God is Not a Coastguard and Rescuer

Paskah di Tengah Wabah

SEPERTI Yesus di taman Getsemani, ketika jiwa kita terhimpit dan terhempas oleh ketakutan yang teramat mencekam, kita tergoda untuk untuk meminta Allah agar cepat-cepat me-rescue kita, mencabut virus dan menghentikan wabah Covid 19 begitu saja. Kita ingin Allah bertindak seperti seorang penjaga pantai (coast guard) me-rescue anak yang sedang panik dan mau tenggelam karena belum terlatih berenang. Tampaknya ini solusi paling masuk akal, sekaligus paling mudah. Apalagi Allah bukanlah sekedar manusia penjaga pantai, pastilah Dia bisa melakukan segalanya. Yesus pun berseru dengan nada demikian: “Bapa, kalau Engkau mau, biarlah cawan ini berlalu daripada-Ku!” (Mt 26: 39).

Namun, seperti Yesus pula, kita diajak menyadari: tanpa cawan atau penderitaan, mungkin kita tidak akan meraih makna tersembunyi dari hidup yang sudah kita perjuangkan ini. Kita tidak sampai pada tujuan dan misi hidup kita. Begitu sering kita mengundang Allah untuk me-rescue kita dalam keadaan yang susah sebelum kita sendiri mengambil makna dari kesusahan itu secara maksimal, sampai batas paling jauh. Allah sebagai rescuer dan coast guard mungkin berguna untuk sekadar mengamankan nyawa kita dari air laut hari itu, tetapi dalam keadaan seperti itu Allah tidak memiliki kesempatan mengajari kita  berenang di antara ombak-ombak besar, berenang lebih jauh menembus  gelombang laut dan menggapai pulau-pulau indah di seberang sana, di mana ada janji kehidupan.

Tiba-tiba kita sadar, solusinya bukan mengundang Allah sebagai penjaga pantai, melainkan  bertekun  dalam memupuk relasi dengan Allah yang hendak melatih kemampuan jiwa kita untuk mengarungi samudera kehidupan, persis di saat-saat sulit seperti itu. Minggu Paskah adalah saat istimewa di mana penderitaan paling miris dan kematian paling keji mendapatkan makna paling agung  karena kita tempatkan dalam relasi kita dengan Allah sebagai Bapa dan pelatih jiwa kita, bukan sebagai penjaga pantai dan rescuer. Allah adalah penjamin makna hidup kita, bukan sekedar jaringan pengaman  nyawa kita.  Relasi kita dengan Allah menuntut kita untuk bertahan dan berjuang sampai batas paling jauh. Bagi Yesus, batas paling jauh ini adalah kematian di salib: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu!” (Mat 26:42).

Dalam batas paling jauh itulah Allah juga menunjukkan tindakan paling radikal dan paling jauh: Allah membangkitkan Yesus dari kematian. Allah mengubah kematian yang tampaknya sia-sia menjadi peristiwa penuh makna, bahkan menjadi kematian yang menebus dan menyelamatkan. Kematian berubah menjadi kehidupan.

Pertanyaannya untuk kita adalah: apakah kita begitu takut berjuang sampai batas terjauh dalam peristiwa wabah yang masih terus berlangsung ini? Bersama Allah, Sang Bapa dan Pelatih Jiwa kita, semoga kita bertekun dalam aneka karya dan perbuatan nyata (work) yang masih bisa kita perbuat dalam masa yang sulit ini; semoga kita bertekun dalam menumbuhkan cinta (love) setiap hari, di rumah, di dalam pergaulan dan pelayanan online kita; dan semoga kita bertekun dalam memupuk keberanian, semangat (courage) dan pengharapan (hope) di tengah keputusasaan yang selalu menggoda jiwa.  Work, love, courage, and hope. Dengan ketekunan ini kita yakin kita akan belajar banyak hal bersama Allah selama berlangsungnya wabah ini.

Kalau demikian Paskah Kebangkitan Tuhan menjadi rahmat lebih istimewa tahun ini bagi kita. Seperti  perempuan-perempuan yang pagi-pagi mengunjungi makam Yesus, mereka berbuat sesuatu yang paling jauh, dengan mengatasi ketakutan dan keputusasaan, dan mereka diberi rahmat sukacita kebangkitan (Mat 28:1-10).   Para perempuan itu membuka diri untuk diajari berenang  oleh Allah, untuk mengarungi gelombang besar, dan mereka tidak minta Allah me-rescue mereka dari pengalaman kegelapan, dan mereka pun akhirnya sampai pada pulau-pulau kebangkitan, di mana hidup ditandai oleh sukacita yang tidak bisa direnggut lagi oleh siapapun dan apapun.

Selamat Paskah!

Rm A. Bagus Laksana, S.J.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *