Hantu Ketidakpastian

Beberapa bulan yang lalu, saya mengikuti pertemuan Asia Pacific Contextual Engagement Program (APCOTEP) di Marawi, Filipina. Selama mengikuti kegiatan tersebut, ada banyak hal yang tak terduga saya alami.

MISALNYA, baru dua jam menginjakkan kaki di Marawi, kami harus segera meninggalkan kota itu. Waktu  itu, kami tiba di Marawi menjelang jam 3 siang. Sekitar jam 5, kami harus pindah tempat. Padahal, seharusnya kami tinggal di Marawi selama 4 hari. Apa boleh buat, oleh pertimbangan keamanan, kami dan peserta lainnya harus “mengungsi” ke Cagayan de Oro, waktu tempuh sekitar 4 jam dari Marawi. 

Ada begitu banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencana atau perkiraan semula. Bagi saya sebagai orang yang menjalani hidup dalam panggilan religius, ini adalah bagian dari proses menjalani dan menghayati hidup sebagai orang terpanggil. Sewaktu di Novisiat dahulu, pembimbing kami pernah mengatakan, hidup sebagai orang berkaul (ketaatan, kemiskinan dan kemurnian) berarti hidup yang siap untuk menghadapi “hantu ketidakpastian”. Ada banyak hal yang sifatnya tidak pasti. Kita perlu belajar untuk setia dalam ketidakpastian. Soal ketidakpastian ini juga merupakan bagian dari setiap jalan dan penggilan hidup kita di dunia ini, apa pun itu.

Mengikuti Yesus berarti siap menghadapi segala ketidakpastian. Ada banyak pengalaman, tantangan, maupun kesulitan yang kita hadapi. Kita tidak pernah tahu tentang bagaimana tantangan zaman selanjutnya. Terkadang hati kita terasa pilu mendengar atau membaca berita tentang krisis kemanusiaan, ketidakadilan, krisis lingkungan, peperangan dan sebagainya. Orang seakan-akan sudah tidak mempunyai lagi hati nurani dan bertindak berdasarkan egonya saja. Inilah realita yang terus akan kita hadapi.

Meskipun demikian, bukan berarti kita menyerah begitu saja. Bagi saya kuncinya adalah berani setia dan berjuang bersama Kristus dalam ketidakpastian. Dalam bahasa Latihan Rohani St. Ignatius, menghadapi tantangan-tantangan ketidakpastian memerlukan jiwa besar dan hati rela berkorban. 

Aluisius Dian Permana, SJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *