Van Lith dan Pendidikan Humaniora

van-lithSarasehan IHS yang kedua ini dilaksanakan pada Minggu, 4 November 2012. Kali ini pembicaranya adalah Bruder Giri, FIC, Bapak Suratin dan Siswa/i SMA Van Lith Muntilan, dan Rm. Hasto Rosariyanto, SJ.

Dalam sarasehan ke-2 ini, sebagai pengantar peserta diajak untuk menonton cuplikan film “Betlehem Van Java”. Dalam kesempatan ini, Bruder Giri banyak menjelaskan tentang sosok Van Lith. Van Lith adalah pelajar yang cerdas dan pekerja keras, gemar membaca kisah-kisah keberanian imam-imam Jesuit yang berjuang demi Gereja. Van Lith adalah pribadi militan yang mencintai gereja, pribadi yang murah hati dan penuh belas kasih namun dibesarkan dalam semangat kerja keras.

Van Lith datang ke Indonesia ditemani oleh Romo-romo Hovenars, Engberg, dan Frencken. Kedatangannya ke Indonesia dilatarabelakangi atas harapan luhur dan kebijaksanaan manusiawi. Kedatangannya sebagai misionaris di Indonesia disambut dengan permasalahan katekis yang berperilaku lalim, peminum opium dan korup. Namun kondisi tersebut membawa titik balik bagi misinya di Pulau Jawa. Van Lith kemudian mendirikan sekolah misi di Muntilan. Karya misinya dimulai dari kebutuhan hidup orang Jawa.

Tolak ukur keberhasilan misi Van Lith adalah kesejahteraan masyarakat, terselesaikannya permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat, seperti: melepaskan petani dari lintah darat, mendirikan asosiasi kredit bagi petani, mengusahakan mesin tenun. Misi utama Van Lith bukan terletak pada baptisan, namun pada kesejahteraan masyarakat. Sisi humanis dalam diri Van Lith nampak dari cara bagaimana beliau mengusahakan berbagai usaha untuk memberdayakan masyarakat, menyelami budaya dan kehidupan masyarakat, dibarengi dengan jiwa nasionalisnya yang tinggi, dan keprihatinannya pada dunia pendidikan di Indonesia. Sesuatu yang khas dari sosok seorang Van Lith adalah imannya yang nyata dalam pembongkaran mentalitas triumfalis, klerikalis, dan yurisdistis, berupa inkulturasi dalam gereja, dalam arti menjadi gereja di tengah dunia non-Katholik.

Visi dan misi Van Lith terangkum dalam peran sebagai agen perubahan sosial, melalui jalur pendidikan (sekolah), untuk mengubah wajah Indonesia, lewat pribadi dengan karakter kekatholikan yang kuat. Jalur pendidikan yang ditempuh oleh Van Lith adalah pendidikan yang berciri humaniora, yaitu pendidikan yang: 1) mencerminkan keutuhan manusia yang membantu manusia agar menjadi lebih manusiawi (hominisasi dan humanisasi), 2) berorientasi pada masa kini dan menuju masa depan, 3) memiliki kepekaan dan kemampuan untuk mengambil secara kreatif di berbagai kehidupan masyarakat, 4) bertransformasi dari sikap “ignorant” ke sikap yang kritis, 5) mengembangkan logos, eros, ethos, dan pathos. Prinsip pendidikan yang diterapkan oleh Van Lith adalah learning by doing, experiencing, living in, problem solving, agen perubahan sosial, dan bonum commune.

Sarasehan kali ini juga menghadirkan Pak Suratin, yang banyak memaparkan mengenai Sekolah Van Lith. Sekolah yang dijiwai dengan semangat Van Lith ini menyelenggarakan pendidikan dengan kurikulum pokok, sesuai kurikulum nasional serta kurikulum pengembangan iman, intelektualitas, wawasan kebangsaan, dan ketrampilan. Perjalanan dalam 3 tahun di Sekolah Van Lith meliputi:
1. Kelas 1 : asrama, pembentukan watak dan kepribadian, dan membangun spiritualitas
2. Kelas 2 : spiritualitas awam, menggereja dan memasyarakat
3. Kelas 3 : panggilan hidup, status hidup, dan profesi.

Dalam sarasehan kali ini diberikan pula kesempatan kepada siswa-siswi, pendamping BP, dan guru pamong dari Sekolah Van Lith untuk sharing dengan para peserta sarasehan yang hadir tentang pendidikan yang diselenggarakan di sana. Menurut para siswa yang bersekolah di Van Lith, pengalaman hidup di asrama awalnya bukan proses yang mudah. Mereka mengalami masa-masa sulit ketika merasakan homesick. Namun rasa solidaritas yang tinggi antar satu sama lain meneguhkan dan menguatkan masing-masing pribadi. Mereka merasa lebih dapat bersosialisasi dengan orang lain dengan lebih baik.

Menurut pendamping BP dari sekolah Van Lith, pendidikan asrama yang diselenggarakan di Van Lith membentuk pribadi yang lebih sederhana, sopan santun, dan disiplin tinggi. Dari salah satu guru pamong di sekolah Van Lith, muncul pula kesan bahwa proses pendidikan yang terselenggara di sana memang disiplin, namun kedisiplinan tersebut dipupuk melalui sapaan dan rasa solidaritas yang tinggi.

Dalam sesi pertama ini muncul beberapa pertanyaan menarik: a) tentang pilihan Van Lith pada Muntilan sebagai tempat beliau mengkaryakan misinya, b) lalu bagaimana seorang Van Lith yang merupakan orang Belanda, yang notabene adalah penjajah, dianggap membawa semangat politik balas budi, c) serta tentang kekhasan dan strategi dari Van Lith dalam menjadikan eksistensi Sekolah Van Lith semakin tampak nyata sampai sekarang.

Van lith membangun pribadi yang kritis, berani dan aktif, serta memiliki kepedulian sosial. Kurikulum di sekolah Van Lith sendiri bersifat khas dengan tekanan khas pada masing-masing tingkat. Kurikulum Van Lith merupakan “Jalan Tengah” antara pendidikan yang diselenggarakan di Seminari dan Taruna Nusantara. Menjawab pertanyaan mengenai latar belakang Van Lith yang merupakan orang Belanda yang dianggap membawa semangat politik balas budi, pembicara menanggapinya dengan menekankan pada sisi kemanusiaan yang melampaui identitas seseorang. Bentuk perjuangan yang diupayakan bagi kemanusiaan mungkin berbeda tetapi tujuan untuk mensejahterakan lewat dunia pendidikan itu tetap sama.

Pada sesi ke-2, Romo Hasto Rosariyanto, SJ menguraikan bahwa pendidikan hanya salah satu karya yang dibuat oleh Van Lith. Di Jawa, Van Lith mempelajari Hinduisme dan Budhisme yang bagi beliau adalah kewajiban. Van Lith juga belajar menguasai bahasa orang-orang dan adat-istiadat kebiasaan masyarakat sekitar. Karya Van Lith menyesuaikan pada konteks waktu itu, seperti misalnya dengan membuat sekolah guru untuk mengajar. Van Lith memilih Muntilan karena dianggap jauh dari pengaruh Belanda dan Mataram.

Van Lith berkarya dengan berangkat pada permasalahan kesejahteraan yang dihadapi masyarakat. Pemikiran Van lith tentang pendidikan adalah:

a) pendidikan melalui asrama,
b) pendidikan yang mendidik para punggawa desa (elitis),
c) pendidikan yang menanamkan nilai kemandirian seperti mengurus pakaian dan menyediakan makanan,
d) pendidikan yang menuntut kualitas tertentu, melebihi dari pendidikan pemerintah,
e) pendidikan bagi pembentukan karakter yang harus sempurna agar bisa bekerja di sekolah pemerintah,
f) dan pendidikan bagi mereka yang tidak dapat melanjutkan pendidikan.

Van Lith sedikit diuntungkan dengan usaha Belanda untuk menyejahterakan masyarakat pribumi melalui politik etis (politik balas budi). Usaha tersebut berjalan beriringan.Proses dan hasilnya pun berjalan baik.

Pendasaran Teologi dari pendidikan yang diselenggarakan oleh Van Lith adalah Surat Rasul Paulus kepada umat di Kolese (bab 3 ayat 11), yaitu bahwa dalam Gereja Kristus tidak ada orang Yahudi, Yunani atau Romawi. Oleh karena itu juga, dalam pendidikan demi kebaikan umum, tidak ada Jawa atau Belanda. Dasar lainnya dalah Latihan Rohani nomer 102.

Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan dari peserta sarasehan tentang kedekatan antara FIC dan SJ: ‘apakah sempat menimbulkan friksi di antara keduanya’? Pertanyaan menarik lainnya terkait dengan kisah tentang para siswa di Sekolah Van Lith yang sering mendapat siswi dari Sekolah Mendut.

Terkait dengan 2 pertanyaan ini, Romo Hasto menanggapi bahwa pendiri Sekolah Mendut adalah Suster Fransiskanes yang idenya memang berasal dari Van Lith. Pernikahan yang terjadi antara siswa Van Lith dengan siswi Mendhut dimaksudkan terlebih untuk merintis keluarga Katholik yang baik. Namun Romo Hasto menekankan bahwa tidak semua siswa Van Lith mendapatkan pasangan siswi dari Sekolah Mendut. Romo Hasto juga menjelaskan, terkait dengan pertanyaan tentang friksi antara SJ dan FIC, bahwa selama imi tidak pernah ada friksi antara keduanya. Yang terjadi justru terjalin kerjasama dalam dunia pendidikan. Saat jumlah imam Jesuit terbatas, maka diundang pertama kalinya para bruder CSA dan menyusul kemudian bruder FIC dan bruder dari konggregasi lainnya.

Muncul juga pertanyaan mengenai tokoh Van Lith sebagai salah satu tokoh penegak fondasi pendidikan: ‘apakah beliau pernah bertemu dengan tokoh lainnya seperti Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara’? Lalu bagaimana Sekolah Van Lith sebagai sekolah yang berbasis agama, menempatkan pendidikan budaya dan bahasa? Menurut Romo Hasto, Ahmad Dahlan, Van Lith, Ki Hajar Dewantara tampaknya tidak pernah bertemu dan berdiskusi. Dalam konteks saat itu, kerjasama antar agama masih terlalu jauh. Pada masa Van Lith (1900-an), kebijakan para misionaris adalah untuk mengenal bahasa dan budaya; dan itu bukan merupakan kebijakan vikaris apostolis.

Bapak Suratin menambahkan bahwa memang di Sekolah Van Lith tidak memiliki kelas bahasa; tetapi untuk pendekatan kebudayaan, sekolah Van Lith memiliki beberapa kegiatan seperti karawitan dan tari Jawa. Seperti pada sarasehan sebelumnya, usai sesi diskusi dan tanya-jawab selesai, maka acara dilanjutkan dengan makan siang bersama.

*) gambar: sejarah.kompasiana.com