DISEMBUHKAN UNTUK MELAYANI

Melalui Injil, kita membaca bagaimana Yesus bekerja, mengajar, dan hidup di antara orang-orang Israel, terutama dengan orang-orang Galilea. Ambil contoh, di Kapernaum, Yesus datang untuk mengunjungi Ibu Mertua Simon yang sakit demam tinggi (Mat. 8:14–15; Mrk. 1:29–31; Luk. 4:38–41). Dia menegur demam itu dan menyembuhkan perempuan itu. Yesus pun menjadi tabib bagi orang-orang sakit lainnya di kota itu.

SECARA pribadi, saya tersentuh oleh kisah Yesus yang menyembuhkan mertua Petrus ini. Kisah ini mengingatkan saya pada beberapa peristiwa dan pengalaman saya sendiri. Belum lama ini, seorang sepupu tiba-tiba merasakan sakit di dada dan mengalami sesak napas. Dia dilarikan ke rumah sakit dan menjalani pemeriksaan medis. Ternyata, arteri koronernya tersumbat oleh plak yang membawanya pada serangan jantung. Saudara saya ini, di usianya yang baru 41 tahun,  mendapat pemasangan tiga ring di pembuluh jantungnya. Syukur kepada Tuhan, dia selamat dari serangan tersebut. Tentu saja, ia butuh beberapa minggu istirahat sebelum kembali beraktivitas.

Pengalaman yang lain adalah sebagai berikut. Salah satu grup WhatsApp di ponsel saya begitu sibuk dengan komentar dan keluhan tentang rencana Pemerintah untuk menaikkan biaya asuransi BPJS. Setelah mencari informasi tentang masalah itu, saya mengetahui bahwa sebenarnya selama beberapa tahun pemerintah telah mengalami kerugian Rp 19 miliar untuk bantuan medis dan perawatan melalui BPJS.

Terlepas dari banyak pro dan kontra yang terjadi, dari dua pengalaman di atas kita boleh yakin bahwa setiap orang perlu peduli dengan kesehatan diri. Usia muda jaminan bebas dari penyakit yang biasanya menyerang orang yang sudah berumur. Usia bukanlah penyebab utama menurunnya vitalitas manusia. Menjadi sehat adalah soal gaya hidup. Dari dua pengalaman itu saya kira kita juga boleh yakin bahwa setiap manusia merindukan tabib. Dalam hal ini, tabib yang hebat. Injil menggambarkan Yesus sebagai tabib itu.

Michael Amaladoss dalam bukunya The Asian Jesus (2005) menulis bahwa kisah penyembuhan Yesus dalam Injil menunjukkan wajah welas asih Yesus. Ini adalah dimensi feminin dalam Tuhan dan dalam Yesus. Dalam belas kasihan Yesus, aspek femininlah yang mendominasi. Yesus sebagai penyelamat menunjuk pada aspek feminin dari kepedulian, kasih, melayani, dan memberi diri.

Amaladoss juga menyatakan perbedaan antara Yesus dan dokter biasa lainnya dalam peran sebagai tabib. Penyembuhan Yesus adalah perawatan total. Dia menyembuhkan tidak hanya aspek fisik, tetapi juga psikologis, spiritual, dan sosial dari orang-orang. Singkatnya, penyembuhan itu terkait erat dengan keselamatan, pendalaman iman, dan rekonsiliasi.

Khusus untuk ibu mertua Simon, demam tinggi itu (menurut Alamadoss) adalah simbol kekecewaan atas keputusan Simon untuk mengikuti Yesus dan meninggalkan putrinya (istri Simon). Sebelum penyembuhan, kita dapat membayangkan seorang wanita yang putus asa, mungkin juga marah dan penuh kebencian kepada Yesus.

Penyembuhan yang dialami akhirnya mengubah hatinya untuk memahami lebih banyak tentang situasinya, keputusan Simon, dan misi Yesus dengan murid-muridnya. Itu adalah momen rekonsiliasi. Demam itu bukan hanya penyakit biologis. Pada akhirnya, kita dapat melihat dalam cerita bahwa ibu mertua Simon bangun, menjadi pelayan bagi para murid dan orang-orang sakit lainnya.

Dari kisah Yesus Sang Penyembuh dan Ibu Mertua Petrus yang mengalami kesembuhan, kita diundang untuk setidaknya dua hal. Pertama, untuk mengungkapkan diri kita sebagai “orang sakit” di hadapan Allah. Kedua, kita diundang untuk menjadi alat Tuhan di dunia ini. Kita dindang untuk menjadi hospital: melayani siapa saja yang membutuhkan keramahtamahan, ruang untuk memahami rahmat Tuhan, dan waktu untuk didengarkan atau diperhatikan.

Harry Kristanto, SJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *