Raker PSP 2016

Foto bersama volunteer
Pada hari Sabtu-Minggu, 13-14 Februari 2016, para pengurus dan volunteer Perkampungan Sosial Pingit (PSP) mengadakan rapat kerja di Wild Life Rescue Center Jl. Kawijo, Sendangsari, Pengasih, Kulon Progo Regency, Yogyakarta. Rapat kerja yang dihadiri 30 orang ini diisi dengan evaluasi pelaksanaan pelayanan selama semester kemarin dan membuat kurikulum pembelajaran untuk semester ini. Para volunteer diajak untuk menemukan mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan di PSP berdasarkan hasil evaluasi. Kemudian mimpi atau visi tersebut diberikan indikator pencapaian dan rencana konkret pelaksanaan. Intinya, design kurikulum yang digunakan memakai pola backward design.

Raker Pingit 13-14 2016
Semangat yang ingin dihayati setahun ke depan bagi para volunteer adalah Berjuang Bersama untuk Melayani (BBM). Kata volunteer berasal dari kata Latin volo, yang artinya aku menghendaki. Maka para volunteer PSP adalah orang-orang yang menghendaki di PSP. Karena kehendak untuk di PSP adalah keputusan sendiri, para volunteer butuh berjuang dalam menghadapi kesulitan selama melayani di PSP. Namun, mereka tidak sendirian. Perjuangan itu dilakukan bersama-sama demi pelayanan yang lebih baik di PSP.

Raker Pingit 13-14 Feb 2016
Selain diisi dengan evaluasi dan pembuatan kurikulum, acara raker diisi pula dengan ice breaking dan permainan-permainan yang menarik. Dengan permainan-permainan seperti uno, rumingkup, kartu remi, dan kartu domino, diharapkan keakraban sebagai sesama volunteer akan semakin kokoh. Keakraban adalah modal untuk bekerja sama dengan lebih baik. AMDG.(win)

Scholastics & Brothers in Formation Circle (SBC)

Pada tanggal 17-30 Desember 2015, diadakan workshop tentang Disaster Risk Reduction (DRR) di Filipina sebagai bagian dari program Scholastics & Brothers in Formation Circle (SBC). Acara diselenggarakan di Tacloban City-Provinsi Leyte, yang dua tahun lalu terkena bencana super Tayphoon Yolanda (Typhoon Haiyan). Setahun lalu (Januari 2015) Paus Fransiskus melakukan kunjungan ke Tacloban dan merayakan misa bersama umat, di tengah guyuran hujan. Selama workshop, kami menginap di Rumah Retret St. Elisabeth yang dikelola oleh para suster OSF.
Para peserta kegiatan berasal dari Indonesia (6 orang), Filipina (3 orang), Thailand (3 orang), Myanmar (4 orang), Korea (4 orang), Cina (1 orang), Timor Leste (1 orang), Vietnam (2 orang) dan Itali (1 orang). Acara ini difasilitasi oleh tim ESSC (Enviromental Science for Social Change) yang diketuai oleh P. Pedro Walpole, SJ.

Tujuan dari program ini adalah untuk memberikan pengertian dasar tentang DRR dan Protokol DRR Serikat Jesus, serta mengembangkan gagasan-gagasan bagaimana institusi-institusi Serikat Jesus di Asia Pasifik dapat berkontribusi lebih efektif dalam DRR. Karena itu dalam kegiatan ini para peserta diperkenalkan dengan Disaster Risk Reduction and Management (DRRM) provinsi Filipina dan protokol JCAP-DRRM. Selain itu, para peserta diajak untuk berjumpa dan melihat secara langsung penerapan DRR dan usaha untuk merespon persoalan bencana di daerah Tacloban City-Leyte, dua tahun pasca Typhoon Yolanda.

Angin Super Typhoon Yolanda pada 8 November 2013, dengan kecepatan 270-312 km/jam telah menewaskan sebanyak 6.300 jiwa penduduk Tacloban. Puing-puing kehancuran pun masih terlihat, meski sebagian besar sudah coba ditata ulang. Saat ini daerah itu masih dalam proses recovery pasca Typhoon Yolanda 2 tahun silam.

Berikut gambaran kegiatan selama acara berlangsung: