Kesalehan

Saudara-saudara terkasih,tema bacaan-bacaan hari Jumat, 28 Febuari 2020 ini, baik bacaan I dari Kitab Yesaya 58:1-9 maupun bacaan Injil dari Matius 9:14-15, adalah tentang kesalehan.

NGOMONG-NGOMONG tentang kesalehan, baru-baru ini barangkali kita mendengar komentar Wakil Ketua Bamus Betawi mengenai Anies Baswedan sebagai gubernur soleh atau saleh, sehingga banjir Jakarta datang di hari libur. Jadi, tidak mengganggu roda perekonomian. Pernyataan ngawur dan bikin gemas ini segera dibenturkan oleh kenyataan: banjir tidak kenal hari. Hari Selasa lalu (25/2), banjir kembali melanda Jakarta. Semoga warga Jakarta menjadi sadar bahwa kualitas pemimpin seharusnya dinilai dari kinerjanya, bukan dari kesalehannya, yang sejatinya tidak dapat diukur dari apa yang kelihatan!

Mengenai kesalehan, ketakwaan, atau kealiman, orang memang akan lebih menilainya dari yang luaran, yang eksternal, yang tampak. Orang rajin beribadah, berdoa, ke gereja, berpuasa, sopan pada yang tua, dikatakan sebagai orang saleh. Kesalehan pun memiliki konotasi negatif, yakni “tampak suci” saja, tapi superfisial, tidak mendalam. Inilah yang dikritik Yesaya sebagai kesalehan yang palsu:

  • Memang setiap hari mereka mencari Aku, suka mengenal segala jalan-Ku, seperti bangsa yang melakukan yang benar, yang tidak meninggalkan hukum Allah, yang berdoa dan berpuasa.
  • Tetapi, pada hari puasa itu, Tuhan mengatakan: kamu mendesak-desak buruhmu, kamu berbantah dan berkelahi, memukul dengan tinju, berbuat semena-mena.

Menjadi Jesuit, kata L.A. Sardi, SJ, magister saya dulu di Novisiat, bukan menjadi orang yang sekadar saleh-saleh atau tampak suci, tetapi menjadi seorang yang sekaligus berkeutamaan dan berilmu (las letras las virtudes). Artinya, punya kemendalaman, baik spiritual maupun intelektual. Dua hal ini, menurut B. Herry-Priyono, SJ, bukan dua hal terpisah, tetapi menyatu. Kemendalaman ini ia kaitkan dengan interioritas. Interioritas inilah yang  menjadi dasar bagi kesatuan integral antara yang internal (yang ada dalam diri kita) dan eksternal (yang tampak atau kita tampakkan).

Tentu saja, bukan berarti puasa dan pantang yang kita jalani di Masa Prapaskah tidak penting. Ada saatnya bagi kita perlu berpuasa, sebagaimana Yesus katakan dalam Injil. Itu adalah latihan yang berguna demi kemajuan kerohanian kita. Interioritas tidak jatuh dari langit. Ia memerlukan habituasi dari pihak kita.

Interioritas, atau interior freedom dalam istilah Herbert Alphonso, SJ, inilah yang mengantar orang pada “kesalehan yang sejati”. Itulah berpuasa yang sejati yang dalam gambaran Yesaya berarti: membuka belenggu kelaliman, memerdekakan orang teraniaya (bagi kita, mungkin, dengan lebih hormat terhadap orang yang sering kita bully), memecah-mecah roti untuk orang lapar, membawa ke rumah orang miskin yang tidak punya rumah (bagi kita, mungkin, dengan murah hati memberi tumpangan orang yang membutuhkan), tidak bersembunyi ketika orang membutuhkan bantuan kita.

Semoga Masa Prapaskah ini menjadi latihan bagi kita untuk sampai pada kesalehan yang sejati.

Martinus Dam Febrianto, SJ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *