Awal Kolese Santo Ignatius sebagai Rumah Formatio

Disarikan dari: Tim Kolsani, Meyesuit Lewat Kolsani, Yogyakarta, Kolsani, 1993, hal. 43-50.

Berdirinya Kolese St. Ignatius tidak dapat dilepaskan dari awal karya Gereja Katolik, yang dirintis oleh para anggota Serikat, di antaranya orang-orang Jawa yang sudah lama dipersiapkan, tetapi juga ada hal-hal yang terjadi secara “kebetulan”. Beginilah wajah Gereja Katolik dan wajah Serikat Yesus di tanah Jawa. Sebetulnya sudah lama dipertimbangkan untuk dimulai, namun berbagai rintangan menghalanginya. Di antaranya adalah kurangnya tenaga bagi karya misi yang meliputi seluruh Indonesia, tidak adanya anggota Serikat yang mahir berbahasa Jawa, prasangka bahwa orang Jawa tidak mungkin menerima pewartaan Injil. Pater Y.B. Palinckx, SJ, yang sejak tahun 1859 bekerja di Pulau Jawa, menangkap situasi dan keprihatinan tersebut. Pada tahun 1880 dia mengirim laporan ke Roma mengenai kemungkinan-kemungkinan dan kesulitan-kesulitan bagi misi di antara orang-orang Jawa. Ramalan dari Pater Palinckx tentang daerah Yogyakarta dan Kedu akan menjadi “ladang kering dan gersang” ternyata keliru. Kedua daerah tersebut justru merupakan pusat pertama awal perkembangan Gereja Katolik di antara orang Jawa serta pendidikan dan pembinaan calon-calon imam dari antara orang Jawa.

Pada tahun 1910, F. Van Lith dan Y. Mertens (1867-1922) merasa yakin bahwa pada beberapa siswa Muntilan terdapat tanda-tanda panggilan. Tanda itu makin nyata ketika Petrus Darmaseputra dan Fransiskus Xaverius Satiman memohon supaya diperbolehkan belajar untuk menjadi imam.  Pada tahun 1914 keduanya pergi ke Eropa untuk melanjutkan studi. Setelah itu, di antara 1916-1920, ada sekitar 10 siswa Muntilan pergi ke Belanda, tetapi kedua di antara mereka meninggal dan seorang lainnya amat terganggu kesehatannya. Maka diputuskan supaya pendidikan lebih baik dijalankan di Indonesia sendiri. Perasaan yakin P. Van Lith dan P. Mertens dua belas tahun yang lalu semakin dikuatkan oleh kenyataan sejarah. Pada bulan Agustus 1922, dibukalah novisiat di Yogyakarta di suatu rumah sewaan di Sultans Boulevard, sekarang menjadi Jalan I Dewa Nyoman Oka 22. Setahun kemudian, dibelilah sebidang tanah yang luas, juga di Kotabaru, dan dibangunlah gedung novisiat. Di ruang yang sekarang ini dikenal dengan Ruang Nyoman Oka (Jl. I Dewa Nyoman Oka 3) diletakkan sebuah batu peringatan di salah satu dinding ruangan dengan tulisan:

A.M.D.G., me posuit,

J. Hoeberechts, Sup. Miss. S.J.,

die 18 Febr. 1923

Pada tanggal 16 Juni 1923 novisiat pindah ke gedung yang baru. Pembangunan diteruskan sehingga dua tahun kemudian gedung-gedung baru dibangun untuk mampu menampung duabelas orang frater. Situasi dan kondisi masa-masa itu yang serba terbatas dan tidak menguntungkan membuat pendidikan calon imam ketika itu masih jauh dari lengkap; dan unsur coba-coba sangat kuat. Seminari Muntilan sesungguhnya hanya suatu kursus bagi pemuda-pemuda agak lanjut usia yang merasa dipanggil Tuhan. Kiranya atas pertimbangan itu, maka pada bulan Mei 1925 dimulailah suatu “seminari kecil” kedua, khusus bagi anak-anak yang baru tamat sekolah dasar HIS (Hollandsch indlandsche School) atau ELS (Europeesche Lagere School) di samping kursus di Muntilan yang menampung mereka yang sudah meraih ijazah guru. Gedung Seminari dengan nama pelindung Petrus Kanisius tersebut dibangun di sebelah barat Kolese St. Ignatius. Ketika dibuka secara resmi setengah tahun kemudian, upacara dihadiri oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan Sri Paku Alam. Gereja St. Antonius satu tahun sebelumnya (1924) sudah selesai dibangun, sehingga seluruh kompleks “Kotabaru” tampak seperti sekarang, kecuali beberapa perubahan kecil di sana-sini. Dengan demikian kompleks Kotabaru merupakan pusat pendidikan calon imam dan pusat kegiatan misi di antara orang Jawa, mirip dengan kompleks Muntilan sebagai pusat pendidikan calon guru dan kader rasul awam. Pada tahun-tahun ini sampai sebelum Jepang masuk, kegiatan seluruh penghuni Ignatius House of Studies tidak hanya sebatas tembok-tembok gedung, yaitu belajar-mengajar, tetapi juga untuk kerasulan ke luar, seperti ke paroki, stasi, kursus katekis, dll. Pada awal berdirinya dan dalam perjalanan selanjutnya, Ignatius House of Studies tidak pernah lepas dari pertumbuhan dan perkembangan Gereja Katolik di sekitar Yogyakarta yang merambat sampai ke daerah Surakarta, seperti yang dapat dilihat dalam kenyataan sejarah pada masa-masa sesudahnya.