TOR Peringatan 90 Tahun IHS

MERETAS BATAS:

Beriman dalam Tantangan Kemiskinan, Radikalisme Agama, dan Lingkungan Hidup

Perjalanan sejarah Kolese Ignasius Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari peran dan keterlibatannya, baik dalam konteks Gereja dan masyarakat setempat, maupun dalam arti tertentu, juga dalam lingkup nasional serta internasional. Peran dan keterlibatan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kenyataan dirinya sebagai salah satu ‘wajah’ dan institusi kehadiran Serikat Yesus dan Gereja. Peran dan keterlibatan Kolese Ignasius Yogyakarta tidak saja ingin direfleksikan namun pula hendak diteruskan. Oleh karena itu, peristiwa peringatan 90 tahun kehadiran Kolese Ignasius Yogyakarta tidak saja akan dijadikan sebagai saat untuk membuat refleksi namun pula saat untuk menata langkah demi penerusan peran dan keterlibatannya yang semakin berarti bagi perjalanan selanjutnya.

Peringatan 90 tahun Kolsani ini ditempatkan juga dalam peristiwa besar lainnya, dalam konteks kehadiran Yesuit di Indonesia, yaitu peringatan 150 tahun kelahiran P. Fransiskus Van Lith, 100 tahun kelahiran Nikolaus Driyarkara dan peringatan 50 tahun wafatnya Mgr. Albertus Soegijapranata. Peringatan akan ketiga tokoh itu sendiri tidak bisa dilepaskan pula dari fungsi Kolese Ignasius, dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, intelektual dan pastoral. Ketiga fungsi tersebut tidak hanya terbangun dalam lingkup gerejani namun juga dalam sumbangannya bagi masyarakat sekitar.

Sebagai proses refleksi, peristiwa peringatan 90 tahun Kolsani dipakai untuk belajar dari pengalaman masa lalu, dari apa yang telah berjalan selama ini. Diharapkan bahwa kemudian kita bisa menyusun langkah ataupun memikirkan terobosan bagi peran dan keterlibatan Kolsani untuk masa depan. Dalam kerangka itu pulalah, refleksi ditempatkan dalam ruang gerak Yesuit Indonesia, dengan tiga arah programatiknya, yaitu: kemiskinan, radikalisme agama dan lingkungan hidup. Diharapkan dengan itu, Kolsani ikut serta dalam gerak langkah provinsi, dan ikut memberi sumbangan bagi provinsi, baik demi refleksi maupun bagi gerakan yang terkait dengan tiga arah yang hendak dibangun oleh Yesuit Provinsi Indonesia. Untuk mempertajam refleksi, kita akan mendengarkan pula catatan ataupun harapan dari pihak luar, di samping juga untuk merefleksikan kembali peran serta keterlibatan komunitas, terlebih lewat kegiatan para frater teologan, di tengah konteks tiga arah programatik tersebut.

Tentu semua ini dijalankan di tengah rutinitas hidup Kolese Ignasius. Oleh karena itu, rangkaian acara yang digagas hendak dilaksanakan dengan memanfaatkan agenda rutin dan rangkaian peristiwa komunitas, seturut dinamika Serikat dan Gereja yang menyertainya. Rangkaian tersebut sebenarnya sudah dimulai lewat agenda sarasehan IHS di semester ganjil tahun ajaran 2012/2013, dan dilanjutkan dalam pelbagai rangkaian acara selanjutnya, dengan puncak acara pada hari panggilan Provindo, 31 Oktober 2013.

Dalam kerangka itu semua, berbagai rangkaian acara pun telah direncanakan. Ada rangkaian acara yang bersifat akademis-intelektual, baik dengan seminar-sarasehan, maupun juga dengan penerbitan. Sebagai sebuah rumah dan institusi di tengah masyarakat, diagendakan pula serangkaian acara yang lebih mau menyapa masyarakat setempat, baik lewat pengobatan gratis maupun acara budaya. Namun secara khusus, dalam kaitannya dengan sapaan bagi kaum muda, direncanakan pula berbagai lomba – yaitu film pendek, foto, blog dan essay – serta tentu saja pameran akan hasil-hasil lomba tersebut. Hal ini dimaksudkan tidak saja untuk memperkenalkan dan menghadirkan Kolsani di kalangan kaum muda, namun juga dipikirkan sebagai salah satu sarana bagi promosi panggilan.

Tentu, sebagai sebuah komunitas religius, acara yang bersifat spiritual pun direncanakan pula. Perayaan Ekaristi syukur di hari ulangtahun, 18 Februari 2013, dan puncak rangkaian acara, 31 Oktober 2013, telah diagendakan. Selain itu, akan ada juga acara yang lebih bersifat refleksi internal komunitas, lewat rekoleksi, sambil mengingat bahwa tahun 2013 adalah tahun yang dicanangkan oleh Provindo sebagai Tahun Komunitas. Mengingat bahwa dalam sejarahnya Kolsani pernah berperan sebagai ‘pusat’ misi di daerah sekitar Yogyakarta, lewat kehadiran para frater dan romo yang tinggal di komunitas tersebut, bagi pelayanan dan pewartaan iman Gereja, maka direncanakan pula upaya untuk membuat semacam retret umat, dengan memanfaatkan peristiwa gerejani: Pra-Paskah.