Kolsani Sejak Kemerdekaan: Kisah dan Gemanya

Disarikan dari: Tim Kolsani, Meyesuit Lewat Kolsani, Yogyakarta, Kolsani, 1993, hal. 52-65.

Kolese St. Ignatius mengalami perkembangan lewat rentang sejarah yang panjang. Adalah seorang Van Lith yang menyaksikan suatu kekurangan dalam diri para misionaris saat itu, yaitu kemampuan untuk menguasai bahasa setempat. Yang kedua adalah kurangnya pemahaman akan adat istiadat setempat. Dengan menyadari hal tersebut, Van Lith pun membangun langkah konkret untuk menanggapinya, seperti tampak dalam upayanya untuk menterjemahkan doa ke dalam bahasa Jawa. Lebih daripada itu, Rama Van Lith juga melakukan kontak langsung dengan pelbagai lapisan masyarakat. Ia tanggap akan tanda-tanda jaman. Ia akhirnya memilih pendidikan sebagai ajang misi. Di situ ia menanamkan cita-cita, pandangan, dan semangat berkorban. Perkembangan misi di Yogyakarta begitu mengesankan dan berkembang pesat. Yogyakarta mengalami kemajuan yang berarti. Yayasan Kanisius mulai berdiri tahun 1918 untuk mengelola sekolah misi. Para bruder FIC hadir di Indonesia tanggal 15 September 1920, dan ikut berkarya di Yogyakarta. Peletakan batu pertama pada tanggal 18 Februari 1923 di Jalan I Nyoman Oka ternyata memiliki makna tersendiri. Dengan latar belakang ini pemilihan kota-desa Yogyakarta kiranya dapat dipahami, yaitu bahwa Yogyakarta dekat dengan Muntilan, sekaligus juga merupakan pusat kebudayaan kraton Jawa. Ada faktor lain yang rupa-rupanya juga melatarbelakangi keputusan ini. Pada kurun waktu ini, kekristenan telah mencapai tidak kurang 25% dari seluruh penduduk DIY; 10% darinya adalah Katolik.

Beberapa pola kegiatan yang diupayakan dalam Kolese St. Ignatius sejak masa sesudah kemerdekaan sampai sekarang antara lain berupa:

a) Pelayanan iman dengan mengumpulkan kembali jemaat; kegiatan ini berlangsung pada periode tahun 1945-1960.

b) Pelayanan iman dan karya sosial. Periode tahun 1966 terjadi kemiskinan sesudah masa pergolakan politik sehingga muncul banyak gelandangan dan orang miskin. Pada saat inilah penghuni Ignatius House of Studies merintis gerakan yang kemudian disebut YSS cabang Yogya bagi kaum gelandangan.

c) Pelayanan iman dan kerasulan intelektual. Periode tahun 1970 ditandai dengan keadaan di mana Kolese St. Ignatius yang telah menjadi tempat studi teologi lebih diperkokoh lagi dengan begitu banyaknya karya tulis yang diterbitkan oleh para penghuninya. Para anggota Serikat memiliki kegiatan tetap seperti mengelola majalah Rohani, YSS, mengajar agama di perguruan tinggi, dan memberikan pendampingan dalam rekoleksi ataupun retret. Demikianlah, Kolese St. Ignatius pada awalnya lebih merupakan pusat kerasulan, pusat teologi, dan rumah formasi khususnya tahap teologi pra-imamat. Tugas perutusan yang diemban dalam Kolese St. Ignatius adalah belajar dan mengajar teologi, dengan kata lain suatu kerasulan intelektual dalam bidang teologi.

A. Kolese St. Ignatius sebagai Pusat Kerasulan.
Kolese St. Ignatius pada mulanya lebih merupakan pusat kerasulan dan pelayanan jemaat di Yogyakarta dan sekitarnya. Para anggota Serikat Yesus melayani jemaat secara tetap. Mereka jugalah yang telah membuka dan merintis lingkungan-lingkungan Katolik Yogyakarta dan sekitarnya.

B. Kolese St. Ignatius sebagai Pusat Studi Teologi.
Perkembangan memperlihatkan bahwa kemudian Kolese St. Ignatius semakin memantapkan diri sebagai semacam pusat teologi. Kolese St. Ignatius sebagai tempat studi teologi mempunyai peran khusus dalam proses Indonesianisasi Teologi Katolik.

C. Teologi di Kolese St. Ignatius.
Para dosen yang berasal dari anggota Serikat Yesus telah lebih dari 15 tahun memperkenalkan metode Teologi Proyek yang bertitik pangkal pada pengalaman iman pribadi dalam relasinya dengan pengalaman hidup orang sekeliling. Model ini dimulai dengan kegiatan penelitian tinggal-terlibat (participant observation). Dari model ini muncullah gerakan teologi kontekstual yang lebih merupakan prinsip untuk keterlibatan pada pengalaman religius kemasyarakatan di Indonesia. Singkat kata, Teologi kontekstual bertitik pangkal pada pengalaman religius masyarakat.

D. Perjalanan Pelembagaan Teologi.
Dalam perkembangannya, bertambahlah kebutuhan dari berbagai pihak untuk belajar teologi. Beberapa konggregasi dan ordo yang lain mengirimkan mahasiswa-mahasiswinya untuk belajar Teologi. Dalam fase pertama, tahun 1967, para mahasiswa dari  Serikat Yesus belajar teologi secara tersendiri di bawah bimbingan dosen-dosen Serikat Yesus. Layak dicatat bahwa sejak tahun 1961 Seminari Tinggi sudah mempunyai afiliasi dengan Sanata Dharma (yang dimulai di gedung Jalan Code di bagian yang dikosongkan oleh para teologan SY. Mulai tahun 1967 kerja sama ini ditingkatkan, yang pada tahun 1968 menghasilkan IFT (Institut Filsafat dan Teologi), yang didirikan oleh Yayasan Driyarkara, suatu patungan antara KAS dan SY. Setelah kompleks Kentungan selesai 1968, seluruh aktivitas kuliah dipindahkan ke sana. Pejuang gigih untuk IFT ini adalah Tom Jacobs yang sudah mempersiapkannya di Roma. Fase kedua adalah pembentukan Fakultas Teologi “Wedabhakti” (tahun 1984), yang gelarnya diakui oleh Vatikan. Fase ketiga adalah berkembangnya Teologi sebagai ilmu dan upaya pengungkapan serta perumusan iman. Fase terakhir cenderung membentuk polarisasi. Ignatius House of Studies juga menggagas terbitan-terbitan. Gagasan dasar yang melatarbelakangi karya-karya penulisan tersebut adalah tantangan bagaimana mengungkapkan dan merumuskan pengalaman iman dalam berbagai bentuk secara tertulis. Dalam hal ini, teolog protestan tampak lebih terkoordinir dan mampu menghasilkan Gema, majalah teologi yang terbit empat kali setahun. Karya tulis dalam tema teologi oleh para teologan Kolese St. Ignatius kiranya paling mencolok dapat dilihat dari karya tulis mereka dalam majalah Rohani, dan majalah Hidup. Para teologan juga tidak jarang menyodorkan tema kemasyarakatan di majalah umum atau surat kabar.