Santapan Batin 106

Kesepian adalah sebuah persoalan yang universal karena dialami oleh hampir semua orang, bahkan semua makhluk. Kesepian memang suatu penderitaan. Namun di balik itu, kesepian adalah rahmat Tuhan yang membuat setiap makhluk berjuang untuk tetap setia pada kodratnya dan dengan nalurinya yang paling halus ketika mengalami masa-masa kesendirian.

Dikutip dari Utusan, No. 11 Tahun ke-64, 2014

Santapan Batin 105

Konferensi para binatang membahas manusia modern selalu mengejar dan mengambil apa saja dari mereka. “Mereka mengambil susuku!” kata lembu dan kambing bersamaan. “Mereka mengambil telurku!” kata burung puyuh. “Mereka mengambil daging bahkan tulangku dan dimasakĀ  T. Bone Steak,” kata lembu. “Mereka memburuku, di dasar samudra mengambil minyakku!” kata ikan paus. Dan selanjutnya. Pada akhirnya siput berbicara, “Aku mempunyai sesuatu yang mereka inginkan lebih daripada segala sesuatu. Mereka tentu akan merampasnya dariku seandainya dapat. Aku mempunyai waktu.”

Dikutip dari Hiro Tugiman, 101 Pernik Kehidupan, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1996, Hal. 162.

Santapan Batin 104

Daging rusa buruan telah digoreng untuk santapan raja yang adil dan bijaksana. Namun mereka tak punya garam. Seorang hamba disuruh ke kampung terdekat untuk membeli garam dan baginda berpesan, “Bayarlah garam yang kau peroleh, jangan sampai timbul kebiasaan buruk yang membuat desa bisa runtuh”. “Kerugian apa, Paduka? Kan hanya garam saja, apakah mungkin dapat meruntuhkan desa?” tanya si hamba dengan menyembah. Raja menjawab, “Dalih untuk di dunia itu kecil. Namun, siapa yang dapat menghilangkan dalih itu sehingga tidak akan menjadi besar dan merambat? Jika seorang raja mengambil begitu saja sebuah apel dari kebun milik seseorang, maka para pengikutnya akan ikut mencabut pohon itu sampai ke akar-akarnya. Demi sebutir telur, yang dipertahankan raja dengan paksa, maka prajurit-prajuritnya akan merampas sejuta unggas di kolam air! “Oleh karena itu hai para punggawa kerajaan, jangan kau keji, menindas, dan merampas hak orang lain. Dulu pernah terjadi, ada serdadu yang keji, tanpa ampun memukul dengan batu kepala Darwis, seorang rakyat kecil. Darwis tidak berniat membalas, namun menyimpan batu itu. Aku sangat murka dan serdadu itu kupecat dan dimasukkan dalam sumur selama tiga hari. Kemudian Darwis muncul dan menjatuhkan batu yang disimpannya ke atas kepala bekas serdadu itu. Ditanya mengapa menjatuhkan batu di atas kepala bekas serdadu, Darwis menjawab bahwa selama ini dia takut karena ia rakyat kecil, namun setelah serdadu dihukum di dalam sumur, kesempatan itu dimanfaatkan,” sabda Baginda.

Dikutip dari Hiro Tugiman, 101 Pernik Kehidupan, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1996, hal. 154-155.

Santapan Batin 103

Daman, 45 tahun, sejak muda suka berkelana dari Banten sampai Banyuwangi agar mendapatkan ilmu kekebalan. Dengan tirakat dan usaha yang sungguh-sungguh dia belajar dari guru yang satu ke guru yang lain. Dia sangat marah kepada gurunya yang terakhir sebab gurunya yang terakhir tidak dapat memberikan tambahan ilmu yang berarti, karena hanya memberi nasihat. “Daman, ilmumu sudah cukup. Pesanku, jangan sombong atas ilmu yang kau miliki dan jangan kau merugikan sesamamu dengan ilmu itu!”

Sepuluh tahun berlalu, Daman sampai di sebuah danau dan ingin merasakan enaknya naik perahu. Daman bertanya kepada tukang perahu, “Sudahkah kau pelajari ilmu kebal?”. “Belum dan tidak perlu,” jawab tukang perahu. “Kamu bodoh, hidup tak ada artinya. Aku telah menikmati apa saja di dunia ini. Makan, minum, harta, kekayaan… tinggal ambil saja. Siapa berani dengan aku? Dikeroyok sejuta orang pun takkan kalah, dan hari depanku cerah. Apa hidupmu itu? Makan jagung, rumah reot dan katamu tadi apa… istrimu buta? Hidupmu benar-benar sia-sia!” kata Daman dengan ketusnya.

Tukang perahu yang umurnya lebih dari 60 tahun itu sangat sedih, tetapi masih bisa menahan dirinya. Tiba-tiba angin bertiup kencang dan gelombang tak dapat dihindari. Tukang perahu berseru kepada Daman, “Katakan kepadaku, bisakah kau berenang?!” “Tidak!” jawab Daman “O…, kawan yang baik dan perkasa. Kalau begitu seluruh hidupmu, semua usaha, dan jerih payahmu serta kekebalanmu akan sia-sia, karena sebentar lagi perahu ini akan tenggelam,”kata tukang perahu dengan tenangnya.

Dikutip dari Hiro Tugiman, 101 Pernik Kehidupan, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1996, hal. 157-158.

Santapan Batin 102

Seorang kaya dan terhormat yang sangat membanggakan halaman rumahnya yang berumput indah, sangat kecewa melihat alang-alang tumbh dengan suburnya. Semua usaha telah ditempuh untuk memusnahkan alang-alang itu, namun tetap saja merajalela. Karena putus asa, ia menulis surat kepada ahli pertamanan. Ia menjelaskan secara detil usaha yang telah dilakukan untuk memusnahkan alang-alang tersebut, dan diakhiri dengan pertanyaan, “Apa yang harus saya lakukan?” Tidak lama kemudian, datanglah balasan surat yang isinya, “Kami menganjurkan agar Tuan menyenangi alang-alang itu.”

Dikutip dari Hiro Tugiman, 101 Pernik Kehidupan, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1996, hal. 186.

Santapan Batin 101

Kedua binatang, kelinci dan macan, bersahabat di hutan. Sebagai sahabat, mereka biasa bercanda dan tidak jarang pula saling mengejek. Pada suatu saat, ada pemburu akan menangkap mereka. Kelinci merasa kemampuannya tak seberapa untuk bersembunyi di antara semak-semak agar pemburu tidak melihatnya. Sebaliknya, macan yang terlalu yakin akan kemampuannya menghadang pemburu dengan taring dan kuku-kukunya. Terjadilah pergumulan antara macan dan pemburu. Hasilnya pemburu dengan luka parah lari meninggalkan macan, namun ketiga kaki macan patah dan lumpuh. Setelah keadaan aman kedua binatang bertemu dan macan menegur kelinci, “Kelinci, ternyata kamu pengecut!”. “Lebih baik menyadari kelemahan daripada sombong tetapi akhirnya celaka,” jawab kelinci.

Dikutip dari HiroTugiman, 101 Pernik Kehidupan, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1996, hal. 171-172.