CELAKA

Dalam Injil, berulang kali kita temukan bagaimana Yesus menggunakan mengecam orang-orang tertentu dengan kata “celaka”. Apakah kita dapat mengatakan, bahwa untuk sementara orang, Yesus sepertinya tidak menyampaikan “Kabar Gembira”, melainkan “Kabar Celaka”.

UCAPAN atau kata-kata celaka ini sudah dikenal dalam tradisi kenabian di Israel. Dalam kitab Yesaya maupun Yeremia, kata-kata ini digunakan untuk melawan beberapa orang atau bangsa tertentu. Memang terkesan keras. Lantas yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Yesus menggunakan kata-kata keras semacam ini?

Memang, mula-mula Yesus menggunakan kata-kata ini untuk mengkritik dengan tajam inkonsistensi hidup para pemimpin jemaat dan ahli taurat. Akan tetapi, kata-kata ini juga digunakan Yesus dalam konteks pengajaran atau memberi wejangan kepada para murid dan orang-orang yang sedang mendengarkan penjelasannya.

Kalau kita perhatikan Mat. 23, ada delapan ucapan celaka yang dilontarkan Yesus untuk menanggapi hidup para ahli taurat dan orang Farisi. Empat ungkapan pertama memang ditujukan kepada kelompok ini. Mereka dikritik Yesus karena sebagai guru, telah menyesatkan banyak orang. Mereka adalah orang-orang yang punya kedudukan dalam status sosial atau kalau dalam Injil ini dikatakan menduduki kursi Musa. Akan tetapi status yang dimiliki tersebut justru berbanding terbalik dengan sikap perbuatan mereka yang tidak layak ditiru. Misalnya, di satu sisi mereka suka berdoa berlama-lama tetapi di waktu yang sama, mereka melakukan ketidakadilan kepada para Janda. Doa mereka hanya dimaksud untuk menutupi kejahatan yang mereka lakukan.

Selanjutnya empat ungkapan lainnya ditujukan kepada para murid dan orang-orang yang mendengarkan pengajaran Yesus. Pada bagian ini nuansanya lebih untuk mengingatkan atau mewanti-wanti mereka karena biar bagaimanapun, para murid dan orang yang mendengarkan ini kalau tidak hati-hati bisa jatuh pada sikap inkonsisten seperti orang Farisi dan Ahli Taurat yang ditunjukkan Yesus. Untuk itulah, para murid dan pengikutnya diingatkan terus menerus agar para murid ini sadar agar tidak menjadi orang yang munafik dan inkonsisten.

Saya rasa, poin yang hendak ditunjukkan Yesus dalam hal ini cukup jelas, yaitu agar kita menjadi pribadi yang konsisten antara apa yang kita ucapkan dengan apa yang kita lakukan. Terkadang tanpa disadari kita mudah membuat perencanaan macam-macam tetapi kurang kuat dalam melakukan eksekusinya. Tentunya hal ini membutuhkan latihan dan sikap tegas untuk memulai. Rencana yang indah dan baik tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada diimbangi dengan tindakan nyata. Saya sendiri juga menyadari bahwa terkadang kita gampang membuat usulan atau menyuruh orang lain melakukan sesuatu tetapi kita tidak mampu melakukannya.

               Di sinilah kita sedang berproses untuk semakin menjadi pribadi yang konsisten dan dewasa. Orang yang konsisten adalah orang yang memahami visi hidupnya dan memperjuangkannya. Maka, baiklah kalau kita tidak jemu-jemu memohon rahmat kehendak kuat agar segala niat baik atau visi yang sudah kita bangun dapat kita laksanakan dengan penuh tanggung jawab.

Hugo Bayu Hadibowo, SJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *