Perayaan Ulang Tahun Perkampungan Sosial Pingit ke-51

Dalam rangka perayaan ulang tahun Perkampungan Sosial Pingit (PSP) ke- 51 tanggal 28 Oktober 2017 yang lalu, para frater Jesuit yang dikoordinasi oleh Fr. Tino, SJ mengadakan syukuran bersama anak-anak binaan dan warga sekitar Pingit. Fr. Tino, SJ menyampaikan refleksi singkat tentang tema yang diangkat, yakni Berani Berkolaborasi untuk Melayani. Harapannya ke depan PSP menjadi tempat belajar dan bermain yang nyaman dan dapat menumbuhkembangkan anak-anak binaan. Saat ini ada sekitar 35 anak binaan. Untuk menghidupkan suasana belajar, maka mural balai bermain dicat ulang agar lebih indah.

Acara yang dihadiri oleh Rm. Adri, SJ selaku Ketua Yayasan Realino tersebut juga didukung oleh beberapa volunteer mahasiswa dari Teknik Sipil Atma Jaya, Vocasi Pariwisata UGM, dan IPPAK. Mereka secara rutin menemani anak-anak belajar setiap hari Senin dan Kamis.

Khusus untuk perayaan ulang tahun ini, mereka menemani anak-anak dalam tampilan gerak-lagu dan menari. Acara ditutup dengan makan malam bersama diiringi dengan tampilan-tampilan dari para frater dan volunteer. (fr.wawan)

Kunjungan Mahasiswa Universitas Darussalam Gontor

Rabu, 27 September 2017, Kolese St. Ignatius (Kolsani) mendapat kunjungan dari mahasiswa Program Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin, Kampus IV, Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Rombongan berjumlah 27 orang, terdiri dari 25 mahasiswa dan 2 dosen pendamping. Mereka disambut oleh frater dan Romo komunitas Kolsani. Sebagai pembuka, rombongan diajak berkeliling rumah Kolsani dan Gereja St. Antonius Kotabaru.

Selanjutnya, mereka diperkenalkan dengan Perpustakaan Kolsani. Setelah itu, diadakan dialog antara mahasiswa dan frater Kolsani seputar paham tentang Kristianitas, pelayanan dan kehidupan para imam Katolik, hubungan Gereja dengan agama-agama non-Kristiani, dan pandangan Gereja mengenai budaya dan politik.

Terima kasih banyak atas kunjungannya. AMDG!

Perayaan Syukur 70 Tahun Rm. H. van Opzeeland SJ dalam Serikat Yesus

Jumat, 22 September 2017, komunitas Kolese St. Ignatius merayakan 70 tahun Romo Henricus van Opzeeland SJ hidup dalam Serikat Yesus. Perayaan syukur juga dihadiri oleh rekan-rekan komunitas SJ di seputaran Yogyakarta dan para suster dari beberapa kongregasi (CB, ADM, dan OSF). Tak lupa hadir pula staff Yayasan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dimana Romo H. van Opzeeland SJ pernah berkarya.

Dalam Ekaristi Syukur, Romo Henricus van Opzeeland SJ berbagi cerita dan pengalaman panggilan beliau selama 70 tahun hidup dalam Serikat. Dari  mulai tahun 1947 masuk sebagai novis di Belanda sampai sekarang beliau setia mendampingi para frater di Kolese St. Ignatius.

Berikut gambaran acara syukur yang berlangsung kemarin:

Ingin mengenal lebih dekat sosok Romo Henricus van Opzeeland SJ? Cerita singkat beliau dapat dilihat disini.

Scholastics & Brothers in Formation Circle (SBC)

Pada tanggal 17-30 Desember 2015, diadakan workshop tentang Disaster Risk Reduction (DRR) di Filipina sebagai bagian dari program Scholastics & Brothers in Formation Circle (SBC). Acara diselenggarakan di Tacloban City-Provinsi Leyte, yang dua tahun lalu terkena bencana super Tayphoon Yolanda (Typhoon Haiyan). Setahun lalu (Januari 2015) Paus Fransiskus melakukan kunjungan ke Tacloban dan merayakan misa bersama umat, di tengah guyuran hujan. Selama workshop, kami menginap di Rumah Retret St. Elisabeth yang dikelola oleh para suster OSF.
Para peserta kegiatan berasal dari Indonesia (6 orang), Filipina (3 orang), Thailand (3 orang), Myanmar (4 orang), Korea (4 orang), Cina (1 orang), Timor Leste (1 orang), Vietnam (2 orang) dan Itali (1 orang). Acara ini difasilitasi oleh tim ESSC (Enviromental Science for Social Change) yang diketuai oleh P. Pedro Walpole, SJ.

Tujuan dari program ini adalah untuk memberikan pengertian dasar tentang DRR dan Protokol DRR Serikat Jesus, serta mengembangkan gagasan-gagasan bagaimana institusi-institusi Serikat Jesus di Asia Pasifik dapat berkontribusi lebih efektif dalam DRR. Karena itu dalam kegiatan ini para peserta diperkenalkan dengan Disaster Risk Reduction and Management (DRRM) provinsi Filipina dan protokol JCAP-DRRM. Selain itu, para peserta diajak untuk berjumpa dan melihat secara langsung penerapan DRR dan usaha untuk merespon persoalan bencana di daerah Tacloban City-Leyte, dua tahun pasca Typhoon Yolanda.

Angin Super Typhoon Yolanda pada 8 November 2013, dengan kecepatan 270-312 km/jam telah menewaskan sebanyak 6.300 jiwa penduduk Tacloban. Puing-puing kehancuran pun masih terlihat, meski sebagian besar sudah coba ditata ulang. Saat ini daerah itu masih dalam proses recovery pasca Typhoon Yolanda 2 tahun silam.

Berikut gambaran kegiatan selama acara berlangsung: