang begitu lamban untuk mengerti, Engkau tidak segan memberi peringatan keras. Kepada mereka, Engkau menegur, “Bagaimana mungkin kalian tidak mengerti” (Mt. 16: 11). Ketika Filipus berkata, “Tuhan tunjukkanlah Bapa itu kepada kami,” Engkau memberi suatu jawaban yang tajam, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?” (Yoh. 14: 8-9). Teguran juga Engkau sampaikan kepada Yohanes, karena ia mencegah seseorang yang telah mengusir setan demi namaMu (Mk. 9: 39). Pada waktu Simon Petrus menarik Engkau ke samping akibat dari kata-kataMu tentang penderitaan, Engkau pun berseru lantang, “Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia!” (Mt. 16: 22-23). Meskipun demikian, tidak jarang Engkau juga bersikap lembut kepada mereka. Di suatu saat, Engkau menguatkan mereka, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut” (Mk. 6: 50). Ketika mereka saling bertengkar, Engkau menyadarkan mereka dengan membawa seorang anak kecil ke tengah mereka, sambil berkata, “Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Lk. 9: 48). Acap kali Engkau juga memberi semangat dan motivasi untuk tetap maju. Kepada Natanael, misalnya, Engkau berkata, “Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar…!” (Yoh. 1: 50). Bahkan, ketika Engkau diminta oleh beberapa orang Farisi untuk menegur mereka, tidak segan Engkau membela mereka (Lk. 19: 39-40).

Engkau mendidik mereka tidak hanya dengan kata-kata saja. Di hadapan mereka, Engkau menunjukkan keputusan-keputusan konkret melalui keutamaan-keutamaanMu yang luhur. Mereka pun menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana Engkau bersikap terhadap Yudas Iskariot (Mt. 26: 25), dan bertindak dalam belas kasih terhadap orang banyak yang terlantar (Mt. 9: 36), terhadap janda yang ditinggal anak tunggalnya (Lk. 7: 13), serta terhadap orang-orang sakit (Mt. 14: 14), termasuk terhadap Bartimeus yang buta (Mk. 10: 51-52). Pendidikan dalam bentuk keteladanan menjadi jelas ketika Engkau membasuh kaki mereka (Yoh. 13: 5). Di saat itu, Engkau berkata, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki” (Yoh. 13: 13). Lepas dari kualitas hidup mereka yang tidak selalu sesuai dengan harapanMu, Engkau tetap berseru, “Ikutlah Aku!” Engkau pun tetap memberi kepercayaan penuh kepada mereka. Engkau tetap memberi mereka kuasa, dan mengutus mereka ke tengah orang banyak (Mk. 6: 7). Demi mereka, Engkau telah memanjatkan doa yang begitu menyentuh kepada BapaMu di surga (Yoh. 17: 1-26). Engkau sungguh mengasihi mereka.

Menjelang kepergianMu dari dunia, Engkau berjanji akan mengutus Roh Penghibur (Yoh. 16: 7), yaitu Roh Kudus sendiri (Lk. 24: 49). Setelah tidak lagi bersama mereka secara fisik, Engkau pun rajin menampakkan diri kepada mereka (Lk. 24: 13-35, 36-49; Yoh. 20: 19-23). Khusus kepada Tomas yang penuh keraguan, Engkau memulihkan imannya, “Jangan engkau tidak percaya lagi, tetapi percayalah!” (Yoh. 20: 27) dan akhirnya ia pun mampu menjawab, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20: 28). Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah mendidik para murid dan mengubah mentalitas mereka. Semula mereka menganggap diri besar, tetapi kemudian mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya sangat kecil. Mereka mampu membuat banyak mukjijat (Kis. 5: 12); dan itu dilakukan bukan dalam nama mereka sendiri, tetapi dalam namaMu. Semula mereka berjiwa kecil, tetapi kemudian mereka mampu menunjukkan jiwa yang besar. Yohanes dan Petrus tidak gentar untuk memberi kesaksian tentang Engkau di hadapan Mahkamah Agama (Kis. 4: 13). Mereka pun dengan berani memberitakan firmanMu yang Kudus (Kis. 4: 31). Bahkan mereka merasa bergembira karena boleh dianggap layak untuk menderita penghinaan oleh karena NamaMu (Kis. 5: 41).

Demikianlah, berkat pendidikanMu, mereka mampu memiliki iman yang murni, dan pengetahuan yang bijak, serta tindakan yang membangun semua pihak. Pendidikan yang Engkau lakukan terhadap para murid dialami pula oleh St. Ignasius. Ia sungguh merasakan bahwa BapaMu sendirilah yang telah menempatkannya bersama dengan Engkau (Autobiography, 96). Kami mohon kepadaMu, ya Kristus, agar Engkau berkenan melimpahkan berkat dari BapaMu di surga, dan mencurahkan Roh Kudus, sedemikian rupa sehingga kami mampu belajar dari mereka semua, dan dengan rahmatMu, akhirnya kami boleh merasakan transformasi yang menyeluruh di dalam roh, jiwa, dan tubuh kami. Engkaulah Sang Guru Sejati kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.