Sarasehan IHS “Finding God In All Things” Februari-April 2012

Finding-God-in-All-ThingsMinggu 26 Februari 2012, berlangsung Sarasehan IHS-Kolsani di Ruang Rekreasi Kolsani. Tema besar yang diangkat untuk semester itu (Februari, Maret, April) adalah Finding God In All Things. Sarasehan pertama mengambil tema Menjumpai Tuhan di Perkampungan Sosial Pingit. Ada 40 peserta yang tercatat datang (55 dengan frater dan romo yang lain) yang terdiri dari para volunteer YSS, JSN, lektor kotabaru, mahasiswa-mahasiswi USD, dan frater tarekat lain. Berbeda dengan 3 rangkaian Sarasehan sebelumnya, Sarasehan kali ini melibatkan presentator dari luar Kolsani.

Acara dimulai dengan Sharing dua orang pendamping YSS tentang pengalaman mereka menjadi volunteer. Setelah Sharing, dilanjutkan dengan Pemaparan dari Romo Greg Heliarko tentang Metode Teologi Bernard Lonergan sebagai jembatan mengolah pengalaman dan perjumpaan dengan Tuhan. Paparan Dari Romo Heli memberikan “manual” bagi para volunteer untuk bisa merefleksikan pengalaman mereka untuk dibawa sampai pada tataran religius.

Setelah berlangsung 3 jam, pukul 13.00 acara ditutup dengan makan siang bersama. Sebagai wadah untuk memancing-mengekspresikan-mengembangkan minat teologi, Sarasehan IHS kali ini cukup berhasil memancing perhatian para frater, nampak dari banyaknya pertanyaan yang muncul. Ternyata materi filsafat-teologi yang dibawakan oleh “orang teknik” cukup cespleng diterima orang awam. Gaya senggakan Romo Heli yang khas jogja, memberi jeda pada materi yang sebenarnya cukup rumit ini. Selain itu, bagi peserta lain, muda-mudi dari berbagai macam latar belakang, acara ini diharapkan juga memberikan sesuatu yang baru, semakin membuat kawula muda semakin memaknai hidup dan menjumpai Tuhan mereka.

Hari Minggu IV Maret 2012 kemarin (10.00-13.00) IHS Kolsani menyelenggarakan sarasehan putaran kedua untuk semester ini, dengan mengambil tema: “Menjumpai Tuhan di antara mereka yang ada di Lembaga Pemasyarakatan, disertai dengan refleksi teologis dari John Courtney Murray, SJ (1904-1967)”. Pengalaman pelayanan di LP disampaikan oleh 2 relawan-wati LP dari USD dan dari Univ. Atma Jaya. Pemaparan tentang Teologi John Murray diberikan oleh Romo Kieser.

Tuhan hadir tidak lewat Roti dan Anggur tetapi lewat mereka yang mengalami pergulatan hidup, termasuk mereka yang merasakan ‘bilik gelap’, ‘bilik hantu’, ‘bilik kering’ di LP. Ini sesuai pula dengan lukisan karya Suryo Indratno “Das Hungertuch – Ein Jahr, das Gott gefällt – Neubeginn und Befreiung“ (2000). Murray pun menegaskan, “Is the presence of God constitutive of man’s historical existence or destructive of it? In order that a man may exist, ‘stand forth’ as a man in freedom and in human action, what is required–that he recognize and acknowledge the presence of God, as the Old and New Testaments says, or that he ignore and refuse God’s presence, as the Revolution and the Theater say? In order that a people may exist, organized for action in history as a force to achieve an historical destiny, what is required–that they disown God or own themselves to be his people? What is it that alienates man from himself–the confession of God’s presence in history and in man’s consciousness or the supression of him from history and the repression of him from consciousness? How is it that a man or a people comes to desist, to ‘stand down’ from human and civilized rank, to fall away into absurdity and non-existence–through knowledge of God or though ignorance of him?” [The Problem of God, pp. 120-121].

Minggu, 29 April 2002 kemarin, KOLSANI kembali mengadakan Sarasehan dengan tema “Menjumpai Tuhan di tengah mereka yang memiliki kebutuhan khusus (difabel)”. Sarasehan ini adalah bagian ke-3 dari Serial Sarasehan Bulanan di Semester ini yang mengambil tema besar “FINDING GOD IN ALL THINGS”. Tiga orang pembicara menceritakan pengalaman bekerja di antara mereka yang difabel, di hadapan sekitar 60 peserta yang hadir. Acara dimulai dengan pemutaran film “The Killing Fieds” yang menggambarkan suasana Kamboja dengan Ladang-ladang pembantaian dan akibat penggunaan ranjau darat.

Pembicara pertama adalah Fr. Cahyo dengan pengalaman di Kamboja, terutama bersama korban ranjau darat. Fr. Cahyo menekankan bahwa istilah Difabel (Difference Ability) adalah istilah penghalusan yang tidak tepat. Penyebutan bagi mereka yang menyandang cacat, lebih baik menggunakan kata Disabled Person. Hal itu lebih menegaskan ketulusan. Salah satu refleksi korban ranjau yang disharingkan Fr. Cahyo menulis “Even though I am grown up, I often cry after waking up from a dream of having two legs, running and playing happily in the field with my friends. I know for me it is just a dream but I want this dream to be a true one for others, especially for children living in mine-affected countries like Cambodia.” (Seorang Penyandang Difabel dari Kamboja).

Setelah Sharing dari Kamboja, Suster Chrisentin PMY melanjutkan dengan sharing pengalaman mengajar dan menjadi ibu asrama SLB tuna rungu di Wonosobo. Dalam Sharing, Suster Chrisentin menyampaikan bahwa dia berusaha untuk mengajak anak tuna rungu bangga dengan keadaan mereka. “Aku tuna rungu, namun juga memiliki kelebihan”. Salah satu anak bimbingnya menulis “Tuhan terima kasih karena saya tuna rungu, saya tuna rungu yang rajin. Saya tuna rungu yang normal.” Suster Esther PMY melanjutkan dengan sharing pengalaman menjadi pendamping di Helen Keller Indonesia di Wirobrajan Yogyakarta. Ketika pertama kali mengajar, Suster “ditrenyuhkan” dengan pertanyaan seorang anak yang bertanya “Suster di mana matanya?”. Pertanyaan itu diajukan karena suster mengajak bernyanyi “buka mata-buka mata”. Suster Esther menceritakan bahwa hidup dan bekerja di antara anak yang cacat ganda (tuna rungu PLUS), ia semakin mantab menjawab panggilan Tuhan.

Rm Andalas mencoba merefleksikan pengalaman ketiga pembicara pertama dari kacamata Karl Rahner, dengan judul “Belajar doa untuk kebahagiaan dari kaum difabel”. Walaupun di awal sempat berucap “Panitia terlalu sewenang-wenang menyandingkan Karl Rahner dengan tema Difabel”, Rm Andalas tetap piawai menyampaikan refleksinya dari kacamata Karl Rahner, misalnya dengan mengutip Rahner “Unselfishness is the essential quality of love, wherein the soul rejoices at the every existence of the beloved.” Di Akhir, Rm Andalas menutup refleksi dengan kembali mengutip Rahner “we are to pray in everyday life, and we are to make everyday life our prayer.”

Sarasehan kali ini tidak hanya dihadiri oleh kaum muda rekan-rekan para frater Kolsani, namun juga bapak-ibu yang membaca pengumuman di buku misa Kotabaru. Sarasehan terakhir ini diumumkan juga lewat buku misa Kotabaru. Sarasehan dilanjutkan dengan tanya jawab dan makan siang.