APTEP 2015

 

Asia Pasific Theological Encounter Program (APTEP) kembali digelar di tahun 2015. APTEP merupakan pelatihan bagi para mahasiswa calon pastor guna membangun jembatan pemahaman dan dialog antar umat beragama. Selain itu, kegiatan ini dilaksanakan untuk merespons tantangan dari Gereja Katolik dalam konteks Asia, dalam kaitannya dengan masalah kemiskinan, pluralisme agama-agama, dan kemajemukan budaya. Program ini berlangsung sejak 20 April – 20 Mei di Jakarta dan Yogyakarta. Jumlah peserta sebanyak 14 calon pastor dan dua suster biarawati asal Thailand, Filipina, dan Indonesia.

Program dirancang dengan kuliah dan diskusi ke komunitas umat beragama lain serta berkunjung ke pusat-pusat studi. Pelatihan APTEP yang telah berlangsung empat kali ini juga didesain sebagai kegiatan yang memungkinkan peserta belajar, berinteraksi dan berdialog dengan para tokoh-tokoh besar dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda.

Kegiatan ini bekerjasama dengan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beberapa guru besar dan dosen dari UIN Jakarta dan Yogyakarta menjadi narasumber dalam sesi kuliah dan diskusi yang diadakan. Selain sesi kuliah, peserta juga diajak mengunjungi pusat-pusat studi/agama. Di Jakarta, peserta diajak berkunjung ke Wahid Institute, Masjid Istiqal, dan Gereja Katedral. Di Yogyakarta, peserta kembali dibawa berjumpa dengan dengan komunitas di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Gereja Ganjuran dan Masjid Gedhe Kauman.

Peserta APTEP tak hanya belajar mengenai dialog antar umat beragama, khususnya Katolik dengan Umat Muslim saja, tetapi juga pluralisme agama dan budaya yang ada di Indonesia. Di Jakarta, mereka mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah, Monas, dan Kota Tua. Di Yogyakarta, peserta diajak mengenal lebih dekat Candi Borobudur, Sendangsono, Candi Prambanan, dan Kraton.

Perjumpaan dengan komunitas Muslim coba dibangun dalam “Malam Refleksi APTEP” yang diadakan di Omah Petruk Karangklethak, Kaliurang, Yogyakarta. Dalam acara ini, seluruh peserta APTEP, santri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, dan komunitas mahasiswa UIN Yogyakarta diminta menunjukkan kebolehan masing-masing. Suasana hangat dan meriah saat pertemuan ini mendorong jembatan pemahaman dan dialog satu sama lain. (r)