Soegijapranata dan Soal Kebangsaan

soegijaSarasehan dengan tema “Mgr. Soegijapranata dan Soal Kebangsaan” ini membuka rangkaian Sarasehan IHS Peringatan 90 Tahun Kolese St. Ignatius. Sarasehan ini berlangsung pada Minggu, 23 September 2012 di Pendopo Kolese St. Ignatius. Pembicara pada sarasehan pertama ini adalah Romo Murti Hadi, SJ, Djaduk Ferianto, dan Romo Bagus Laksana, SJ.

Sebagai pembicara dalam sesi pertama, Romo Murti selaku Produser dari Film Soegija menyampaikan bahwa latar belakang dari pembuatan film ini adalah keinginan dari SAV untuk menyediakan video dokumentasi bagi Sejarah Gereja. Salah satu caranya adalah dengan mengangkat tokoh-tokoh besar Gereja yang berperan pada perkembangan Gereja dan masyarakat. Film Soegija ini merupakan film ke-katolik-an, namun melalui film ini kita tidak ingin berdakwah tentang Gereja. Melalui film ini kita ingin berbicara soal kebangsaan. Soegija sendiri, sebagai seorang uskup, selalu berpikir ke luar, berpikir soal kebangsaan. Beliau mau berbicara tentang kebangsaan dari sisi agama minoritas. Film ini juga merupakan film kemanusiaan. Dalam film ini diperlihatkan bagaimana orang-orang Cina Semarang tempo dulu yang pernah menjadi korban penjarahan pada masa penjajahan. Di sisi lain, film ini adalah film keluarga, dengan banyak segmen yang berkisah mengenai permasalahan-pemasalahan yang dihadapi oleh keluarga. Pun pula, film ini ingin menampilkan sosok Uskup Soegijapranata sebagai seorang pahlawan. Beliau adalah sosok pejuang kemerdekaan Indonesia yang terlibat dalam upaya-upaya perdamaian, seperti yang terjadi saat perang lima hari di Semarang. Sosok Soegija ingin selalu dekat dengan para pemimpin. Salah satunya, beliau bersahabat dengan tokoh nasional yaitu Soekarno. Soegija sebagai pemimpin Gereja memiliki jiwa nasionalis yang tinggi. Pada pidatonya di Solo, beliau mengatakan bahwa “Gereja Katholik berdiri untuk Bangsa Indonesia”.

Dalam kesempatan ini pula, Djaduk Ferianto mengungkapkan bahwa keputusan untuk mengangkat Soegija sebagai sebuah film layar lebar membutuhkan proses selama dua tahun. Keputusan ini berdasarkan pada keinginan untuk membuat sesuatu untuk bangsa Indonesia. Soegija merupakan ‘pahlawan yang terselip’. Ketika agama dimanfaatkan di ranah politik, Katholik harus masuk lewat film ini untuk mengangkat Soegija dengan prinsip 100% Katholik 100% Indonesia. Proses kreatif pembuatan film Soegija ini termasuk dalam pembuatan syair dan melodi.

Setelah pemaparan dari Djaduk Ferianto, para peserta diperlihatkan mengenai proses ‘behind the scene’ dari film Soegija. Kemudian muncullah beberapa pertanyaan pada sesi tanya jawab seputar reaksi masyarakat. Film ini dikritik sebagai sarana kristenisasi. Ada pula kritikan yang terkait dengan teknis film. Namun, Djaduk Ferianto mengatakan bahwa kritik itu adalah pupuk, ketika kehilangan kritik justru itu ‘bahaya’. Romo Murti selaku produser menyatakan bahwa ini adalah gaya ”gereja” yang baru. Ini merupakan gaya “pewartaan baru”. Ditambahkan oleh Romo Banar bahwa impian dari Gereja adalah “Gereja tanpa Dinding, Gereja Subjek Budaya”. Angka nominal uang tidak lebih penting daripada nilai yang mau dicapai melalui film ini.

Dalam sarasehan ini, Romo Bagus Laksana SJ mendapatkan kesempatan untuk memaparkan refleksi teologis mengenai generasi Soegija. Diingatkan bahwa apa yang digeluti oleh generasi Soegija adalah soal Agama, Ras, dan Kebangsaan. Generasi Soegija adalah diskusi multikuturalisme. Pada tahun 1940-an, Generasi Soegija merupakan orang-orang Jawa Katholik yang pada jaman itu mau menunjukkan solidaritas dengan orang Belanda yang diserang Jerman. Hal ini ditunjukkan dalam Swara Tama. Pada waktu Mrg. Soegijapranata ditahbiskan, muncul laporan di majalah bahwa “Agami Katulik sanes agami Walandi”. Penekanan teologi sosial pada generasi Soegija adalah bahwa Gereja menyatukan semua ras. Dengan prinsip universal, Gereja tidak memandang ras, termasuk dalam hirarki Gereja. Muncullah semboyan 100% Katholik 100% Indonesia. Namun kini semboyan tersebut sudah menjadi ‘melow’ karena kurang ada dimensi pergerakkannya.

Setelah pemaparan Romo Bagus Laksana SJ, kembali dibuka sesi tanya jawab. Muncullah pertanyaan mengenai prinsip universalisme dan nasionalisme; tentang kaum yang minoritas menjadi yang mayoritas. Muncul pertanyaan pula tentang film yang memberi kesan adanya nuansa feodalisme, misal: mencium tangan uskup! Bagaimana bisa menjadi universal kalau masih feodal? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian ditanggapi oleh Romo Bagus bahwa jikalau kebangsaan memecah belah persaudaraan, maka universalitas ini patut dipertanyakan. Ketika nation state mulai ada, mucullah the bloodiest era. Kebangsaan tidak bisa menjadi tujuan dari dirinya sendiri. Mayoritas dan minoritas adalah konsep dengan kompleksitas tinggi. Misal: saat mayoritas memaksakan sesuatu, di sana ada friksi-friksi. Tetap saja tampak situasi tidak stabil. Di tengah yang mayoritas pun ada banyak perdebatan. Jadi ketika ada kepentingan di tengah-tengah yang mayoritas, di sana ada konflik internal. Nuansa feodalisme dalam film tersebut tercatat dalam laporan Swara Tama, bahwa pada saat tahbisan uskup waktu itu pun, ternyata masih ada pembedaan antara tamu Jawa dan tamu Belanda.

Pertanyaan terus berlanjut. Salah satunya berasal dari seorang Romo mengenai apakah teologi sekarang ini maju atau “mundur” – atau dalam bahasa Carlo Martini dikatakan mundur 200 tahun. Apakah kita maju dengan kesadaran akan ketertinggalan kita? Romo Bagus Laksana SJ mengatakan bahwa perlu kritik pada diri kita, ketertinggalan ini pun layak untuk terus disadari. Kita memang ketinggalan tetapi semoga ini bukan ketertinggalan yang disengaja.

Sarasehan IHS kemudian ditutup dengan makan siang bersama. Dalam acara penutup ini, seluruh peserta membaur satu sama lain.

Review Film Soegija (bdk. “Kemanusiaan itu Satu”, dlm. Kompas, Edisi Minggu, 3 Juni 2012, hal. 3) Perang ibarat gurun pasir: panas, luas, kering, tandus, sarang ular. Namun di tengah gurun peperangan selalu muncul oase. Dalam perang kemerdekaan bangsa Indonesia (1940-1949) yang dibalut oleh perang besar Asia Pasifik, oase itu muncul melalui sosok Soegijapranata. Soegija kecil adalah manusia biasa. Ia merupakan anak kelima dari keluarga Karjasoedarma, seorang abdi dalem Keraton Surakarta. Setelah keluarganya pindah ke Yogyakarta, hidup Soegija remaja berubah setelah bertemu dengan Romo Fransiskus Xaverius van Lith, SJ. Oleh Romo van Lith, Soegija diajak untuk melanjutkan sekolah di Muntilan. Lalu ia dibaptis pada 24 Desember 1909 dengan nama permandian Albertus.

Soegija menemukan panggilan untuk menjadi imam pada tahun 1916. Tiga tahun kemudian, ia berangkat ke Belanda dan belajar di Gymnasium, Leiden. Soegija resmi bergabung dengan Ordo Serikat Yesus (SY) melalui novisiat SY di Meriendaal tahun 1920. Soegijapranata diangkat sebagai uskup pribumi pertama dalam sejarah Gereja Katholik Indonesia pada tahun 1940, saat perang kemerdekaan sedang berlangsung. Pada masa itulah Soegija muncul sebagai oase, sesosok orang yang amat mencintai tradisi, bangsa, dan negaranya. Meski tidak langsung terjun ke medan perang, namun Soegija berani melawan tentara Jepang.

Soegija memiliki keyakinan bahwa kemanusiaan adalah satu. Keyakinan itu sangat mewarnai tindakannya menghadapi peperangan, ironi, keraguan, kerapuhan kekuasaan, setelah Indonesia merdeka. Dalam sebuah kesempatan, Soegija menyatakan bahwa “Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar.”

Sosok Soegija hadir bukan (hanya) sebagai sosok seorang imam. Beliau bukan tampil dengan kekatholikannya melainkan pribadi yang peduli dengan tragedi kemanusiaan yang terjadi di tanah airnya. Soegija menghadapi tragedi kemanusiaan yang terjadi di sekelilingnya, yang menimpa orang-orang di dekatnya tanpa mengenal suku, agama, ras, bahasa, ataupun adat-istiadatnya. Soegija ingin menyatukan kembali kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang terkoyak oleh kekerasan dan kematian. Perjuangan Soegija sungguh nampak juga melalui usaha diplomasinya, sehingga Vatikan menjadi negara pertama yang mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka. Dalam masa pendudukan Belanda dan Jepang sampai pada agresi militer Belanda, peran uskup Soegija sangat nampak terasa. Ia mengusahakan gencatan senjata kala situasi genting di Jawa Tengah. Bahkan beliau memindahkan pusat keuskupan dari semarang ke Yogyakarta sebagai bentuk dukungan kepada Presiden Soekarno.

Film Soegija sekali lagi bukan hadir untuk menampilkan sisi kekatholikan Soegijapranata, namun berbicara mengenai nilai-nilai kemanusiaan yang pernah dilakukan oleh Soegija. Diharapkan melalui film ini, penonton mendapat warisan perjuangan nilai-nilai kemanusiaan yang dilakukan Soegija. “Apa artinya terlahir sebagai bangsa merdeka, jika gagal untuk mendidik diri sendiri”, tegas Soegija.