MENJADI SEPERTI ANAK KECIL

Belakangan ini, media massa, baik cetak maupun digital, termasuk media-media sosial dipenuhi oleh berbagai jenis narasi terkait dengan persoalan bangsa Indonesia. Misalnya, berbagai narasi seputar UU KPK dan RUU lain yang kontroversial (RKUHP, RUPKS, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual), kebakaran hutan, rasisme, atau rumor kebangkitan komunisme. Semuanya ditampilkan ke publik secara bersama-sama. 

MUNGKIN kita jadi bingung dengan banyaknya narasi yang ada, sehingga tidak mudah bagi kita untuk menemukan mana yang benar, mana yang tidak betul. Masing-masing narasi membawa klaim kebenarannya sendiri-sendiri.

Dalam Injil Lukas (9:46-48), dikisahkan para murid yang bertengkar satu sama lain. Mereka berdebat mengenai siapa yang terbesar di antara mereka. Kisah pertengkaran ini memiliki keterkaitan dengan kisah Yesus yang dipermuliakan di Gunung Tabor. Kisah di Gunung Tabor adalah penegasan bahwa misi Yesus bukanlah untuk mencapai ketenangan di atas gunung, melainkan untuk terlibat dalam pelayanan kepada anak-anak Allah di dunia yang kompleks dengan segala persoalannya. Usaha keterlibatan ini membawa pada pertengkaran di antara para murid tentang siapa yang terbesar di antara mereka. 

Ternyata, para murid membutuhkan status dan pengakuan. Akan tetapi, sikap Yesus menunjukkan disposisi yang berkebalikan dengan apa yang dipikirkan oleh para murid. Yesus merespon mereka dengan mengatakan, “.. Yang terkecil di antara kamu, dialah yang terbesar ” (Luk. 9:48). Bagi Yesus, anak kecil dan mereka yang tidak berdaya dan “paling kecil” di mata dunia adalah yang berharga bagi Kerajaan Allah. 

Dalam tradisi masyarakat Yahudi, anak kecil itu tidak mempunyai hak hukum atau kedudukan dan sama sekali harus tergantung pada orang tuanya. Anak menerima segalanya sebagai suatu anugerah. Makna tersirat dari simbol anak kecil ialah bahwa tak seorang pun, kendati memiliki kedudukan, status sosial yang tinggi, atau berpangkat, mempunyai jaminan akan masuk ke dalam kebahagiaan bersama Allah dalam makna eskatologis. Dengan kata lain, sekalipun kita sudah menjadi murid bahkan menjadi pewarta Sabda Allah, hal tersebut tidak menjamin kita akan bahagia di kehidupan mendatang (eskatologis). 

Kita kerap kali jatuh seperti yang dialami oleh para murid, yakni mencari status, kepentingan dan pengakuan diri, mungkin juga kesuksesan, tetapi melupakan esensi dasar perutusan kita bahwa kita diutus Kristus menjadi pewarta sabda-Nya bagi mereka yang kecil, tersingkir, menderita dari dunia yang kompleks ini. Maka yang utama dan terutama ialah Kristus sendiri dan bukan diri kita atau kepentingan pribadi yang kita miliki.

Nah, berhadapan dengan situasi Indonesia yang seringkali mencemaskan sekaligus membingungkan ini, sikap apa yang kiranya perlu kita ambil? Apakah seperti para rasul dahulu yang masih sibuk soal status dan kepentingan pribadi/kelompok? Ataukah kita mengambil sikap seperti anak kecil di hadapan bapanya? 

Sikap sebagaimana seorang anak dalam hal ini adalah dengan menyingkirkan dulu kepentinganku, untuk mau sungguh melihat dan mendengarkan apa yang sedang terjadi, lalu menimbang-nimbang soalnya dengan Tuhan sendiri. Dengan itu, kita dapat sampai pada kebijaksanaan dan kemendalaman, sehingga dengan demikian mampu melihat dengan jernih persoalan yang ada. Dari situ, kemudian kita menentukan sikap serta pilihan-pilihan yang tepat. Sebagai murid Kristus, itu berarti pilihan yang semakin membantu orang untuk peduli dengan sesamanya yang miskin, kecil, tersingkir, dijadikan korban.

Martinus Juprianto B.T., SJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *