Kunjungan Mahasiswa Universitas Darussalam Gontor

Rabu, 27 September 2017, Kolese St. Ignatius (Kolsani) mendapat kunjungan dari mahasiswa Program Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin, Kampus IV, Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Rombongan berjumlah 27 orang, terdiri dari 25 mahasiswa dan 2 dosen pendamping. Mereka disambut oleh frater dan Romo komunitas Kolsani. Sebagai pembuka, rombongan diajak berkeliling rumah Kolsani dan Gereja St. Antonius Kotabaru.

Selanjutnya, mereka diperkenalkan dengan Perpustakaan Kolsani. Setelah itu, diadakan dialog antara mahasiswa dan frater Kolsani seputar paham tentang Kristianitas, pelayanan dan kehidupan para imam Katolik, hubungan Gereja dengan agama-agama non-Kristiani, dan pandangan Gereja mengenai budaya dan politik.

Terima kasih banyak atas kunjungannya. AMDG!

APTEP 2015

 

Asia Pasific Theological Encounter Program (APTEP) kembali digelar di tahun 2015. APTEP merupakan pelatihan bagi para mahasiswa calon pastor guna membangun jembatan pemahaman dan dialog antar umat beragama. Selain itu, kegiatan ini dilaksanakan untuk merespons tantangan dari Gereja Katolik dalam konteks Asia, dalam kaitannya dengan masalah kemiskinan, pluralisme agama-agama, dan kemajemukan budaya. Program ini berlangsung sejak 20 April – 20 Mei di Jakarta dan Yogyakarta. Jumlah peserta sebanyak 14 calon pastor dan dua suster biarawati asal Thailand, Filipina, dan Indonesia.

Program dirancang dengan kuliah dan diskusi ke komunitas umat beragama lain serta berkunjung ke pusat-pusat studi. Pelatihan APTEP yang telah berlangsung empat kali ini juga didesain sebagai kegiatan yang memungkinkan peserta belajar, berinteraksi dan berdialog dengan para tokoh-tokoh besar dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda.

Kegiatan ini bekerjasama dengan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beberapa guru besar dan dosen dari UIN Jakarta dan Yogyakarta menjadi narasumber dalam sesi kuliah dan diskusi yang diadakan. Selain sesi kuliah, peserta juga diajak mengunjungi pusat-pusat studi/agama. Di Jakarta, peserta diajak berkunjung ke Wahid Institute, Masjid Istiqal, dan Gereja Katedral. Di Yogyakarta, peserta kembali dibawa berjumpa dengan dengan komunitas di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Gereja Ganjuran dan Masjid Gedhe Kauman.

Peserta APTEP tak hanya belajar mengenai dialog antar umat beragama, khususnya Katolik dengan Umat Muslim saja, tetapi juga pluralisme agama dan budaya yang ada di Indonesia. Di Jakarta, mereka mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah, Monas, dan Kota Tua. Di Yogyakarta, peserta diajak mengenal lebih dekat Candi Borobudur, Sendangsono, Candi Prambanan, dan Kraton.

Perjumpaan dengan komunitas Muslim coba dibangun dalam “Malam Refleksi APTEP” yang diadakan di Omah Petruk Karangklethak, Kaliurang, Yogyakarta. Dalam acara ini, seluruh peserta APTEP, santri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, dan komunitas mahasiswa UIN Yogyakarta diminta menunjukkan kebolehan masing-masing. Suasana hangat dan meriah saat pertemuan ini mendorong jembatan pemahaman dan dialog satu sama lain. (r)

APTEP 2015 Berita UIN

Calon Pastor dan Biarawati Belajar Islam di UIN Jakarta

(sumber: http://www.uinjkt.ac.id/index.php/arsip-berita-utama/3038-calon-pastor-dan-biarawati-belajar-islam-di-uin-jakarta.html”)

Gedung PPIM, BERITA UIN Online Sejumlah calon pastor dan biarawati Katolik belajar tentang Islam dan masyarakat Muslim di UIN Jakarta melalui program Asia Pasific Theological Encounter Program (APTEP). Beberapa guru besar dan dosen UIN Jakarta menjadi narasumber pembelajaran tersebut.

Dr JB Heru Prakosa SJ, salah satu panitia kegiatan menuturkan, kegiatan pembelajaran Islam dan masyarakat Muslim berlangsung sejak 20 April-20 Mei di Jakarta dan Yogyakarta. Total sebanyak 14 pastor dan dua suster biarawati asal Thailand, Filipina, dan Indonesia menjadi peserta kegiatan.

Menurut Heru, pembelajaran bertujuan membangun jembatan pemahaman dan dialog antar umat beragama, khususnya Katolik dengan Umat Muslim.

“Selain itu, kegiatan ini dilaksanakan untuk merespon tantangan dari Gereja Katolik dalam konteks Asia seperti kemiskinan, pluralisme agama-agama, dan kemajemukan budaya,” tuturnya di Jakarta, Selasa (21/4/2015).

Beberapa guru besar dan dosen UIN Jakarta seperti Prof Dr Azyumardi Azra, Prof Dr Atho Mudzar MSPD, Dr Yusuf Rahman MA, Dr Fuad Jabali MA, Dr Amelia Fauzia MA, Dr Ali Munhanif, dan Dr. Yeni Ratna Yuningsih menjadi narasumber. Mereka menyampaikan materi seperti Al-Qur’an dan Tafsir, Sejarah Islam, Hukum Islam, Hadits, Teologi Islam, Filsafat Islam dan Tasawuf.

Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan memadukan perkuliahan, diskusi, dan kunjungan ke berbagai pusat studi keislaman. Harapannya, para peserta beroleh kesempatan belajar dan berdialog langsung dengan pihak-pihak yang berbeda iman. Melalui itu, peserta diharapkan terdorong mengembangkan teologi kontekstual.

Gregorius Soetomo, panitia lain menambahkan, pelatihan APTEP telah berlangsung empat kali dengan desain kegatan yang memungkinkan peserta belajar dan berdialog langsung tentang Islam dengan para tokoh terkait.

“Medan perjumpaan dalam komunitas Muslim yang telah kami coba bangun sejauh ini pun amat variatif, bahkan kami pernah berkunjung dan belajar di Pesantren Tebuireng dan Pesantren Ciganjur,” jelasnya. (tam)

Immersion Program on Inter-Religious Dialogue 2015

Sejak tanggal 2 hingga 22 Januari 2015, Komunitas Kolese St. Ignatius
(Kolsani) menerima 12 orang tamu dari Universitas Santa Clara, California.
Dua orang merupakan dosen dan kesepuluh lainnya adalah mahasiswa. Mereka
tergabung dalam”Immersion Program on Inter-Religious Dialogue 2015″.

immersion1 Minggu pertama mereka belajar mengenai “A Common Word” bersama mahasiswa dan mahasiswi dari ICRS-UGM.Dosen-dosen yang ahli di bidangnya sangat membantu peserta kuliah dalam memahami implementasi “A Common Word” yang ada di Indonesia. Tidak hanya membangun diskusi dalam kelas saja, namun proses saling mengenal juga terjadi di luar kelas. Seusai kelas, mahasiswa ICRS-UGM selalu mengajak kesepuluh mahasiswa Santa Clara tersebut makan siang bersama.

 

Mengakhiri minggu pertama, rombongan melihat secara dekat kehidupan para santri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran di Sleman. Mereka berinteraksi dengan seluruh santri.

 

 

 

 

 

Di minggu kedua, kedua belas tamu Kolsani berkesempatan mengunjungi sejumlah lokasi di Yogyakarta. Mereka diajak melihat secara langsung sejarah agama di suatu tempat hingga proses dialog antar agama yang ada di Indonesia.

 

 

Minggu, 11 Januari meeka diajak mengunjungi kelompok tani yang berada di Dusun Prenggan, Desa Palbapang, Bantul. Kelompok tani ini merupakan kelompok binaan STPN-HPS yang berada di bawah koordinasi Romo Gregorius Utomo. Paguyuban ini mendampingi para petani untuk mengembangkan ketahanan produksi dan pola konsumsi. Romo Gregorius Utomo, kepala pendiri Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Semarang menginginkan kelompok ini terbuka untuk semua petani tanpa memandang latar belakang agamanya. Setelah belajar mengenai proses dialog antar agama yang terjalin dalam kelompok tani tersebut, rombongan diajak untuk berefleksi ke Ganjuran. Menikmati keindahan Gereja Ganjuran yang sangat indah.

 

 

 

Selanjutnya, di trip hari kedua, Senin 12 Januari, rombongan diajak ke Candi Prambanan. Mereka melihat sendiri kemegahan candi Hindu terbesar di Indonesia. Selain itu, mereka juga belajar mengenai relief yang berada di sepanjang candi. Bertolak dari Candi Prambanan, perjalanan dilanjutkan ke Makam Sunan Pandanaran di Tembayat Klaten. Studi tentang sejarah Islam yang dibawa oleh para wali. Melihat secara dekat rasa hormat dan relasi yang masih terbangun antar umat Islam dengan Sunan Pandanaran.

 

Di hari ketiga trip, rombongan diajak menyaksikan secara langsung kisah Rama dan Sinta. Rombongan tampak antusias menikmati pertunjukan Ramayana Ballet.

 

 

 

 

Rabu, 14 Januari rombongan berkunjung ke Kraton Yogyakarta. Mengunjungi tempat ini, mereka kagum akan rasa hormat abdi dalem dan masyarakat Yogyakarta kepada Sultan yang masih tetap terjaga hingga hari ini. Selanjutnya, mereka mengunjungi Masjid Gedhe Kauman dan Masjid Kotagedhe. Mereka belajar tentang sejarah Islam pertama di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari selanjutnya, mereka berkunjung ke Candi Borobudur. Disini, rombongan diperlihatkan dan dijelaskan setiap detail relief Buddha. Sesudah itu, perjalanan ditutup dengan Ekaristi di Sendangsono. Setelahnya, rombongan diantar ke Rumah Retret di Muntilan. Selama lima hari seluruh peserta diminta dalam keheningan dan ketenangan.

Kamis, 22 Januari rombongan kembali ke California. Semoga kekayaan yang mereka dapatkan di Indonesia makin meningkatkan pemahaman tentang dialog antar umat. (r)

immersion2
immersion3
immersion4
immersion5
immersion6
immersion7
immersion8
immersion10
immersion9
immersion11