Sarasehan IHS: “Teolog-Teolog Abrahamik”

Minggu, 24 April 2016, komunitas St. Ignatius mengadakan seminar IHS yang berjudul “Teolog-Teolog Abrahamik”. Seminar ini dihadiri oleh anggota komunitas St. Ignatius dan 2 peserta kuliah seminar teolog-teolog yang diampu oleh Rm. JB. Heru Prakoso, SJ. Ada 3 teolog yang dipresentasikan pada seminar IHS bulan April ini, yaitu Adolf Von Harnack oleh fr. Imanuel Eko Anggun, SJ, Paul Tillich oleh fr. Angga Indraswara, SJ, dan Henri de Lubac oleh fr. Wahyu Dwi Anggoro, SJ. Jalannya presentasi dan diskusi dalam seminar ini dipandu oleh fr. Surya Awangga, SJ selaku moderator.

Presentasi diawali oleh fr. Imanuel Eko Anggun SJ yang memaparkan upaya Adolf Von Harnack dalam merefleksikan esensi kristianitas. Selanjutnya, fr. Angga Indraswara, SJ menyampaikan refleksi kristologis Paul Tillich atas keterasingan manusia yang mencari ada baru dalam Yesus Kristus. Dan terakhir, fr. Wahyu Dwi Anggoro, SJ menyampaikan gagasan Henri de Lubac tentang Gereja sebagai ‘ibu’.

Sarasehan IHS: “Pergilah, Kobarkan Seluruh Dunia – KJ 35, d. 2, no. 25”

28 Februari - Misionaris
Pada hari Minggu, 28 Februari 2016, komunitas Kolese St. Ignatius mengadakan Sarasehan Ignatius House of Studies (IHS) yang bertemakan “Misi Provindo”. Pembicara dalam seminar ini adalah Rm. Albertus Eddy Anthony SJ dan fr. Adrianus Bonifasius Riswanto Putra, SJ. Rm. Albertus Eddy Anthony SJ membagikan pengalamannya sebagai misionaris di Yap, Micronesia. Sedangkan fr. Adrianus Bonifasius Riswanto Putra, SJ membagikan pengalaman mereka sebagai misionaris di Kamboja. Seminar yang diadakan di ruang Nyoman Oka ini bertujuan untuk membagikan pengalaman menjadi misionaris sehingga memperkaya pemahaman akan karya misi Provindo dan untuk memantik semangat misionaris dalam diri peserta seminar.

28 Feb - Misionaris
“Menjadi misionaris membutuhkan keberanian,” tutur Rm. Albertus Eddy Anthony SJ. Keberanian yang dimaksud adalah keberanian untuk mempelajari budaya setempat, termasuk bahasa. Dengan mampu berbahasa setempat, kehadiran misionaris akan lebih bisa bermakna bagi orang-orang yang dilayani. Selain itu, seorang misionaris juga dituntut untuk memiliki daya kreativitas dalam pelayanan. Di tengah persoalan-persoalan sosial yang dihadapi daya kreativitas sang misionaris dibutuhkan untuk mencari solusi atasnya. Misalnya, persoalan ekonomi, pendidikan, inkulturasi agama, dan lain sebagainya. Namun yang pasti para Jesuit diharapkan menjadi agen transformasi, tidak hanya dalam persoalan sosial, tetapi juga dalam hidup menggereja. Hal ini senada dengan ungkapan yang sudah sejak lama terdengar “masuk lewat pintu mereka, keluar lewat pintu kita”. AMDG.(win)

Sarasehan IHS: “Para Teolog Katolik & Non-Katolik Abad XIX-XX”

Minggu, 29 November kemarin, komunitas Kolese St. Ignatius (Kolsani) kembali mengadakan sarasehan IHS dengan mengangkat tema Para Teolog Katolik & Non-Katolik Abad XIX-XX. Sarasehan ini merupakan diskusi internal atas Hasil Studi Frater-frater Kolsani tentang Para Teolog Kristen dan Katolik. Acara diselenggarakan pada pukul 10.00-13.00. Romo dan Frater di komunitas Kolsani hadir dalam acara ini.

Berikut gambaran kegiatan sarasehan kemarin:

Sarasehan IHS: “Tangising Bangsa Tinindes: Wayang Wahyu sebagai Sarana Pewartaan”

Kolese St. Ignatius (Kolsani) kembali mengadakan sarasehan IHS. Acara berlangsung pada hari Minggu, 25 Oktober 2015 pukul 10.00-13.00 di Ruang Rekreasi Kolsani. Sarasehan kali ini mengangkat tema “Wayang Wahyu sebagai Sarana Pewartaan”. Dalam acara ini, komunitas Kolsani menggelar pementasan ‘Wayang Wahyu’ dengan dalang ‘Ki Bruder Stefanus Prihana SJ’. Bruder Prih – panggilan akrabnya – sendiri saat ini sedang menjalani masa kuliah di Jurusan ‘Seni Pedalangan’ di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Lakon yang dibawakan pada pentas kemarin berjudul “Tangising Bangsa Tinindes”.

Sarasehan dihadiri oleh 80 orang dari berbagai kalangan, di luar para niyogo, sinden, dan Kolsaniwan. Para peserta sarasehan berasal dari kalangan Prodiakon, anggota ‘Tim Pewartaan’ dan Lektor dari paroki Kotabaru, mahasiswa/i Fakultas Ilmu Pendidikan Agama Katolik (IPPAK) – USD, mahasiswa/i CRCS Universitas Gadjah Mada, mahasiswa/i dari Jurusan ‘Seni Pedalangan’ ISI Yogyakarta, dan beberapa pecinta seni wayang. Sejumlah Bruder Jesuit dan calon bruder juga turut hadir serta mendukung pementasan ‘Ki Bruder’.

Sarasehan langsung diawali dengan pentas wayang selama kurang lebih dua jam. Gelak tawa penonton sesekali terdengar saat guyonan tercetus dan diselipkan selama pementasan. Lakon serius yang bercerita tentang Nabi Musa tersebut memang digarap dengan apik oleh ‘Ki Bruder’.
Setelah selesai pementasan, selama 1 jam, sambil makan siang, penonton diajak untuk berdiskusi serta memberikan tanggapan. Apresiasi dan kesan positif banyak muncul, termasuk terhadap kemampuan ‘Ki Bruder’ sebagai dalang. Tiga peserta bule dan seorang mahasiswi ber-jilbab pun dengan terang-terangan mengungkapkan kekaguman mereka atas kepiawaian ‘Sang Dalang’. Selamat dan profisiat bagi “Ki Bruder”

Sebagai sebuah warisan seni budaya, terlebih Jawa, wayang dipandang dapat sangat membantu untuk menceritakan tentang kisah-kisah dalam Kitab Suci. Dengan lain kata, ‘Wayang Wahyu’ dapat dimaknai sebagai peluang yang baik untuk mewartakan Injil. Melalui ‘Wayang Wahyu’ pula, gagasan tentang hidup dan kerohanian Kristiani termasuk spiritualitas Ignasian dapat dihadirkan dalam bentuk yang ‘menarik’ serta ‘cair’. Singkat kata, ‘Wayang Wahyu’ dapat menjadi sarana bagi karya pewartaan, sebagai media yang memiliki kekuatan demi terbangunnya dialog yang komunikatif dan menggerakkan bagi berbagai kalangan.

Bagi paroki-paroki Jesuit, juga lembaga-lembaga karya lain, kalau mau menyelenggarakan sebuah kegiatan kultural, jangan ragu-ragu untuk menanggap ‘Ki Bruder’; dijamin ‘puas’!