Kisah Sengsara di Masa Pandemi

KONTEMPLASI DI MASA PANDEMI

Naskah Kontemplasi Kisah Sengsara

Kisah Yesus : Yesus, hakim dunia, berdiri di muka penghakiman manusia, Pilatus. Dengan penuh kebencian, bagaikan penjahat, Yesus dihadapkan kepada Pilatus dan menuntut agar Yesus dihukum mati. Karena takut, Pilatus menjatuhkan hukuman yang tidak adil. Namun Yesus dengan tenang, sabar, dan rela menerimanya.

Kisah Kita  : Ketika wabah virus corona akhirnya membuat pemerintah Tiongkok me-lockdown kota Wuhan pada 23 Januari, kita mungkin masih berpikir bahwa virus ini ada jauh di seberang sana. Namun kita mulai was-was ketika pada 11 Maret yang lalu WHO menyatakan wabah ini sebagai pandemi. Dan benar, saat ini Covid-19 terasa begitu dekat mengancam, siapa saja, di mana saja. Kita pun mengalami ketakutan: takut tertular dan sakit, takut kehilangan orang-orang yang kita kasihi, takut kehilangan pekerjaan dan penghasilan, takut dengan ketidakjelasan hari-hari ke depan, takut tidak dapat mengakses kebutuhan-kebutuhan pokok.

Apakah ketakutan terbesarku saat ini? Marilah kita bersama menyatukan diri bersama dengan Yesus untuk menghadapi ketakutan itu. Marilah kita menyerahkan diri kepada Allah. Kita berdoa di rumah dan mengupayakan keterlibatan sosial yang kreatif di tengah situasi kritis ini.

Doa : Ya Yesus yang rendah hati, bantulah kami untuk menyatukan ketakutan-ketakutan kami ini dengan salib-Mu. Lindungilah pula para pelayan masyarakat, pemuka agama, petugas medis, dan semua pihak yang sedang berjuang untuk merawat setiap orang serta jiwa-jiwa yang membutuhkan pertolongan.

Kisah Yesus : Yesus, hakim dunia, berdiri di muka penghakiman manusia, Pilatus. Dengan penuh kebencian, bagaikan penjahat, Yesus dihadapkan kepada Pilatus dan menuntut agar Yesus dihukum mati. Karena takut, Pilatus menjatuhkan hukuman yang tidak adil. Namun Yesus dengan tenang, sabar, dan rela menerimanya. Para algojo mengayam sebuah mahkota duri dan meletakkan di kepala Yesus. Setelah diolok-olok, Yesus di bawa keluar, lalu para algojo menyeret salib ke hadapan Yesus dan diletakkan di atas bahunya. Yesus menerima beban itu dengan rela dan cinta. Betapa pahit piala yang harus diminum-Nya. Ia tahu dan sadar bahwa seluruh sengsara ini akan berakhir dengan wafat-Nya di kayu salib. Dengan taat, Yesus mengawali jalan sengsara ini.

Kisah Kita : Covid-19 sudah menyebar ke 209 negara di dunia dan menjangkiti lebih dari satu juta orang. Pada wilayah-wilayah yang menjadi epicentrum, rumah sakit-rumah sakit dipenuhi pasien corona yang memerlukan penanganan medis. Para tenaga medis: dokter dan perawat, menjadi garda terdepan penanggulangan wabah ini. Mereka sungguh mempertaruhkan kesehatan dan hidup mereka. Di seluruh dunia, sudah lebih dari 100 dokter dan perawat meninggal karena tertular virus dari pasien yang mereka tangani. Dalam rasa takut, rindu dengan keluarga di rumah, para petugas medis ini terus bekerja demi keselamatan sesama.

Doa : Ya Yesus sumber kekuatan kami, kuatkanlah dan temanilah para tenaga medis yang berjuang tanpa henti untuk memberikan yang terbaik bagi umat manusia di masa pandemi ini.

Kisah Yesus : Bebannya kelewat berat, jalannya tidak rata dan berbatu, Yesus sudah amat lelah. Akhirnya Yesus jatuh di bawah salib yang berat ini. Tangan kasar para algojo serdadu Romawi menarik Yesus kembali ke atas, memaksa-Nya untuk berjalan terus. Karena ditopang oleh semangat yang luar biasa, Yesus berusaha bangun kembali dan melanjutkan kisah sengsara.

Kisah Kita : Berhadapan dengan kenyataan pandemi Covid-19, kita semua barangkali tergagap dan tidak siap. Para ilmuwan sebenarnya sudah memperingatkan bahwa pandemi pasti akan terjadi, sehingga yang dibutuhkan adalah kerja sama membangun sistem kesehatan seluas dunia agar ketika terjadi wabah, itu dapat segera ditanggulangi. Akan tetapi, pertumbuhan ekonomi lebih menjadi pertimbangan para pemimpin negara dalam membuat kebijakan. Para pemuka agama pun gagap dan tidak paham, sehingga pertemuan-pertemuan agama telah menjadi sarana penyebaran virus. Inilah beban kedosaan membuat kita terjatuh saat ini.

Doa : Ya Yesus yang tak kenal lelah dalam mencinta, ajarilah kami untuk menyadari kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang menjatukan kami. Ajarilah kami untuk tidak mudah menyerah terhadap situasi dan teguh berpengharapan di saat-saat yang berat dan melelahkan ini.   

Kisah Yesus : Bunda Maria berdiri di pinggir jalan Salib yang dilalui oleh Puteranya. Mereka saling beradu pandang. Maria sangat sedih dan mengerti betapa Yesus itu sangat menderita, dan turut menanggung segala penghinaan dan kesakitan bersama Dia. Tuhan Yesus terharu melihat bunda-Nya yang suci berdiri di pinggir jalan salib.

Kisah Kita : Salah satu himbauan untuk mencegah penularan virus corona adalah perlunya social distancing atau penjarakan dan pembatasan sosial. Manusia adalah makhluk sosial. Manusia rindu berjumpa, berhubungan, dan bersentuhan dengan sesamanya, terlebih dengan mereka yang dikasihinya. Maka, pembatasan sosial sering kali membuat kita menderita dan bersusah hati. Kita merindukan perjumpaan. Tapi, saat ini kita dipanggil untuk menjadi dekat satu sama lain dan saling menguatkan dalam cara-cara yang kreatif.

Doa : Ya Yesus yang senantiasa ingin dekat dengan kami, ajarilah kami mencari cara-cara kreatif untuk memelihara kedekatan kami satu sama lain, agar kami dapat saling meneguhkan di tengah situasi yang mencekam ini.

Kisah Yesus : Tuhan Yesus sudah tak mampu memikul beban salib. Maka para algojo menangkap seorang petani yang sedang pulang dari ladangnya. Mereka memaksa Simon dari Kirene untuk membantu Yesus memikul salib. Tuhan bersabda, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya dan memanggul salib”. 

Kisah Kita : Pandemi Covid-19 telah membuat kita berduka, terutama untuk para korban yang menderita dan meninggal. Syukurlah, situasi krisis senantiasa menumbuhkan rasa solidaritas kita sebagai sesama manusia. Ada banyak orang, dengan berbagai cara, segera bergerak. Mereka membantu orang-orang yang paling terdampak dari lumpuhnya gerak ekonomi: memberikan donasi, menyediakan makan-minum gratis, mendistribusikan bahan-bahan pokok kepada keluarga-keluarga yang kehilangan sumber penghasilan. Dengan ketulusan hati, tanpa pamrih, dan kerelaan hati, mereka memberikan waktu dan tenaga untuk sesama yang menderita.

Doa : Allah Bapa yang Maharahim, berilah rahmat kesehatan, kekuatan, dan keteguhan hati untuk orang-orang yang senantiasa bermurah hati dan terlibat dalam membantu mereka yang paling terdampak karena wabah ini. Berkatilah mereka di manapun mereka berada.

Kisah Yesus : Veronika melihat penderitaan Yesus dan kekerasan para serdadu. Ia tidak mempedulikan lagi apa yang akan dipikirkan dan dikatakan orang. Tanpa rasa takut dan malu, dengan berani Veronika menembus kerumunan orang banyak, mendekati dan mengusapi wajah Yesus yang berlumurah darah itu. 

Kisah Kita : Tidak terhitung jumlahnya, para sukarelawan di seluruh dunia dan di Indonesia yang telah melibatkan diri untuk merawat para penderita virus corona dan siapa saja yang mengalami kesulitan hidup karena pandemi ini. Seperti Veronika, mereka berusaha membantu orang yang membutuhkan dengan memberikan apa yang mereka punya. Namun, tindakan mulia ini bukan tanpa risiko. Jika tidak dikelola dan dikerjakan secara baik, kerelawanan dapat menjadi sarana penyebaran penyakit.

Doa : Ya Yesus yang penuh perhatian, lindungilah para relawan yang bekerja dengan tulus hati menolong mereka yang mengalami kesusahan akibat wabah ini. Jagailah mereka agar mampu melayani dengan penuh semangat, tetapi juga kesadaran penuh untuk menjaga kesehatan diri dan orang lain.

Kisah Yesus : Keadaan luka Yesus semakin parah, dan derita semakin bertambah. Dia pun jatuh kedua kalinya di bawah salib, lebih hebat, lebih sakit, lebih menyedihkan daripada yang pertama. Namun karena cintanya pada manusia, dengan memaksakan diri, akhirnya Dia dapat bangkit lagi untuk menyelesaikan kurban hidupnya.

Kisah Kita : “Virus corona ini lebih cepat dari birokrasi,” ungkap seorang pejabat dinas sosial Italia. Sulit mendeteksi penularan korona. Pemerintah kalang kabut menangani penularan korona melalui pergerakan manusia. India gagal melaksanakan lockdown karena banyaknya migran perkotaan yang berpindah ke pedesaan. Di Filipina, lockdown diberlakukan di bawah ancaman senjata, sehingga orang miskin harus berjuang untuk tidak mati kelaparan. Di Indonesia, meski tak ada lockdown, kita semua mengalami dilema. Banyak yang terlanjur pulang dari zona merah ke kampung halaman. Seperti beratnya memikul salib, wabah korona ini pun membuat kita semakin jatuh dalam penderitaan.  Namun, Yesus mengajak kita untuk bangun dan melanjutkan jalan salib ini. 

Doa : Ya Allah, berilah kami kekuatan untuk berani dan sanggup menghadapi berbagai dilema di tengah wabah ini.

Kisah Yesus : Di pinggir jalan salib berdirilah sejumlah perempuan-perempuan Yerusalem yang meratapi dan menangisi Tuhan yang disiksa dengan kejam. Namun Yesus penuh belaskasih justru memikirkan derita yang akan menimpa mereka. Yesus bersabda, “Janganlah menangisi Aku, tetapi tangisilah dirimu dan anak-anak-Mu!” Tuhan Yesus menunjukkan betapa Ia lebih menghargai karya dan amal kasih daripada kata-kata dan air mata yang mengharukan.

Kisah Kita : Kini, ratapan dan tangis itu kembali terdengar. Virus corona telah merebut pekerjaan orang-orang kecil, tempat mereka mengadu nasib dan memetik kehidupan. Hidup menjadi tidak pasti. Tidak ada lagi makanan dan kebahagiaan untuk disantap. Mereka hanya bisa meratap diambang ketidakberdayaannya. Duduk diam merasakan getirnya kehidupan. Namun demikian, kiranya kita tidak dapat berhenti dalam keputusasaan dan kesedihan. Merefleksikan nasihat Yesus pada para perempuan yang menangisinya, kita diundang untuk tidak hanya menangis, tetapi untuk tegar menapaki jalan salib kehidupan ini.

Doa : Tuhan, dari kayu salib-Mu, hiburlah dan kuatkanlah hati orang-orang yang menderita dan putus asa. Tanamkanlah kekuatan salib-Mu sehingga mereka bisa hidup dengan penuh ketegaran iman.

Kisah Yesus : Puncak bukit Golgota sudah nampak di depan mata. Tuhan Yesus nampak sudah kehabisan tenaga sama sekali. Karena berat penderitaan-Nya, maka Yesus jatuh kembali tersungkur di bawah salib untuk ketiga kalinya. Demi cinta-Nya kepada Bapa dan manusia, Tuhan Yesus tidak mau menyerah, dan ingin menyelesaikan karya penyelamatan ini. Untuk pendosa yang tidak mau bertobat, Ia menderita dan membuka jalannya kepada Bapa. Maka Yesus berusaha bangun lagi dan melanjutkan perjalannya.

Kisah Kita : Seorang anak bercerita tentang sang ayah yang meninggal karena virus corona. Ayahnya adalah dokter yang merawat  pasien Covid-19 tapi kemudian tertular dan menjadi sakit. Tak terbayangkan bagi anak ini, bahwa virus corona akhirnya merenggut orang yang amat dikasihinya. Ia dan keluarga hanya bisa melihat dari kejauhan, saat sang ayah dirawat di ICU, saat menghadapi sakratul maut, saat jenasahnya dimakamkan. Berat rasanya harus berpisah dengan cara seperti ini. Namun, sebagaimana Yesus kembali bangkit dan melanjutkan perjalanan-Nya, anak ini merasa juga harus bangkit untuk menata hidup dan terus berjuang demi cinta pada kemanusiaan, melanjutkan perjuangan sang ayah.

Doa : Tuhan, bantulah kami untuk selalu sadar akan belas kasih-Mu yang terus melimpah di masa pandemi Covid-19 ini. Semoga kami tidak patah hati, namun tetao mau terlibat dan peduli dengan sesama yang memerlukan pertolongan kami di masa krisis ini.

Kisah Yesus : Sesampainya di bukit Golgota, Yesus dipersiapkan untuk disalibkan. Di muka publik, para serdadu dan algojo melancarkan penghinaan yang paling keji. Mereka menanggalkan pakaian Tuhan, membuang undi atas jubah-Nya, dan mempermalukan Yesus di depan publik, sehingga luka-luka penderaan mulai berdarah lagi. Tuhan Yesus, Engkau rela menanggung penghinaan demi kami.

Kisah Kita : Seorang pasien Covid-19 bergumul dalam situasi ambang batas di sebuah rumah sakit. “Saya tidak kuat lagi,” demikian ungkapan isi hatinya. Setelah 5 jam bergumul, akhirnya ia dengan tenang menahan rasa sesak dan berhasil menguasai diri agar tidak terpuruk dalam rasa takut. Dalam situasi seperti sekarang ini, putus asa bukanlah pilihan terakhir. Yesus sendiri telah menunjukkan kepada kita sikap penyerahan diri yang seutuhnya kepada kehendak Allah. Penyerahan diri bukan berarti kita berhenti berharap atau bersikap pasif. Sebagai orang sehat, kita diajak untuk terus membantu sesama sekaligus berharap agar Allah memberikan kesembuhan kepada pasien yang terkena Covid-19. 

Doa : Ya Yesus, ampunilah kami karena kerap kali kami dikuasai rasa takut dan cemas, bahkan kehilangan harapan dalam situasi ambang batas. Ajarilah kami untuk peka pada nilai-nilai kehidupan dan bantulah kami untuk terus memperjuangkan kesembuhan bagi sesama kami yang sedang menderita Covid-19.

Kisah Yesus : Tibalah saat yang paling mengerikan: para algojo mencampakkan Tuhan Yesus ke tanah, menembusi tangan dan kakinya, kemudian memaku-Nya pada palang penghinaan. Setelah itu mereka menegakkan salib berat itu. Berhadapan dengan perlakukan itu, tanpa mengeluh justru Yesus mendoakan para algojo: “Bapa ampunilah mereka, karena mereka tidak tidak tahu apa yang harus mereka.”

Kisah Kita : Mungkin ada di antara kira sudah mulai bosan berada di rumah selama berhari-hari karena pandemi Covid-19. Kita merasa rindu untuk segera beraktivitas normal seperti biasanya. Akan tetapi, kita perlu ingat, Yesus lebih memilih untuk bertahan dan tinggal diam ketika Ia disalibkan. Yesus tidak memberontak, tetapi memilih diam demi menyelamatkan banyak orang, yaitu kita, manusia yang penuh dosa. Di saat-saat penuh derita ini, Yesus mengajak kita untuk menyelamatkan banyak orang dengan berada di rumah. Beranikah kita bertahan dan berada di rumah demi kebaikan bersama?

Doa : Tuhan, berikanlah kami daya tahan untuk setia berada di dalam rumah selama masa pandemic Covid-19 ini.

Kisah Yesus : Tuhan Yesus tergantung di kayu salib. Penjahat yang digantung di samping Yesus berkata: “Yesus, ingatlah akan daku, apabila Engkau datang sebagai Raja. Yesus menyahut: “Sesungguhnya hari ini juga Engkau akan bersama dengan Daku di dalam firdaus!” Pada jam tiga sore, Yesus mengeluh dengan saura nyaring” “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Tak lama kemudian, Tuhan Yesus berseru: “Sudah selesai. Bapa, ke dalam tangan-Mu, Aku menyerahkan nyawa-Ku. Lalu Yesus wafat di atas kayu salib. Ketaatan inilah yang mendatangkan penebusan dosa bagi manusia.

Kisah Kita : Bayangan kematian di tengah pandemi virus Covid-19 ini begitu dekat dan seringkali menakutkan. Namun demikian, bagi kita yang setia kepada Tuhan, kita tidak akan dikecewakan. Iman akan Yesus Kristus justru meneguhkan dan meyakinkan kita bahwa tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan dan kematian. Seperti Yesus yang taat pada kehendak Bapa sehingga harus menanggung derita dan wafat demi keselamatan seluruh dunia, kita pun dipanggil untuk tekun dan setia di jalan yang ditunjukkan-Nya kepada kita.

Doa : Allah Bapa sumber kehidupan sejati, ampunilah kami yang sering takut menghadapi penderitaan dan kematian. Teguhkanlah iman kami untuk setia di jalan salib Putera-Mu dengan segala konsekuensinya.

Kisah Yesus : Bunda Maria ikut merasakan penderitaan bersama Puteranya. Maka kini sebagai ibu, usahanya yang terakhir ialah menghormati Puteranya dan memakamkan-Nya secara pantas dan layak. Maka atas izin Pilatus dan bantuan dari Yusuf dari Arimatea, Yesus diturunkan dari salib dan direbahkan pada pangkuan Maria bunda-Nya. Sekali lagi Maria memeluk Puteranya dan dalam hati ia berkata, “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut kehendak-Mu. Maria adalah abdi Allah yang setia.

Kisah Kita : Joseph, umur 70-an tahun, sudah dua minggu menggunakan ventilator. Coronavirus telah membuat fungsi paru-paru, jantung, dan ginjalnya makin menurun. Dokter yang merawat membagikan kabar buruk ini kepada istri dan anak-anak. Mereka harus bersiap untuk merelakan Joseph pergi dari tengah-tengah mereka. Istrinya lalu berkata, “Saya tidak tahu apa yang Joseph inginkan dalam situasi seperti ini. Kami tidak pernah berpikir hal seperti ini akan terjadi.” Pandemi Covid-19 menyadarkan kita, betapa kita perlu membicarakan saat kematian, sebagai akhir hidup kita di dunia ini, agar kita lebih siap menghadapinya. 

Doa : Ya Maria Bunda Yesus dan Bunda kami, ajarilah kami untuk tabah menerima kepergiaan orang-orang yang kami kasihi. Ajarilah kami untuk dengan berani berkata, “Terjadilah ya Tuhan, seturut kehendak-Mu.”

Kisah Yesus : Karena hari Sabat akan segera mulai, maka jenazah Yesus diurapi dengan minyak dan dibungkus kain kafan untuk segera dimakamkan menurut tradisi pada masa itu. Para wanita yang setia mengikuti jalan sengsara Kristus mengikuti Yusuf dari Arimatea dan Maria, ibu Yesus. Namun maut tidak dapat menahan Tuhan. Dari kubur-Nya bangkitlah kehidupan; cinta Tuhan Yesus lebih kuat daripada maut. “Kalau biji gandum tidak jauh ke tanah dan mati, ia tinggal sendirian! Namun bila ia mati, ia berbuah banyak!”

Kisah Kita : Kita semua akan menyongsong kematian sendirian, tetapi di masa Covid-19 ini, tidak hanya menyongsong kematian sendirian, kita berduka sendirian. Upacara pemakaman diadakan bukan terutama untuk yang mati, tetapi untuk yang hidup. Ini adalah kesempatan bagi keluarga dan komunitas yang berduka untuk berbagi kehilangan dan mendukung satu sama lain. Namun demikian, karena pembatasan fisik dan sosial, pandemi virus corona telah menghilangkan ritual berkabung yang sangat dibutuhkan ini. Banyak dari sanak keluarga yang ditinggalkan anggota keluarga yang meninggal karena Covid-19 harus berduka sendirian. Dalam senyap mereka melepas orang yang mereka kasihi. Tak ada peluk yang meringankan dari sahabat, kerabat, atau para tetangga. Kita membayangkan kesepian yang sama dalam pemakaman Yesus. Ia yang sebelumnya begitu dicari dan diikuti banyak orang, dimakamkan dalam duka cita yang sunyi dan sepi.

Doa : Allah yang Mahakuasa, temanilah kami yang harus melepas kepergian orang-orang yang kami kasihi, dalam kesedihan dan kesepian yang menyesakkan. Ajarilah kami untuk memelihara kasih, iman, dan pengharapan kami. Sebab, sebagaimana Putra-Mu yang wafat dalam kesepian akhirnya bangkit dalam kemuliaan, kami pun akan Engkau bangkitkan untuk bersatu bersama-Mu ya Bapa dan berbahagia selama-lamanya. Amin

Tim Jesuit Insight,

Kolsani, 10 April 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *