Reorientasi: Melihat ke Depan dengan Berangkat dari Kenyataan

Disarikan dari: Tim Kolsani, Meyesuit Lewat Kolsani, Yogyakarta, Kolsani, 1993, hal. 66-71.

Bukanlah suatu kebetulan kiranya kalau Kolese St. Ignatius berada di Yogyakarta. Salah satu atribut yang disandang kota ini adalah “kota pelajar”. Kiranya hal ini membuka peluang dan kesempatan yang besar bagi Kolese St. Ignatius. Di Yogyakarta banyak ditemui pelajar-pelajar, dari kelompok siswa sekolah dasar, menengah sampai perguruan tinggi. Kaum intelektual, baik para dosen maupun pemikir bebas, juga tidak sedikit dijumpai. Itu berarti “iklim ilmiah” memang dapat diharapkan menyuasana dalam kegiatan kota sehari-hari. Seringnya diselenggarakan seminar, pameran ilmiah, pertunjukan seni di kota ini, mencerminkan semua itu. Dalam lingkungan semacam itu, Kolese St. Ignatius sungguh dapat diharapkan mampu berbuat sesuatu. Kolese St. Ignatius dapat diharapkan menyumbangkan sesuatu kepada masyarakat ilmiah Yogyakarta. Ini bukanlah sebuah harapan kosong karena Kolese St. Ignatius sebenarnya memang memiliki kemampuan untuk itu. Penghuni Kolese St. Ignatius yang sebagian besar terdiri dari para dosen dan mahasiswa bergelar, kiranya memang merupakan suatu hal yang sangat mendukung demi tercapainya harapan itu. Dari pengalaman belajar, minimal filsafat, dan bekerja dalam masa tahun orientasi kerasulannya, mereka sungguh dapat dipastikan kemampuannya dalam menjawab tantangan dari luar tersebut.

Ada dua hal yang sekurang-kurangnya dapat dilakukan untuk itu. Yang pertama menyangkut keterlibatan dalam menimba gagasan. Ini dapat dilakukan melalui studi formal di Fakultas Teologi Sanata Dharma (FT-USD) – Fakultas Teologi Wedabhakti (FTW) serta dalam studi mandiri. Kontak ilmiah melalui buku-buku atau diskusi-diskusi kiranya  merupakan sesuatu yang sangat menguntungkan. Studi yang dilakukan tentunya tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan objektif di FT-USD/FTW tetapi lebih bersifat umum, yakni untuk menambah wawasan. Dengan itu dapat diharapkan adanya keluasan sudut pandang dalam menghadapi suatu persoalan. Yang kedua berhubung dengan pelakunya. Bahwa penghuni Kolese St. Ignatius sebagian besar adalah religius sekaligus mahasiswa tentunya dapat menjadi unsur positif untuk mendekati kaum muda pada umumnya. Kaum mahasiswa Katolik sendiri mengatakan bahwa mereka membutuhkan pendekatan dan pendampingan itu, terlebih dari dimensi spiritual dan kemanusiaan. Pendampingan itu sangat diperlukan untuk membantu menawarkan kesadaran bagi kelompok yang acuh tak acuh, dan mengarahkan kelompok yang sudah cukup aktif bergerak. Bagi si religius sendiri hal itu merupakan kesempatan yang baik untuk berupaya bekerja-sama, berdialog, berkomunikasi, menanggapi apa yang mereka butuhkan sebagai persiapan diri sebelum terjun langsung dalam karya selanjutnya. Pada dasarnya tantangan-tantangan itu memberikan kesempatan kepada penghuni Kolese St. Ignatius untuk menjadikan dirinya semakin terlibat dalam proses menggereja dan memasyarakat. Unsur belajar terus-menerus dari situasi dan pengalaman yang ada dalam rangka mencari “yang lebih” kiranya diharapkan semakin mendarat. Juga, melalui tantangan-tantangan itu diperoleh kesempatan untuk mewujudkan apa yang sedang menjadi keprihatinan akhir-akhir ini, yaitu pewartaan Kabar Gembira dan penegakan keadilan. Melalui studi, pihak Kolese St. Ignatius tertantang untuk mendalami karisma dan keprihatinan Serikat Yesus, dan melalui kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler orang tertantang untuk menjabarkan dan menularkannya kepada pihak luar. Dengan demikian Kolese St. Ignatius sungguh merupakan bagian dari masyarakat dan bukan sebuah “bangunan” megah yang berdiri sendiri di luar persoalan-persoalan dunia sekitarnya.Kolese St. Ignatius adalah komunitas beriman yang terbuka, di mana para penghuninya menjadi bagian kecil saja dari dunia, dan bahkan dunia itu sendiri ada “di dalam” komunitas tersebut.

Apakah tantangan-tantangan itu dapat dengan mudah dijawab? Apakah harapan-harapan tersebut di atas dengan begitu dapat dipenuhi? Adakah jalan untuk ”reorientasi”? Istilah “reorientasi” mengandaikan adanya sesuatu yang telah ada dan berjalan, dan masih mau diperbaharui ke arah yang lebih diharapkan. Pertama, “reorientasi” itu mungkin mesti dipahami sebagai peningkatan mutu atau kualitas. Dengan demikian apa yang ada mungkin tidak perlu dibongkar pasang. Kedua, kebaruan yang dimaksudkan dengan “reorientasi” dengan demikian tidak pertama-tama ditentukan oleh hasil. Kiranya yang penting dalam reorientasi adalah prosesnya. Yang dibutuhkan di sini adalah kondisi agar masing-masing pribadi dapat menggunakan kemampuan dan minatnya untuk terus mencoba dan mencoba merealisasikan dirinya.