GRETA

Setiap pilihan sikap dan tindakan, apalagi kalau memberi pengaruh signifikan, akan selalu mengundang penilaian atau reaksi orang lain. Bisa jadi penilaian atau reaksi itu positif, bisa pula negatif.

APAKAH Anda mengikuti berita mengenai Global #ClimateStrike? Atau, malah terlibat di situ? Di lebih dari 150 negara, “young climate strikers” bersama masyarakat dunia menuntut diakhirinya “zaman bahan bakar fosil”. Mereka menuntut apa yang disebut sebagai “climate justice”, yaitu keadilan bagi semua, terutama generasi mendatang, untuk dapat tinggal di dunia dengan iklim yang mendukung kehidupan mereka. Kebijakan politik, kepentingan bisnis, dan perilaku manusia zaman ini dianggap tidak ramah lingkungan dan merusak bumi: membuat manusia di tahun 2050 nanti hidup menderita.

Berbicara mengenai gerakan ini, perhatian pun tidak luput terhadap si gadis muda yang masih di bawah umur, Greta Thunberg, yang menginspirasi gerakan ini. Siapakah Greta ini? Mulai Agustus 2018, pada usia 15 tahun, ia memilih untuk bolos sekolah tiap Jumat, berdemonstrasi di depan Parlemen Swedia, menuntut sikap dan tindakan lebih kuat untuk mengatasi perubahan iklim.

Pada 23 September 2019, Greta berpidato di hadapan para pemimpin dunia yang berkumpul di KTT Climate Action PBB 2019 yang diadakan di New York. Ia menuduh para pemimpin dunia mencuri mimpinya dan masa kecilnya karena tidak bertindak atas perubahan iklim. Ia bahkan melontarkan kata-kata pedas: “How dare you!” “We will never forgive you”. 

Pernyataan yang keras ini mengundang reaksi beragam. Banyak yang mendukung, tetapi orang-orang skeptis mengritik, bahkan mengejek. Salah satunya adalah Michael Knowles, komentator di jaringan Fox News—jaringan TV favorit Donald Trump—yang menyebut Greta sebagai “mentally ill Swedish Child”. Pernyataan ini mengundang reaksi keras pula, sehingga Fox News perlu membuat pernyataan maaf.

Setiap pilihan sikap, tindakan atau karya yang signifikan akan selalu mengundang penilaian, anggapan, dan reaksi orang. Yesus, yang mewartakan Kerajaan Allah, menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat, bahkan membangkitkan orang mati, mengalami hal yang sama. Orang banyak punya penilaian atau anggapan terhadap Dia. 

Yang kita dengar dalam Injil (Luk. 9:19-20) adalah penilaian dan anggapan yang positif. “Kata orang banyak, siapakah Aku?” Dan, para murid menjawab: Yohanes Pembaptis, Elia, seorang dari nabi-nabi terdahulu. Mungkin karena yang ditanya adalah para muridnya, jawaban yang disampaikan bernada positif, meskipun didasarkan pada anggapan orang banyak. Namun, kalau kita mengingat bagian Injil yang lain (Misalnya: Luk. 7:34), orang-orang juga mengatakan Yesus sebagai pelahap, peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.

Beragam reaksi dan penilain mungkin muncul karena perbedaan pengalaman, pemahaman, juga kepentingan. Banyak orang tidak mengakses berita atau temuan-temuan ilmiah mengenai krisis lingkungan. Para pemimpin politik fokus pada soal pertumbuhan ekonomi. Korporasi-korporasi mementingkan bisnis mereka. Mereka menjadi skeptis terhadap kampanye perubahan iklim. Sementara para pegiat lingkungan melihat Greta sebagai calon alternatif penerima Nobel, orang-orang ini melihatnya sebagai anak kecil sakit mental yang telah dimanipulasi oleh jaringan sayap kiri internasional. 

Reaksi atau macam-macam penilaian tampaknya menjadi risiko tak terelakkan bagi orang-orang yang memilih bertindak. Mungkin, kalau hanya ingin hidup aman dan tidak ingin mendapat reaksi negatif, kita tinggal di rumah saja, tidak melakukan apa-apa, tidak mengatakan apa-apa. Tapi itu pun mungkin masih akan mendatangkan reaksi dan penilaian. Maka, apabila kita merasa benar akan sesuatu yang pantas diperjuangkan, mengapa takut untuk mengupayakannya. Yesus Tuhan kita melakukannya. Greta Thunberg melakukannya. Marilah menjadi para pengikut Kristus sejati: berani mengambil sikap, berani mengambil tindakan, berani menjadi pelaku.

Martinus Dam Febrianto, SJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *