Driyarkara dan Pancasila

romo-driyarkara-sjSarasehan IHS yang mengambil tema tentang “Prof. N. Driyarkara dan Pancasila” merupakan rangkaian sarasehan penutup pada tahun 2012 ini. Sarasehan ini berlangsung pada hari Minggu, 2 Desember 2012 di Pendopo Kolese St. Ignatius.

Pada sarasehan kali ini, dihadirkan 2 orang pembicara yaitu Frater Yudho, SJ, yang masih mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, dan Romo Mutiara Andalas, SJ. Sesi pertama dibuka oleh Frater Yudho yang mengajak para peserta untuk mengenal lebih dekat tentang sosok Driyarkara. Menurut Driyarkara, filsafat merupakan kedalaman hidup. Tiga metode untuk merefleksikan Pancasila menurut Driyarkara adalah:

1) berpikir tentang Pancasila melalui pengalaman sehari-hari,
2) membatinkan Pancasila, dan
3) menjalankan Pancasila secara dialektis.

Dasar refleksi yang dilakukan oleh sosok Driyarkara adalah Pidato Soekarno. Caranya adalah dengan mengutip, memberi pendalaman dan kritik. Driyarkara tidak masuk ke dalam wacana tentang Pancasila lewat pertentangan ideologi tetapi justru masuk dalam sisi manusia-nya.

Menurut pandangan Driyarkara, manusia terhubung dengan alam; dengan alam, manusia menerima nasibnya, tetapi juga bisa memberikan arti atau makna. Driyarkara mengistilahkannya dengan pengertian Membudaya dan Membudayakan. Dengan kata lain, manusia cenderung bersatu dengan membentuk komunikasi dengan sesama dan yang menyatukan adalah cinta kasih. Benci adalah bentuk penyelewengan dari cinta kasih.

Kodrat manusia menurut Driyarkara adalah ada bersama dengan cinta kasih kepada Tuhan. Menurut Driyarkara, Pancasila sebagai dalil filsafat berarti bahwa manusia ada bersama dengan cinta kasih yang merupakan wujud dari perikemanusiaan. Prinsip-prinsip yang mengikat manusia dalam kebersamaannya kemudian dikenal dengan istilah demokrasi. Realitas ini sebenarnya relevan untuk semua manusia, tidak hanya manusia di Indonesia. Pancasila sebagai Dasar Negara sendiri mengandung tujuan untuk kesejahteraan umum. Pancasila berada di tengah agama dan sekularitas, di mana agama tidak bisa mengintervensi negara ataupun sebaliknya. Driyarkara juga mengungkapkan bahwa isi Pancasila adalah humanisme yang sosialistis.

Muncullah beragam tanggapan dari peserta sarasehan. Misalnya, pertanyaan mengenai bagaimana rumusan akhir dari sila 1, serta bagaimana bila perdamaian kemungkinan justru menjadikan tidak bersatu (sila 3)?

Menanggapi pertanyaan tersebut, Frater Yudho menjelaskan bahwa maksud akhir dari sila 1 adalah bahwa manusia menerima kelebihan dan kekurangan serta tersungkur di hadapan Tuhan. Citra manusia yang mendalam mengakui bahwa ada yang terbatas, tetapi menyadari pula ada kasih. Hidup itu berproses, sadar adanya realitas jahat dan ambivalen; karena itu, manusia diajak untuk bersikap diskretif menuju Allah. Jiwa menyatu dengan Allah melalui keseimbangan dalam doa dan karya. Tentang sila 3, menurut Driyarkara, apa yang dimaksud persatuan adalah dengan menyadari unsur dalam diri manusia: satria dan benowo (jahat), sisi baik dan sisi jahat. Driyarkara menekankan pentingnya cinta kasih, kalau ada benowo (jahat) harus dikembalikan ke cinta kasih.

Dalam sesi ke-2 sarasehan ini, Romo Mutiara Andalas menyampaikan juga pandangan Driyarkara tentang Pendidikan. Kondisi pendidikan yang ada di Indonesia saat ini masih cenderung individualis dan didominasi oleh negara. Tujuan pendidikan di Indonesia masih terfokus pada dua hal yang bertentangan, yaitu antara pembentukan kepribadian seorang anak atau mendidik untuk dapat hidup bermasyarakat. Keinginan Driyarkara adalah agar tujuan pendidikan tersebut tidak jatuh dalam salah satu kutub. Yang menjadi hak dan kewajiban dari orangtua adalah menjadi pembimbing ke arah kepribadian, sedangkan kewajiban negara adalah mengakui dan melindungi orangtua dalam mendidik anaknya. Pendidikan dapat diselenggarakan oleh negara dengan menyelenggarakannnya langsung, atau memberi kepercayaaan kepada pihak swasta. Konstruksi pengajaran jangan hanya bersifat pragmatis, atau terjebak pada bahaya penyempitan. Pendidikan hendaknya bersifat inkulturatif dan progresif, untuk mendidik dan mengajar, memasukkan manusia baru dalam kebudayaan. Pendidikan juga sebaiknya mengacu pada pengembangan integrasi yang bertujuan untuk menggunakan unsur asli dalam pengajaran demi kemanusiaan.

Kenyataannya, pendidikan selama ini sering jatuh dalam aspek intelektualis saja. Seharusnya dunai pendidikan mengandung unsur pengembangan keberanian, rasa tanggung jawab; menjadi lebih informatif dan formatif; mengantar apa yang implisit menjadi eksplisit melalui riset dan ekskursi. Pendidikan juga harus mengandung unsur pemanusiaan ke arah kebudayaan dan ilmu sosial serta ilmu alam.

Pertanyaan yang muncul pada sesi kedua menyentuh banyak hal, seperti: Apakah sosok Driyarkara pernah mengajar? Lalu bagaimana pandangan beliau tentang pendidikan religiusitas? Frater Yudho, yang banyak mempelajari mengenai sosok Driyarkara sebagai bahan skripsi akhirnya, tidak yakin bahwa Driyarkara pernah mengajar filsafat pendidikan. Mungkin pandangan Driyarkara tentang pendidikan berangkat dari situasi pendidikan yang konteksnya feodal. Ditambahakan pula oleh Romo Henk, bahwa pada saat itu, Driyarkara mengajar filsafat agama dalam konteksnya untuk memahami Allah. Harus diingat bahwa pada waktu itu tidak ada sesuatu yang sangat sistematis.

Driyarkara tidak hanya memusatkan diri sebagai orang Jawa tetapi sebagai orang yang berada di atas semua aliran-aliran itu. Romo Kieser juga memberikan tambahan tentang jejak Driyarkara, bahwa beliau tidak pernah secara langsung bertemu dengan sosok Driyarkara. Mereka hanya melakukan kontak melalui korespondensi terkait dengan jurnal/artikel filsafat.

Selain itu, muncul pertanyaan mengenai bagaimana local wisdom Driyarkara sebagai orang Jawa ditunjukkan? Lalu bagaimana pandangan Driyarkara mengenai konflik inkulturasi? Romo Andalas menanggapi bahwa filsafat pendidikan adalah langkah kedua; karena langkah pertama adalah terlibat dalam pendidikan itu sendiri. Dasar dari perikemanusiaan adalah cinta kasih, yang menunjuk pada teks Injil. Driyarkara merujuk juga pada teks dalam bahasa Jawa dalam kerangka iman Kristiani. Bahasa Indonesia ini masih muda bila dibandingkan dengan bahasa Itali, Jerman, dll. Bahasa Indonesia belum sampai tahap seperti bahasa lain. Menutup diri terhadap budaya-budaya lain adalah sikap yang sangat tidak bijaksana, karena dapat mengerdilkan bangsa sendiri.

Setelah tanya jawab, maka acara ditutup dengan makan siang bersama.

*) gambar: tb99.wordpress.com