APTEP 2015 Berita UIN

Calon Pastor dan Biarawati Belajar Islam di UIN Jakarta

(sumber: http://www.uinjkt.ac.id/index.php/arsip-berita-utama/3038-calon-pastor-dan-biarawati-belajar-islam-di-uin-jakarta.html”)

Gedung PPIM, BERITA UIN Online Sejumlah calon pastor dan biarawati Katolik belajar tentang Islam dan masyarakat Muslim di UIN Jakarta melalui program Asia Pasific Theological Encounter Program (APTEP). Beberapa guru besar dan dosen UIN Jakarta menjadi narasumber pembelajaran tersebut.

Dr JB Heru Prakosa SJ, salah satu panitia kegiatan menuturkan, kegiatan pembelajaran Islam dan masyarakat Muslim berlangsung sejak 20 April-20 Mei di Jakarta dan Yogyakarta. Total sebanyak 14 pastor dan dua suster biarawati asal Thailand, Filipina, dan Indonesia menjadi peserta kegiatan.

Menurut Heru, pembelajaran bertujuan membangun jembatan pemahaman dan dialog antar umat beragama, khususnya Katolik dengan Umat Muslim.

“Selain itu, kegiatan ini dilaksanakan untuk merespon tantangan dari Gereja Katolik dalam konteks Asia seperti kemiskinan, pluralisme agama-agama, dan kemajemukan budaya,” tuturnya di Jakarta, Selasa (21/4/2015).

Beberapa guru besar dan dosen UIN Jakarta seperti Prof Dr Azyumardi Azra, Prof Dr Atho Mudzar MSPD, Dr Yusuf Rahman MA, Dr Fuad Jabali MA, Dr Amelia Fauzia MA, Dr Ali Munhanif, dan Dr. Yeni Ratna Yuningsih menjadi narasumber. Mereka menyampaikan materi seperti Al-Qur’an dan Tafsir, Sejarah Islam, Hukum Islam, Hadits, Teologi Islam, Filsafat Islam dan Tasawuf.

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan memadukan perkuliahan, diskusi, dan kunjungan ke berbagai pusat studi keislaman. Harapannya, para peserta beroleh kesempatan belajar dan berdialog langsung dengan pihak-pihak yang berbeda iman. Melalui itu, peserta diharapkan terdorong mengembangkan teologi kontekstual.

Gregorius Soetomo, panitia lain menambahkan, pelatihan APTEP telah berlangsung empat kali dengan desain kegatan yang memungkinkan peserta belajar dan berdialog langsung tentang Islam dengan para tokoh terkait.

“Medan perjumpaan dalam komunitas Muslim yang telah kami coba bangun sejauh ini pun amat variatif, bahkan kami pernah berkunjung dan belajar di Pesantren Tebuireng dan Pesantren Ciganjur,” jelasnya. (tam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *