MENGAPA KEMUNAFIKAN MEMBAWA KITA PADA KESEDIHAN?

Begitu keras Yesus mengecam para ahli Taurat dan orang-orang Farisi: “Celakalah kamu, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu orang-orang munafik!” Jika kita membaca teksnya secara lengkap, lih. Mat.23, kita segera memahami: Mereka celaka karena bersikap munafik, sebagaimana Yesus katakan. Bagaimana kita mendefinisikan kemunafikan dan mengapa Yesus memiliki keluhan serius tentang perilaku tersebut?

MENURUT The New Catholic Encyclopaedia, kemunafikan adalah bentuk “simulasi” (kepura-puraan) atau tindakan kebohongan. Dalam pengertiannya yang paling ketat, kemunafikan adalah simulasi orang yang ingin terlihat, tetapi nyatanya tidak, berbudi luhur. Ini adalah dosa serius karena menunjukkan ketidakpedulian dan penghinaan terhadap kebajikan, sementara pada saat yang sama menggunakannya untuk keuntungan diri. Alkitab memberi gambaran seorang munafik sebagai seseorang yang mengenakan topeng dan berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Kita dapat menemukan bahwa banyak tokoh dalam Alkitab, mulai dari Nabi Yesaya hingga para Rasul, prihatin dengan praktik kepura-puraan atau praktik mengklaim memiliki standar moral atau kepercayaan tertentu, tapi berperilaku tidak sesuai dengan standard yang diklaim tersebut.

Dalam Majalah Rohani edisi Agustus 2019, Franz Magnis-Suseno menulis artikel berjudul “Kekuasaan, Homoseksualitas, Kemunafikan”. Artikel ini ditulis setelah pembacaan Rm. Magnis terhadap buku Frédéric Martel, seorang jurnalis Prancis: In Closet of the Vatican: Power, Homosexuality, Hypocrisy (2019). Buku ini tentang Vatikan sejak Paus Paulus VI. Martel menunjukkan ketegangan aneh pada Gereja Katolik: di satu sisi, Gereja mempertahankan seperangkat etika seksual yang sangat kuat atau kaku, tetapi di sisi lain, Gereja bersikap lunak atau lunak untuk praktik-praktik homoseksualitas di antara para imam dan uskup. Kontradiksi inilah yang disebut Martel sebagai kemunafikan. Mereka yang paling menentang homoseksualitas adalah mereka yang paling mungkin homoseksual.

Kemunafikan adalah dosa serius yang dengan mudah menjebak orang-orang beragama, terutama kaum agamawan atau religius. Di zaman Yesus, mereka adalah para pemimpin agama, orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Masyarakat melihat kaum religius sebagai model atau bahkan penjaga moral. Namun, dalam sejarah, dan juga sekarang, kita menemukan bahwa banyak dari kaum religius berperilaku dengan cara yang bertentangan dengan status mereka. Kontradiksi tentang bagaimana Gereja menangani homoseksualitas, sebagaimana disebutkan oleh Martel, hanyalah salah satu bentuk kemunafikan. Kemunafikan adalah batu sandungan bagi orang-orang yang beritikad baik, membuat orang yang jujur ​​tidak memberikan diri mereka pada keutamaan, dan membuat keutamaan tampak jahat dan jelek. Itulah mengapa Yesus memiliki keluhan serius tentang perilaku munafik.

Namun demikian, kemunafikan ternyata tidak hanya buruk bagi orang lain, tetapi juga berbahaya bagi pelakunya. Mgr. Charles Pope mengatakan bahwa pemahaman Alkitab tentang kemunafikan lebih kaya daripada pengertian modern tentang kemunafikan. Pengertian modern melihat orang munafik sebagai seseorang yang mengatakan satu hal tetapi melakukan hal lain, orang yang bermuka dua, yang tidak konsisten atau palsu. Dalam Kitab Suci, kata yang diucapkan oleh Yesus berakar pada makna asli dari kata Yunani ὑποκριταί (hypokritai) yang berarti “aktor panggung”. Yesus menggambarkan kemunafikan sebagai keadaan menyedihkan seseorang yang mereduksi dirinya menjadi aktor di atas panggung. Termasuk makna kemunafikan ini adalah banyak orang yang menjalani hidup mereka dalam pencarian (yang membawanya pada keputusasaan) demi persetujuan dan tepuk tangan manusia.

Menurut teori Hidup yang Baik, misalnya dikemukakan Paul Bloomfield dalam bukunya The Virtues of Happiness (2014), setiap manusia secara ontologis harus menjadi orang yang berkeutamaan. Setiap tindakan yang menentang tindakan keutamaan berbahaya bagi diri sendiri karena secara ontologis bertentangan dengan diri sejati kita. Kemunafikan adalah tindakan simulasi yang paling buruk, karena melacurkan karya keutamaan. Karena itu, kemunafikan merugikan diri sendiri dan akan menyebabkan pelaku pada kesedihan dan keputusasaan, bukan kebahagiaan.

Maka, kita bisa simpulkan: keputusasaan adalah hasil akhir dari menjadi munafik. Yesus ingin agar kita tidak menentang diri sejati kita sehingga kita dapat menemukan kebahagiaan, hari ini dan di kemudian hari. Mari kita mohon rahmat Tuhan agar kita dapat belajar dan melatih diri kita untuk menjadi lebih baik dan menjauh dari kecenderungan menjadi munafik.

Martinus Dam Febrianto, SJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *