Doa kepada Kristus, Teladan Kita

doa-kepada-kristus
Tuhan, dalam merenungkan “cara kami bertindak”, saya menemukan, bahwa cara berbuat yang kami cita-citakan itu sebetulnya cara Engkau berbuat. Untuk itu saya mengangkat “mata tertuju kepada-Mu” (Ibr 12:2); mata iman melihat wajah-Mu, seperti nampak di dalam Injil. Aku ini salah satu dari mereka, yang oleh St. Petrus dikatakan: Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu bergembira karena sukacita mulia dan tidak terkatakan, karena kamu percaya” (1Ptr 1:8).

Tuhan, Engkau sendiri bersabda, “Aku telah memberi teladan kepada kamu” (Yoh 13:15). Saya ingin mengikuti Dikau dalam cara itu, agar saya dapat berkata kepada orang lain, “Jadilah pengikutku, sama seperti aku menjadi pengikut Kristus” (1Kor 11:1). Meskipun saya tidak dapat mengartikan itu secara harafiah seperti St. Yohanes, namun saya ingin mendapatkan kemampuan untuk menyatakan, – sekurang-kurangnya lewat iman dan kebijaksanaan yang Engkau berikan kepadaku-, apa yang telah saya dengar, apa yang telah saya lihat dengan mata, apa yang telah saya saksikan dan saya raba dengan tangan, mengenai Firman hidup. Hidup telah dinyatakan dan saya telah melihatnya dan memberikan kesaksian. (1Yoh 1-2; Bdk. Yoh 20:25-27; 1-14; 15:27’ Luk 24:39). Meskipun tidak dengan mata jasmani, namun pasti dengan mata iman.

Teristimewa berikanlah kepadaku sensus Christi (perasaan Kristus) (1Kor 2:16) yang dinyatakan oleh Paulus: agar saya dapat merasa dengan rasa-Mu, dengan perasaan hati-Mu, yang pada dasarnya adalah cinta kepada Bapa-Mu (Yoh 14:31) dan cinta kepada umat manusia. (Yoh 13:1) Tidak ada orang membuktikan cinta lebih dari Engkau, karena Engkau memberikan hidup untuk sahabat-sahabat-Mu (Yoh 15:13) dengan kenosis – pengosongan diri (Flp 2:7), seperti disebutkan St. Paulus. Saya ingin meneladan Engaku, tidak hanya dalam rasa, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, sedapat mungkin berbuat seperti Engkau.

Ajarilah aku cara-Mu bergaul dengan murid-murid, dengan pendosa, anak-anak (Luk 17:16), orang Parisi, Pilatus dan Herodes; juga dengan Yohanes Pembaptis sebelum dilahirkan (Luk 1: 41-45) dan kemudian di tepi sungai Yordan (Mat 3:17). Ajarilah aku bagaimana Engkau bergaul dengan murid-Mu, khususnya dengan yang paling dekat: dengan Petrus (Mat 10:2-12; Mat 3:16); dengan si pengkhianat Yudas (Yoh 13:26; Luk 22:28). Alangkah lembutnya perhatian-Mu terhadap mereka itu di tepi danau Tiberias, sampai-sampai menyiapkan santap pagi bagi mereka! Engkau membasuh kaki mereka!

Saya ingin belajar dari pada-Mu dan dari cara-cara-Mu, seperti St. Ignasius: bagaimana Engkau makan dan minum (Mrk 2:16, 3:20); bagaimana menghadiri pesta (Mat 9:19; Yoh 2:1; 12:2; Luk 7:16); bagaimana bertindak, kalau lapar dan haus (Mat 4:2, Yoh 4:7; 19:28-30); kalau letih karena pelayanan (Yoh 4:6); kalau kurang istirahat dan kurang tidur. (Mrk 4:38)

Ajarlah aku untuk menaruh belas kasih kepada orang yang menderita (Mat 9:36; 14:14; 15:32; 20:34; Luk 7:13), yang miskin, yang buta, yang lumpuh, yang sakit kusta; tunjukkanlah kepadaku, bagaimana Engkau memperlihatkan perasaan-Mu yang paling dalam, seperti ketika Engkau melelehkan air mata (bdk. Mat 9:36; 14:14; 15:32; 20:34; Luk 7:13; 19:41; Yoh 11:33-38); atau sewaktu Engkau merasa sedih dan takut sampai berpeluh darah dan membutuhkan malaikat yang datang menghibur (Mat 26: 37-39). Terutama saya ingin belajar, bagaimana Engkau menanggung puncak sengsara di kayu salib, sampai ditinggalkan oleh Bapa-Mu (Mat 27:4-6).

Kemanusiaan-Mu nampak dari Injil, yang menampilkan Engaku sebagai manusia luhur, ramah, teladan mulia, penuh keimbangan antara hidup dan ajaran-Mu. Bahkan musuh-musuh-Mu mengakui: “Guru, kami tahu, bahwa Engkau orang jujur, dan dengan jujur mengajar jalan Allah, serta Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka” (Mat 22:15). Injil menunjukkan sikap-Mu kesatria, tegas terhadap diri-Mu dalam menanggung kekurangan dan pekerjaan berat (Mat 8:20), tetapi untuk orang lain penuh kelembutan, ingin selalu mau melayani (Mat 20:28; Bdk. Flp 2:7).

Memang benar Engkau keras terhadap orang yang tidak beritikad baik, tetapi kebaikan-Mu menarik ribuan orang: yang sakit dan yang lemah, secara naluri merasa bahwa Engkau tentu akan memperhatikan mereka (Mat 9:36). Demikian Engkau mempesona orang banyak, hingga mereka lupa makan (Mat 3:20); dengan pengertian akan kehidupan sehari-hari, Engkau dapat menceritakan perumpamaan , yang dimengerti oleh setiap orang, perumpamaan jelas lebih indah. Persahabatan-Mu itu untuk semua (Yoh 15:13), tetapi Engkau menunjukkan kasih istimewa kepada beberapa, seperti Yohanes (Yoh 13:23; 19:25), dan persahabatan khusus dengan beberapa, seperti Lazarus, Marta dan Maria (Yoh 11:36). Tunjukkan kepadaku bagaimana Engkau menyatakan rasa gembira pada pertemuan pesta, seperti misalnya di Kana. Engkau selalu erat berhubungan dengan Bapa dalam doa, dan doa pribadi-Mu kerap kali berlangsung sepanjang malam dan itu niscaya sumber keagungan-Mu, penuh sinar mulia yang dirasakan oleh semua orang di waktu itu (Mrk 1:35; Bdk. Mat 14:23; 26:36; Luk 5:16; 6:12; 9:18; 11:1). Kehadiran-Mu menimbulkan rasa hormat, takut, gentar, kagum, dan kadang-kadang bahkan ketakutan mendalam pada bermacam-macam orang atau kelompok.

Ajarlah aku cara melihat orang, seperti Engkau memandang Petrus sesudah ia menyangkal-Mu (Luk 22:61), seperti Engkau menembus hati si pemuda kaya (Mrk 10:21) dan hati para murid-Mu (Mrk 10:23; 3:34; 5:31-32).

Saya ingin bertemu dengan Dikau, seperti apa sesungguhnya, sebab gambaran-Mu mengubah mereka, yang Engkau dekati. Ingatlah akan perjumpaan Yohanes Pembaptis yang pertama dengan Dikau (Mat 3:14); perasaan si perwira yang tidak pantas (Mat 8:8) dan kekaguman semua orang yang melihat mujizat-Mu dan tanda heran lainnya (Mat 8:27; 9:33; Mrk 5:15; 7:37). Engkau memberi kesan mendalam kepada murid (Luk 4:36; 5:26; Mrk 13:54), kelompok orang yang datang di taman Jaitun (Yoh 18:6), Pilatus (Yoh 19:8) dan isterinya (Mat 27:19) serta perwira di kaki salib. Petrus yang sangat terkesan oleh mujizat penangkapan ikan, juga merasa sekali jauhnya jarak antara dirinya seorang pendosa dengan Dikau. Ia dan para rasul lainnya dikuasai rasa takut (Luk 5:8-9).

Saya ingin mendengar dan terkesan akan cara-Mu berbicara, dengan mendengarkan misalnya khotbah-Mu dalam synagoga di Kapharnaum (Yoh 6:35-39; Mat 5:2) atau Sabda di bukit, di mana para pendengar-Mu merasa bahwa Engkau ‘mengajar dengan wibawa’ dan tidak seperti para ahli Kitab (Mat 7:29; Luk 4:22).

Dalam kata-kata berahmat yang keluar dari mulut-Mu, jelas nampak kekuasaan Roh Tuhan (Luk 4:22). Tidak ada orang menyangsikan, bahwa keagungan melampaui manusia itu disebabkan oleh ikatan-Mu yang mesra dengan Allah: Kami harus belajar pada-Mu rahasia ikatan mesra dengan Allah, dalam kehidupan biasa, tindakan dan perbuatan sehari-hari dengan keterlibatan total, cinta kepada Bapa dan seluruh umat manusia, kenosis – pengosongan diri sempurna demi pelayanan kepada orang lain, sadar akan kepekaan-Mu sebagai manusia, yang membuat kami dekat dengan Dikau dan akan keagungan ilahi, yang membuat kami merasa jauh dari kemuliaan-Mu yang begitu besar.

Berilah aku rahmat sensus Christi – rasa Kristus – denyutan hati-Mu sendiri, agar aku dapat menghayati seluruh hidupku, lahir maupun batin, bertindak dan mencari dalam Roh-Mu, seperti Engkau lakukan selama hidup-Mu.

Ajarkanlah jalan-Mu, supaya menjadi jalan kami sekarang, agar kami lebih mendekati cita-cita St. Ignasius: menjadi sahabat-sahabat-Mu, pembantu-pembantu dalam karya penebusan, setiap dari kami menjadi Kristus lain – alter Christus.

Aku minta kepada Maria, Bunda-Mu yang amat suci, yang begitu banyak sumbangannya bagi pembentukan-Mu dan cara-Mu bertindak, agar ia membantu aku dan semua putera Serikat untuk menjadi puteranya, seperti Engkau lahir dari dia, dan hidup dengan dia sepanjang hari hidup-Mu. Amin.

Doa kepada Kristus, Sang Guru Sejati Kita

(Doa disusun dengan inspirasi dari, Arrupe, P., “Doa kepada Kristus, Teladan Kita,” dlm. Teman dalam Perutusan, Yogyakarta, Kanisius, 1985, hal. 338-343; dan Martini, C., Perjalanan Rohani Keduabelas Murid: Menurut Injil Markus, Yogyakarta, Kanisius, 1991, hal. 28-67.)

lilin-lilin

Tuhan Yesus Kristus, dalam upaya kami untuk merefleksikan ‘pendidikan karakter manusia,’ kami ingin belajar dan berpaling pada apa yang telah Engkau tempuh di dalam mendampingi para muridMu yang terkasih. Selama masih hidup bersama Engkau di dunia, mereka tidak lebih hanya sebagai kelompok pemuda biasa. Mereka suka bertengkar untuk menentukan siapa yang paling besar di antara mereka (Mk. 9: 34; Lk. 9: 46). Bahkan mereka masih juga melakukan itu, ketika mereka mengikuti perjamuan terakhir bersamaMu (Lk. 22: 24). Di antara mereka belum pula terwujud kesatuan hati dan budi. Dapat kami bayangkan bagaimana Simon orang Zelot (Mk. 3: 18) membangun relasi dengan Mateus (Mt. 9: 9). Simon adalah bekas anggota kelompok yang berjuang untuk mengangkat senjata melawan pemerintah Romawi, sementara Mateus adalah bekas pemungut cukai yang bekerja untuk pemerintah Romawi. Perhatian mereka juga masih terpusat pada kepentingan diri sendiri. Itu tampak dalam diri Yohanes dan Yakobus yang suatu saat minta untuk ditempatkan di sebelah kanan dan kiriMu (Mk. 10: 37). Mereka menutup mata terhadap kesepuluh rekan yang lain, sampai akhirnya kesepuluh rekan lain itu pun marah kepada mereka (Mk. 10: 41). Mereka belum bijaksana dan tindakan mereka belum membangun satu sama lain. Di samping itu, mereka sering tidak paham akan apa yang Engkau maksudkan. Mereka bertanya-tanya akan arti di balik perumpamaan tentang seorang penabur (Lk. 8: 9). Pada suatu kesempatan, mereka pun bertanya, “Apakah artinya Ia berkata: Tinggal sesaat saja? Kita tidak tahu apa maksudnya” (Yoh. 16: 18). Mereka juga sering keliru menangkap pesan-pesanMu. Pada waktu Engkau memperingatkan mereka untuk berhati-hati terhadap ragi orang Farisi dan Saduki, mereka malah mengaitkannya dengan ragi roti (Mt. 16: 6-7). Ketika akhirnya mereka melihat sendiri bagaimana Engkau membuat mukjijat dengan menggandakan roti dan ikan, mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil (Mk. 6: 52). Beberapa dari antara mereka pun sering dipenuhi dengan tanda tanya. Yudas Tadeus tidak dapat memahami mengapa Engkau tidak menyatakan diri kepada dunia (Yoh. 14: 22), Tomas merasa tidak tahu ke mana Engkau pergi (Yoh. 14: 5), dan Filipus serta Andreas tidak tanggap ketika Engkau menanyakan tentang makanan untuk orang-orang yang mendengarkan pengajaranMu (Yoh. 6: 5-9).

Sedemikian seringnya mereka tidak mengerti apa yang Engkau maksudkan, sampai-sampai mereka sering merasa segan untuk menanyakan kepadaMu (Mk. 9: 32). Mereka memang belum memiliki pengetahuan batin yang mendalam. Iman mereka pun masih dangkal. Di hadapan mereka yang begitu lamban untuk mengerti, Engkau tidak segan memberi peringatan keras. Kepada mereka, Engkau menegur, “Bagaimana mungkin kalian tidak mengerti” (Mt. 16: 11). Ketika Filipus berkata, “Tuhan tunjukkanlah Bapa itu kepada kami,” Engkau memberi suatu jawaban yang tajam, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?” (Yoh. 14: 8-9). Teguran juga Engkau sampaikan kepada Yohanes, karena ia mencegah seseorang yang telah mengusir setan demi namaMu (Mk. 9: 39). Pada waktu Simon Petrus menarik Engkau ke samping akibat dari kata-kataMu tentang penderitaan, Engkau pun berseru lantang, “Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia!” (Mt. 16: 22-23). Meskipun demikian, tidak jarang Engkau juga bersikap lembut kepada mereka. Di suatu saat, Engkau menguatkan mereka, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut” (Mk. 6: 50). Ketika mereka saling bertengkar, Engkau menyadarkan mereka dengan membawa seorang anak kecil ke tengah mereka, sambil berkata, “Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Lk. 9: 48). Acap kali Engkau juga memberi semangat dan motivasi untuk tetap maju. Kepada Natanael, misalnya, Engkau berkata, “Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar…!” (Yoh. 1: 50). Bahkan, ketika Engkau diminta oleh beberapa orang Farisi untuk menegur mereka, tidak segan Engkau membela mereka (Lk. 19: 39-40).

Engkau mendidik mereka tidak hanya dengan kata-kata saja. Di hadapan mereka, Engkau menunjukkan keputusan-keputusan konkret melalui keutamaan-keutamaanMu yang luhur. Mereka pun menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana Engkau bersikap terhadap Yudas Iskariot (Mt. 26: 25), dan bertindak dalam belas kasih terhadap orang banyak yang terlantar (Mt. 9: 36), terhadap janda yang ditinggal anak tunggalnya (Lk. 7: 13), serta terhadap orang-orang sakit (Mt. 14: 14), termasuk terhadap Bartimeus yang buta (Mk. 10: 51-52). Pendidikan dalam bentuk keteladanan menjadi jelas ketika Engkau membasuh kaki mereka (Yoh. 13: 5). Di saat itu, Engkau berkata, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kaki” (Yoh. 13: 13). Lepas dari kualitas hidup mereka yang tidak selalu sesuai dengan harapanMu, Engkau tetap berseru, “Ikutlah Aku!” Engkau pun tetap memberi kepercayaan penuh kepada mereka. Engkau tetap memberi mereka kuasa, dan mengutus mereka ke tengah orang banyak (Mk. 6: 7). Demi mereka, Engkau telah memanjatkan doa yang begitu menyentuh kepada BapaMu di surga (Yoh. 17: 1-26). Engkau sungguh mengasihi mereka.

Menjelang kepergianMu dari dunia, Engkau berjanji akan mengutus Roh Penghibur (Yoh. 16: 7), yaitu Roh Kudus sendiri (Lk. 24: 49). Setelah tidak lagi bersama mereka secara fisik, Engkau pun rajin menampakkan diri kepada mereka (Lk. 24: 13-35, 36-49; Yoh. 20: 19-23). Khusus kepada Tomas yang penuh keraguan, Engkau memulihkan imannya, “Jangan engkau tidak percaya lagi, tetapi percayalah!” (Yoh. 20: 27) dan akhirnya ia pun mampu menjawab, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20: 28). Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah mendidik para murid dan mengubah mentalitas mereka. Semula mereka menganggap diri besar, tetapi kemudian mereka menyadari bahwa mereka sebenarnya sangat kecil. Mereka mampu membuat banyak mukjijat (Kis. 5: 12); dan itu dilakukan bukan dalam nama mereka sendiri, tetapi dalam namaMu. Semula mereka berjiwa kecil, tetapi kemudian mereka mampu menunjukkan jiwa yang besar. Yohanes dan Petrus tidak gentar untuk memberi kesaksian tentang Engkau di hadapan Mahkamah Agama (Kis. 4: 13). Mereka pun dengan berani memberitakan firmanMu yang Kudus (Kis. 4: 31). Bahkan mereka merasa bergembira karena boleh dianggap layak untuk menderita penghinaan oleh karena NamaMu (Kis. 5: 41).

Demikianlah, berkat pendidikanMu, mereka mampu memiliki iman yang murni, dan pengetahuan yang bijak, serta tindakan yang membangun semua pihak. Pendidikan yang Engkau lakukan terhadap para murid dialami pula oleh St. Ignasius. Ia sungguh merasakan bahwa BapaMu sendirilah yang telah menempatkannya bersama dengan Engkau (Autobiography, 96). Kami mohon kepadaMu, ya Kristus, agar Engkau berkenan melimpahkan berkat dari BapaMu di surga, dan mencurahkan Roh Kudus, sedemikian rupa sehingga kami mampu belajar dari mereka semua, dan dengan rahmatMu, akhirnya kami boleh merasakan transformasi yang menyeluruh di dalam roh, jiwa, dan tubuh kami. Engkaulah Sang Guru Sejati kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Hidup Komunitas adalah Perutusan

  1. Dalam dunia globalisasi ini, dengan media komunikasi canggih yang sangat bermanfaat dan dengan perubahan tehnologi yang super cepat, telah terbentuk ancaman yang serius terhadap kebersamaan masyarakat, yaitu makin terbentuknya masyarakat yang individualistis dan terasing. Kehangatan manusiawi dan relasi-relasi pribadi telah diganti antara lain dengan komputer dan telpon genggam. Dalam sebuah budaya yang tidak manusiawi, komunitas Yesuit yang masuk di dalamnya, bisa merupakan tanda harapan, cara mewartakansebuah jalan manusiawi dan injili, yang menghubungkan dengan Allah, dunia dan orang lain.
  2. Yesuit menaati para pembesar dalam komunitas agar hidup bersama dapat mendukung perutusan secara efektif dan menjadi tanda bahwa dimungkinkan terbentuknya persekutuan manusiawi yang begitu dibutuhkan dunia (KJ 35 D 4, 28).
  3. Komunitas juga merupakan tempat yang istimewa untuk melaksanakan penegasan apostolis, baik lewat penegasan bersama yang terstruktur secara formal maupun lewat pembicaraan informal yang bertujuan demi lebih efektifnya pelaksanaan perutusan. Penegasan semacam itu akan membantu Yesuit, bukan hanya untuk menerima perutusan masing-masing, tetapi juga untuk bergembira atas perutusan yang diterima oleh saudara-saudara Yesuit serta mendukungnya.
  4. Dalam persahabatanlah, para Yesuit menemukan jati diri, dan bukan dalam diri perorangan: dalam persahabatan dengan Tuhan yang memanggil dan dalam persahabatan dengan rekan-rekan yang ikut ambil bagian dalam panggilan ini
  5. Tugas perutusan tidaklah terbatas pada karya-karya Yesuit. Relasi pribadi dan bersama dengan Tuhan, relasi satu sama lain sebagai sahabat dalam Tuhan, solidaritas dengan mereka yang miskin dan tersingkir, serta gaya hidup yang bertanggung jawab atas alam ciptaan, itu semua merupakan unsur penting dalam hidup sebagai Yesuit. Semua itu meneguhkan apa yang Yesuit wartakan dan lakukan dalam memenuhi tugas perutusan. Tempat istimewa untuk kesaksian kolektif ini, hidup dalam komunitas. Maka, komunitas Yesuit tidak hanya untuk perutusan: komunitas itu sendiri adalah perutusan.

Doa

Bapa yang Maha Pengasih, Pandanglah dengan kasih mereka yang telah Engkau tempatkan bersama Putra-Mu. Bantulah kami untuk menyadari bahwa kami Yesuit, menemukan jati diri tidak sendirian melainkan dalam kebersamaan; dalam kebersamaan dengan Tuhan yang memanggil. Sembuhkanlah supaya kami sadar bahwa kami Yesuit, tidak ada perutusan dan jati diri tanpa membentuk komunitas-komunitas yang hid up. Tidak ada komunitas dan jati diri tanpa memeluk perutusan Yesus; Dan juga tidak ada komunitas dan perutusan tanpa mengakarkan jati diri kami dalam Yesus dan mereka yang menjadi sahabat-Nya. Bantulah kami juga untuk hidup sebagai sahabat-sahabat-Nya dengan kharisma bapa kami St. Ignasius, yang secara aktif penuh perhatian dan secara tepat tanggap akan kehendak ilahi-Mu; dengan kesiapsediaan dan mobilitas dalam pengabdian kepada umatMu. Amin.
(Peter Pappu SJ)