Cinta sebagai Dedikasi Total

Bagi kita para muda-mudi, mungkin sering mendengar ungkapan, “Cuma kamu yang ada di hatiku.” Atau, kalau anak-anak dari Papua akan bilang. “Di hati ini cuman ko saja trada yang lain.”  Ini mungkin ungkapan gombal belaka, tapi mungkin juga adalah ungkapan cinta yang sungguh-sungguh dari seseorang terhadap orang yang dikasihinya.

KITA semua memang diundang untuk mencintai, untuk menjadi pribadi penuh cinta. Akan tetapi, mencintai tidak semata-mata soal perasaan, atau sekadar berhenti dalam kata-kata. St. Ignatius Loyola mengatakan, cinta mesti diungkapkan lebih-lebih dalam tindakan daripada dalam kata-kata. Maka, mungkin kita kita bertanya, bagaimana mencintai yang lebih dari soal perasaan atau kata-kata itu?

Nah, paham Kristiani mengatakan, kita tidak mungkin mengasihi saudara kita, teman, istri, suami, anak-anak, sesama kita, kalau saya belum menyadari bahwa Tuhan sudah lebih dahulu mengasihi kita. Yesus adalah yang pertama mengasihi kita. Yesus adalah yang pertama mengampuni dosa-dosa kita. Yesus yang pertama mengasihi orang yang membenci kita. Maka, karena Yesus sudah berbuat demikian, maka kita harus belajar dari Yesus untuk dapat mencintai sesama dengan baik. Dalam hal ini, kita memosisikan diri sebagai murid yang belajar mencintai seperti Yesus, Sang Guru, mencintai.

Kata “murid” dalam Injil Lukas (lih. 6:40; 14:26.27.33) berarti individu yang belajar, membiasakan diri atau  akrab dengan sesuatu. Dalam teks-teks Perjanjian Baru, kata “murid” digunakan untuk menyebut individu yang memiliki hubungan interpersonal dengan tokoh tertentu seperti  Yesus . Relasi itu bertumbuh dari rasa kagum dan terpesona yang mendorong seseorang untuk terus mengikuti figur yang dikagumi. Sementara itu, teks-teks Perjanjian Lama lebih familiar dengan kata “hamba Tuhan” [Ibr: ebed Yhwh (ādōnāy)], yang menunjuk kepada para Nabi (bdk. Yes 50:4-7). Hamba Tuhan adalah murid Tuhan, dan sebagai murid, ia mempunyai kedudukan untuk belajar: belajar hidup, belajar menderita, belajar menjadi saksi, belajar menjadi pembawa firman. Kedudukan seorang murid sebagai “yang belajar” itu berarti bahwa ia terus-menerus menekuni firman sang Guru, menyerapnya menjadi santapan kehidupan.

Yesus, yang adalah Guru yang bijaksana, memberikan kepada kita, tidak hanya pengajaran tentang cinta, tetapi memberikan contoh bagaimana mencintai. Ia mengatakan, “Tiada cinta yang lebih besar dari cinta seseorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya.” Dan, hal itu dinyatakan-Nya, dengan wafat-Nya di salib. Cinta bukan sekadar kata-kata, tetapi tindakan nyata yang bahkan merupakan suatu bentuk penyerahan diri yang seutuhnya (total dedication). Nah, kalau sekarang aku berkata “Aku mencintaimu” kepada pacar, suami, istri, Gereja, Tuhan, apakah aku rela menyerahkan diri seutuhnya kepada siapa yang kita cintai?

Steve Mahuze

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *