BIJAK MENYIAPKAN DIRI

Kita mendengar di media massa, Presiden Jokowi secara resmi mengumumkan pemindahan ibukota negara. Ia menyebutkan bahwa ibukota negara baru akan berada di sebagian kawasan Kabupaten Kutai Kartanegara dan sebagian kawasan Kabupaten Penajam Paser Utara. Melalui pengumuman tersebut, pemerintah pun secara resmi mulai mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk segera memindahkan ibukota negara.

KITA boleh yakin, persiapan yang dilakukan Pemerintah tentu sudah dilakukan jauh sebelum pengumuman resmi. Penelitian tentu sudah dilakukan untuk memastikan kelayakan kawasan di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara tersebut. Misalnya saja, faktor keamanan dari bencana, dampak sosial ekonomi bagi warga ibukota baru, dsb. Pasca pengumuman pun, segala persiapan pemindahan ibukota perlu dilakukan. Perlu segera dilakukan pembangunan infrastruktur seperti gedung-gedung pemerintahan, akses transportasi, maupun hunian bagi para pegawai pemerintah. Perlu juga undang-undang untuk menjamin legalitas pembangunan ibukota baru.

Apabila Pemerintahan Jokowi dapat mempersiapkan segala sesuatu terkait pemindahan ibukota negara ini dengan baik, kiranya Pemerintah dapat disejajarkan dengan kisah lima gadis bijak yang menyambut sang mempelai laki-laki dalam Mat. 25:1-13. Dengan setia gadis-gadis ini menunggu sang mempelai laki-laki dengan pelita dan minyak dalam buli-buli yang sudah siap di tangan mereka (ay. 4). Ketika sang mempelai datang, mereka pun dengan siap sedia menyambut kedatangannya. Nah, apabila pemerintahan Jokowi menunda-nunda persiapan sehingga pemindahan ibukota negara baru mundur dari target yang sudah direncanakan sejak awal, kita bisa menyejajarkannya dengan lima gadis bodoh yang membawa pelita tapi tidak membawa minyak (ay. 3).

Perumpamaan mengenai gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh mengajak kita untuk bersikap siap sedia terhadap kedatangan Kerajaan Surga. Sikap siap sedia yang dimaksudkan adalah sikap diri dengan seluruh hati, budi, dan tindakan selalu terarah pada Allah.  Hanya Allah saja yang menjadi pusat segala arah dan tujuan hidup kita. Allah yang kita tuju itu membawa Kerajaan-Nya hadir di dunia dalam diri Yesus Kristus. Kerajaan-Nya sudah dekat di antara kita karena Allah telah berinkarnasi menjadi manusia. Ia sudah hadir dalam diri Yesus Kristus di dunia melalui keseluruhan totalitas hidup-Nya sampai menderita, wafat dan bangkit. Kerajaan Surga itu pula yang akan mengalami kepenuhannya pada saat kedatangan Yesus untuk kedua kalinya.

Pertanyaan bagi kita, apakah kita telah senantiasa siap sedia atas kehadiran Kerajaan Surga yang dijanjikan oleh Allah dalam diri Yesus Kristus? Persiapan macam apa yang sudah dan akan terus dilakukan demi menyambut Kerajaan Surga? Saya kira yang lebih penting bukan soal kita siap atau tidak siap, melainkan soal bagaimana mempersiapkannya. Pertanyaan tentang bagaimana mempersiapkannya ini menuntut sikap yang lebih dari diri kita.  Misalnya, pelita dan kualitas minyak macam apa yang kita bawa dan siapkan?  Dari situ, kita diajak untuk terus memikirkan kualitas minyak yang terbaik, yang mampu bertahan lama dan membuat pelita menyala terang.

Saudara-saudari, Kerajaan Allah sudah hadir dan akan mencapai kepenuhannya pada saat kedatangan Yesus kali yang kedua. Pertanyaan bagi masing-masing dari kita, “Persiapan macam apa yang sudah dan akan terus aku lakukan demi menyambut kedatangan-Nya itu?”

Alfonsus Ardi Jatmiko, SJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *