Van Lith dan Misinya di Jawa Tengah

Disarikan dari: Tim Kolsani, Meyesuit Lewat Kolsani, Yogyakarta, Kolsani, 1993, hal. 28-42.

Pater Van Lith merupakan figur yang begitu menggores dalam sejarah Katolik di Jawa. Pada tanggal 8 september 1894, Van Lith ditahbiskan menjadi imam. Pada umur 33 tahun, untuk pertama kalinya, ia datang ke Indonesia, khususnya Jawa Tengah, sebagai misionaris pada tahun 1896. Pater Van Lith merupakan pribadi yang ramah, supel, mampu bergaul dengan siapa saja, tidak membedakan golongan sosial dan perbedaan agama. Van lith tidak mementingkan jubah, tetapi penampilan otentik. Beliau tidak mementingkan bahwa orang harus dibaptis dan masuk Katholik; apa yang mendesak bagi beliau adalah semangat iman. Beliau tidak mementingkan Gereja secara institusional, tetapi Gereja yang menjadi ragi bagi masyarakat umum. Fokus pelayanannya lebih diletakkan pada gladi hati. Van Lith tidak mementingkan kuantitas warga yang masuk Katholik tetapi lebih menekankan kualitas orang Jawa dalam mengolah hati, sikap batin untuk menjadi Katholik. Strategi awal Van Lith setelah menetap di Muntilan 1897 adalah pendekatan dengan rakyat, memahami, mengenal dan mendapatkan kepercayaan dari rakyat yang nantinya akan dilayaninya. Strategi Van Lith ditemukan dalam ungkapannya “kita akan membawa orang Jawa kepada Kristus dengan masuk ke dalam rumah mereka, dengan menyembuhkan orang sakit dan mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah sampai kepadamu.”

Pater van Lith datang ke Jawa bersama dengan Pater Hoevenaars. Dalam melaksanakan karya misinya, keduanya memiliki perbedaan. Pater Van Lith berpandangan bahwa seorang misionaris di tengah-tengah orang Jawa seharusnya “menjadikan dirinya seorang Jawa” pula. Ini adalah suatu “cara”, “pendekatan” yang memang tidak secara langsung membawa orang kepada Kristus. Sedangkan Pater Hoevenaars berpendapat bahwa sebaiknya seorang misionaris bertindak sebagai “bapa pendidik”. Van Lith mengakhiri misi penjelajahannya ke desa-desa dengan memfokuskan pikirannya pada masalah pendidikan dan pengajaran. Dasar pemikiran pendirian sekolah Muntilan adalah bahwa “misi” harus mampu menciptakan sarana yang efektif, efisien dan “multiplying effects” yang dapat mempengaruhi masyarakat dengan semangat Injil: menaburkan benih-benih Injili. Ia merealisasikan dua prinsip, yaitu pembentukan watak dan mental dibarengi dengan “pencetakan” pemimpin. Konkretisasi kedua ide tersebut dipadatkan dalam satu sekolah yaitu Kweekschool dengan sistem asrama. Strategi pendidikan dan pengajaran di sekolah pertama adalah penguasan bahasa Belanda, dan yang kedua adalah penguasaan serta pendalaman kebudayaan/adat-istiadat Jawa. Sekolah Van Lith sangat terbuka terhadap kebudayaan lain, tetapi tetap berpijak pada kebudayaan pribumi. Ini adalah usaha Van Lith untuk menggabungkan iklim Barat (metode sekolah yang berdasarkan metode Barat) dengan iklim Timur (tetap mau menghargai kebudayaan Jawa). Dampak positif didirikannya sekolah Van Lith adalah sekolah Muntilan yang tujuannya “mencetak guru bantu” – ditiru oleh pemerintah. Juga, tampak adanya ide Normaalschool (kursus empat tahun dengan asrama yang mendidik guru-guru sekolah dasar), termasuk munculnya banyak tokoh politik. Kiprah Van Lith juga nampak dalam dunia poltik. Pada tanggal 18 Desember 1918 terbentuklah komisi Herzienings-Commissie (HC) di Volksraad (Dewan Rakyat) yang tujuannya adalah untuk mempersiapkan satu susunan tatanegara baru. Pada waktu itu, Van Lith diangkat menjadi anggota Herzienings-Commissie ini. Van Lith melihat bahwa semua pihak, yang berkepentingan di Hindia Belanda menginginkan pemerintahan sendiri baik yang berada di pemerintahan Belanda, golongan Indo, maupun Pribumi. Karena alasan itu, Van Lith menolak menyetujui usul Herzienings-Commissie yang akan membuka jalan supaya mayoritas Volksraad jatuh ke pihak Belanda di Hindia. Sebaliknya ia mengusulkan – meskipun ditolak – agar menyusun suatu stelsel dua kamar yang terpisah satu sama lain untuk mengantispasi penguasaan golongan Belanda.