Soli Deo Gloria

Kesungguhan & Kejujuran Studi Teologi Yesuit

G.P. Sindhunata S.J.

Sejak didirikan, Serikat Yesus ternyata sudah langsung bergulat dengan permasalahan studi teologi. Pergulatan itu melahirkan pandangan dan pendirian dalam studi teologi yang khas Serikat. Membaca sejarah pergulatan Serikat Awal, dan tentu saja membaca keprihatinan Ignatius sendiri, kiranya dapat membantu kita untuk menemukan kembali inspirasi, bagaimana sesungguhnya studi teologi yang sesuai dengan tugas perutusan kita di zaman ini. . 1

Belajar teologi sebagai pergulatan

“Menolong jiwa-jiwa” itulah motif bagi studi Ignatius secara umum. Sejak di Manresa (1522- 1523), “dia juga sibuk dalam memberikan pertolongan dalam hal kerohanian kepada beberapa orang yang mengunjunginya.” (SDSP-26). Ketika Ignatius tahu, tak mungkinlah ia tinggal di Yerusalem, ia pun bertanya-tanya, apa yang seharusnya aku kerjakan. Akhirnya ia memutuskan, bahwa yang terbaik baginya dan dia pun merasa tertarik juga, ialah akan belajar beberapa saat lamanya, agar dapat menolong jiwa-jiwa; dan dia memutuskan hendak pergi ke Barcelona (SDSP-50). Maka ia mulai belajar bahasa Latin (Gramatica) di Barcelona (1524-1526), dan kemudian melanjutkan belajar Artes sebagai dasar pelajaran filsafat di A1cala dan Salamanca (1526-1527). Di tempat-tempat itu Ignatius belajar dengan kacau dan terburu-buru. Ia sadar, ia tak berhasil memperoleh dasar yang kuat dan perlu bagi pendidikannya. Maka pergilah ia ke Paris, dan di sana ia belajar (mengulang lagi) ilmu humaniora bersama anak-anak (SDSP-73). Selama di A1cala dan Salamanca, Ignatius terus-menerus mengalami kesulitan dalam memberikan latihan kerohanian. Salah satu alasan mengapa ia dilarang dan dipersulit dalam “menolong jiwa-jiwa”, karena ia belum tamat dalam pendidikan empat tahun teologi. Ini makin mendorongnya untuk mati-matian belajar di Paris, dan tinggal di sana selama tujuh tahun.

Kutipan riwayat ini memperlihatkan, bahwa bagi Ignatius belajar teologi itu bersumber dan kemudian bermuara pada satu-satunya hasrat, yakni “untuk menolong jiwa-jiwa”. Keterkaitan antara dua hal tersebut membuat belajar teologi itu suatu pergulatan yang berat. Terbukti, Ignatius adalah guru yang ahli dalam hal rohani. Apa perlunya teologi bagi keahlian itu? Ignatius sendiri sering tergoda untuk meremehkan studinya, dan asyik dengan kegiatarmya menolong jiwa-jiwa. Namun ia selalu berhasil mengalahkan dirinya, dan kembali pada tugasnya yang berat: Belajar teologi.

Belajar teologi makin tidak mudah lagi bagi Ignatius karena alasan-alasan ini. Ignatius berangkat mempelajari teologi bukan dengan membawa lembaran kosong. Maksudnya, ia sudah membekali diri dengan pengetahuan teologi tersendiri: teologi yang berkenaan dengan mistik, pengalaman dan praktik devosional. Teologi macam ini sering tidak sejalan, kalau tidak berlawanan, dengan teologi akademis pada waktu itu. Sementara ia juga mempunyai buku pegangan yang amat dicintai dan didalaminya, yakni Imitatio Christi. Dari pergaulannya dengan buku tersebut, Ignatius mempunyai gambaran teologi yang tersendiri. Misalnya,janganlah orang berteologi karena spekulasi rasa ingin tahu dan tidak saleh. Janganlah mereka-reka alasan dalam memahami sakramen mahakudus,jadilah dalam hal ini humilis imitator Christi. Apakah gunanya mengetahui tentang Trinitas, jika orang tidak rendah hati? (lmit.!, 1, 9). Tuhan sendirilah Sang Guru, belajarlah hanya pada Dia saja. Pandangan macam ini mau tidak mau membatasi naluri keingintahuan teologis manusia. Ignatius menggulati teologi akademis dengan latar belakang yang khas dan membatasi itu. Kesediaannya untuk bergulat menunjukkan bahwa di satu pihak ia mau serius berteologi, di lain pihak ia sungguh mau jujur berteologi, artinya berteologi dengan berangkat dari pengalaman hidup dan kerohaniannya. Keseriusan dan kejujuran itu kemudian membuahkan pandangan teologi yang khas Ignatius. Itulah yang nampak dalam sikap teologisnya terhadap humanisme, teologi skolastik, dan teologi positif.

Keterbukaan teologi terhadap ilmu kemanusiaan

Zaman Ignatius ditandai dengan maraknya humanisme, ajaran Erasmus dari Rotterdam. Menurut berita Ribadeneira, di Barcelona Ignatius yang hendak menjadi serdadu Kristus kiranya sudah berkenalan dengan buku pegangan terkenal Erasmus Enchiridion Militis Christiani. Buku ini sangat dianjurkan bagi murid yang mau mengenal bahasa Latin dan gaya bahasanya dengan baik. Ignatius mempelajari buku tersebut, namun kemudian ia tidak menyukainya, dan tidak sependapat dengan pengarangnya, yang kritis dan cenderung sarkastis terhadap kehidupan gereja pada waktu itu. Ketika di Alcala, Ignatius juga dianjurkan untuk ikut dalam diskusi-diskusi tentang Erasmus. Namun Ignatius tidak bergairah menanggapi anjuran itu. Seperti dituturkan dalam Memoriale Camara, Ignatius tidak ingin beresiko dengan membaca atau mendiskusikan ide-ide baru yang meragukan.

Berita-berita ini menunjukkan, tidaklah mudah bagi Ignatius untuk ikut dalam percaturan akademis pada zamannya. Dari berita-berita itu juga tampak pendirian teologis Ignatius: Ia lebih suka berpegang pada buku dan pikiran yang jelas tidak menggoncangkan pendiriannya sebagai anggota gereja. Dengan bukunya De libero arbitrio Diatribe (1525) Erasmus sendiri terang-terangan menyerang Luther. Namun kalangan gereja juga terang-terangan meragukan orthodoksi pikirannya, bahkan melawannya. Uniknya, Ignatius tidak ingin ikut dalam perselisihan paham itu. Ia tidak berpihak pada kubu mana pun. Ia teguh berpegang pada pikiran dan teologinya sendiri. Kelak, pendirian ini dituliskannya dengan tegas dalam Konstitusi. “Hendaknya mereka dalam setiap matakuliah mengikuti ajaran yang lebih terjamin dan lebih diakui, … tanggungjawab untuk hal itu ada pada Rektor (yang akan mengikuti apa yang ditentukan dalam Serikat secara keseluruhan demi kemuliaan Allah yang makin besar” (Kons. 358). “Seperti telah dikatakan dalam ulasan-ulasan mengenai koIese-kolese, hendaknya diterangkan pada umumnya di setiap bidang buku-buku yang ajarannya lebih andal dan terjamin. Dan janganlah dipakai bila ajaran atau pengarangnya dicurigai …” (Kons. 464). “Walaupun sebuah buku tidak mencurigakan karena ajarannya jelek, namun karena pengarangnya dicurigai, sebaiknya jangan dipakai. Sebab biasanya, karya itu menyebabkan orang yang membacanya tertarik pada pengarangnya; dan wewenang yang dipunyai orang itu dalam hal-hal yang dikatakan dengan baik, kemudian dapat meyakinkanjuga mengenai hal-hal yang tidak baik. Sebab, jarang tidak tercampur sedikit racun di dalam hal-hal yang datang dari seorang pendosa yang penuh racun.” (Kons. 465).

Pendirian Ignatius tersebut sesungguhnya tidak hanya mengenai ajaran Erasmus, tapi juga ajaran Luther dan kaum Alumbrados. Pendirian macam itulah yang nantinya menjadi jiwa dan penyangga bagi “Patokan Kesepahaman dengan Gereja” (LR. 352-350). Menarik, bahwa sikap Ignatius di atas temyata bukanlah semata-mata berarti menolak terhadap humanisme Erasmus. Beberapa pengarang menunjukkan, dalam beberapa hal malah ada kesamaan dan kesejajaran dalam pikiran Ignatius dan Erasmus. Ini menunjukkan, bahwa Ignatius tidak memusuhi Erasmus secara total.. Ia hanya menolak pikiran Erasmus yang memusuhi dan mencemooh gereja, seperti tampak dalam tulisan masa mudanya, Ia bahkan menerima pikiran Erasmus tua, yang mencintai huma pikiran Erasmus tua, yang mencintai humanisme tanpa memusuhi gereja. Ignatius adalah orang yang praktis, ia akan mengambil buah apa saja, yang berguna untuk mengejar cita-citanya, Demikian pula sikapnya terhadap humanisme. Di Paris, ia juga bergaul dengan teman-teman yang dipengaruhi oleh Erasmus, dan menerima ide-ide mereka. Ignatius tidak memusuhi humanisme. Ia memahaminya, memetik buahnya bagi serikatnya. Pergaulan Ignatius yang kritis terhadap humanisme sekaligus menunjukkan keseriusannya sekaligus kejujurannya dalam berteologi. Ia membela gereja bukan dengan buta, melainkan dengan pergulatan teologis yang serius dan jujur.

Teologi yang memberi kepastian pembelaan gereja

Ignatius adalah pembela gereja. Teologi gereja pada waktu itu adalah skolastik. Mestinya, Ignatius menelan begitu saja teologi skolastik. Temyata, tidak. Ia pun mempunyai sikap terhadap teologi skolastik, meski tidak sekritis seperti sikapnya terhadap humanisme. Di Alcala ia mulai belajar dengan filsafat Soto (Termini), Albertus dari Sachsen (Questiones super octo libros Physicorum), dan Petrus Lombardus (Sententiarum libri quatuor). Seperti diberitakan Nadal, Ignatius tampaknya tidak terlalu krasan berada dalam alam pikiran skolastik itu. Kendati demikian, ia toh mencoba untuk menerimanya. Sikap itu tercermin kembali dalam Konstitusi: “Hendaknya juga diberikan kuliah mengenai “Magister Sententiarum” (Petrus Lombardus). akan tetapi, kalau pada suatu ketika kelihatan bahwa ada pengarang lain yang lebih berguna bagi para mahasiswa, misalnya kalau dibuat suatu textbook atau buku teologi skolastik, yang kiranya lebih sesuai dengan zaman kita, dapat dipakai juga, tetapi dengan kearifan besar dan setelah hal itu diselidiki oleh orang- orang yang dalam seluruh Serikat dipandang sebagai ahli, dan dengan persetujuan Pater Jenderal … (Kons. 466).

Semasa Ignatius belajar di Paris, iklim akademis diwarnai dengan banyak disputatio. Ignatius tidak suka ikut dalam disputatio itu. Apalagi, disputatio itu dijalankan pada hari Minggu. Padahal, selama di Paris pun ia tetap melanjutkan kebiasaan yang ia lakukan di Manresa: Tiap hari Minggu, ia mengaku dosa, dan menyambut komuni. Di mata kebanyakan mahasiswa, praktik ini agaklah aneh, dan nyaris tampak seperti praktik bidaah yang dijalankan kaum reformatoris. Ignatius tetap teguh pada pendiriannya, kendati pengasuh universitas memperingatkannya. Ignatius tidak ingin larut dan ikut-ikutan dalam disputatio yang telah menjadi formalisme belaka. Sering disputatio itu terjadi bagaikan kelatahan dan mode yang tanpa isi, seperti dikatakan oleh berita Vives ini: “Sebelum makan, disputasi. Selarna makan, disputasi. Sesudah makan, disputasi. Orang berdisputasi umum atau privat, di mana-mana, dan kapan saja.” Ignatius menjauhi disputatio, dan dengan demikian ia juga bersikap terhadap teologi skolastik yang waktu itu cenderung membentuk kubu-kubu pendapat, yang saling berlawanan dan bisa berakibat pada perpecahan. Itulah yang kemudian dianjurkannya pada para Yesuit: agar mereka tidak mengajarkan hal-hal yang bisa meragukan.

Sebelum berangkat ke Konsili Trente, Ignatius memberikan instruksi pada Salmeron, Laynes dan Jay, agar mereka mengambil posisi yang netral dalam teologinya, dan tidak begitu saja menghakimi dan inemusuhi pendapat dari musuh- musuh gereja. Cara berteologi Ignatius dapat dilukiskan kurang lebih dengan apa yang ditulis oleh Polanco dalam pengarahannya untuk Kolese di Praha (1556): “Janganlah kita larut dalam perbedaan pendapat, usahakan lah selalu upaya untuk meneguhkan dan mempertahankan dogma katolik”. “Jauhilah persengketaan, yang tampaknya akan menimbulkan kehebohan.” Di zaman reformasi, ajaran Aristoteles juga disengketakan. Ada teolog yang membelanya, ada juga yang menolaknya, dan meminta, agar ajaran itu disingkirkan dari teologi. Ignatius tidak memusuhi ajaranAristoteles. Ia malah menulis dalam Konstitusi: “Dalam logika, filsafat alam, etika dan metafisika hendaknya diikuti ajaranAristoteles; begitu juga dalam bagian filsafat (aries liberales) yang lain … (Kons. 470).

Sikap Ignatius ini bisa diterangkan dari pengalaman hidupnya. Dulu ia sudah berkenalan dengan ajaran Aristoteles, langsung atau tidak langsung, lewat bacaan-bacaan kepahlawanan dalam tradisi kebangsawanan Spanyol. Di sana diperlihatkan, bahwa lewat Aristoteles orang bisa belajar keutamaan. Ignatius setia pada pengetahuan dan pengalamannya ini, karena itu dalam berteologi pun ia tidak memusuhi Aristoteles. Selain itu dari Aristoteles, demikian juga dari Thomas Aquinas, orang bisa belajar, bahwa keutamaan itu adalah titik tengah di antara dua ekstrim. Pendirian macam ini adalah khas Ignatius. Pantas, bila ia mempersilahkan Yesuit akrab dengan Aristoteles. Pikiran-pikiran Aristoteles juga membantu orang untuk memacu dan membulatkan diri pada satu- satunya tujuan. Pendirian ini juga khas Ignatius: Orang akan berhasil,jika ia tekun, bulat dan teguh pada cita-citanya. Pada Ignatius jelas tampak, kendati ia mempunyai kecenderungan dan pendirian yang sangat pribadi, ia tetap setia dan patuh pada teologi skolastik yang diakui gereja dan diajarkan di universitas pada waktu itu. Ia menerima teologi itu bukan dengan pasif, tapi dengan aktif dan kritis. Studi teologi bukanlah alasan untuk meniadakan pengalaman pribadi, tapi pengalaman pribadi bukanlahaiasan untuk menolak teologi gereja yang sedang berlaku.

Arah pastoral teologi

Pada masa akhir studi Ignatius di Paris, apa yang disebut “teologi positif’ sedang menjadi topik yang hangat dan aktual. Perlunya teologi positif sesungguhnya sudah menjadi wacana di kalangan teolog Paris pada permulaan abad ke-14, namun wacana itu baru memberikan buah pada permulaan abad ke-16. Teologi positif dirasa perlu untuk mengimbangi arus teologi skolastik yang pada waktu itu cenderung spekulatif. Teologi spekulatif dianggap melalaikan tradisi bapa gereja, dan tidak membimbing orang untuk dekat pada Kitab Suci. Sementara justru tradisi bapa gereja, dan jalan menuju Kitab Suci itulah yang diakrabi oleh teologi positif.

Ignatius sangat menghargai teologi positif. Hal itu tampak dengan sangat jelas dalam “Patokan- patokan Kesepahaman dengan Gereja”: “Memuji teologi positif dan skolastik. Memanglah doktor-doktor positif misalnya Santo Hieronimus, Santo Agustinus, Santo Gregorius dll., terutama bersifat menggerakkan hati untuk mencintai dan mengabdi Allah Tuhan kitadalam segala hal.” (Patokan XI). Patokan ini juga memuji teologi skolastik, dan doktor skolastik seperti Thomas Aquinas, Bonaventura dan Petrus Lombardus. Namun toh Ignatius tetap mengunggulkan doktor positif di atas doktor skolastik: “Doktor-doktor skolastik, karena lebih modem, tidak hanya dapat mengambil keuntungan dari pengertian benar atas Kitab Suci dan dari doktor-doktor positif tadi , tetapi juga karena diterangi dan disinari oleh rahmat ilahi, mereka dapat menimba pertolongan lebih jauh dari Konsili, Hukum dan keputusan-keputusan Ibu Gereja Kudus” (Patokan XI). Seperti pengertian pada zamannya, pada Ignatius pun pengertian teologi positif itu luas cakupannya. Teologi positif itu menyangkut terutama studi tentang bapa-bapa gereja dan Kitab Suci. Namun, seperti tampak dalam draft Konstitusi 1549/1550, teologi positif itu juga menyangkut studi mengenai konsili- konsili, dekrit, ajaran-ajaran suci, dan masalah- masalah moral, yang sangat perlu, untuk menolong sesama. Sementara dalam Konstitusi dikatakan: “alam teologi harus ada kuliah mengenai Perjanjian Lama dan Baru, dan mengenai teologi skolastik Santo Thomas; dan dalam apa yang disebut teologi positif, hendaknya dipilih pengarang-pengarang yang kiranya palong cocok dengan tujuan kita (Kons. 464). Contoh bagi teks teologi positif itu misalnya “sebagian dari Hukum Kanonik atau Konsili-konsili” (Kons. 467). Tampaknya, pada Ignatius teologi positif berarti suatu pengertian, yang menyangkut tidak hanya ajaran-ajaran suci, tapi juga praksis gereja, tata tertib dan moral. yang sesuai dengan tujuan Serikat Yesus. Penekanan tentang pentingnya teologi positif menunjukkan, bahwa Ignatius sungguh mencari segala kemungkinan yang diperlukannya untuk berteologi demi “menclonz jiwa-jiwa.” Kendati ia sangat menghargai teologi skolastik, toh ia merasa teologi itu tidak cukup bagi tujuan Serikat. Memang teologi yang terlalu spekulatif tidak bakal bisa memenuhi tuntutan Serikat yang ingin secara “praktis” menolongj iwa-jiwa. Tampaknya arah pastoral inilah yang mendorong Ignatius untuk menganjurkan Serikat mencintai teologi positif.

Reformasi studi teologi

Dalam sejarah teologi dan dogma, nama Ignatius nyaris tak pernah disebut. Gottfried Maron menunjukkan, sesungguhnya sangat besarlah jasa Ignatius di bidang reformasi studi di universitas, khususnya bidang teologi. Pengaruh pembaharuan Ignatius bahkan meluas, di luar Serikat Yesus. Pada pokoknya Ignatius tetap mempertahankan Modus Pariensis. Namun Ignatius juga membuat perubahan besar terhadap sistem di Paris, baik dalam hal tata urutan studi, mau pun materinya. Urutan studi, masing-masing “persiapan umum dengan mempelajari artes, “studi filsafat” dan “teologi”, dibuat berhubungan satu sama lain dengan lebih seimbang. Waktu di Paris, studi teologi penuh sampai doktorat membutuhkan dua belas tahun. Karena tuntutan waktu yang panjang ini, tak seorang pun dari Yesuit pertama berhasil memperoleh gelar teologi paripurna, walau mereka semua adalah Magister Artium. Ignatius sendiri hanya sempat belajar satu setengah tahun di fakultas teologi. Maka untuk Serikat, Ignatius menggariskan: setiap Yesuit wajib studi teologi empat tahun setelah studi artes liberales dan filsafat (Kons. 518). Sampai meraih gelar doktor, Ignatius memperkirakan waktu enam tahun, jadi separuh dari tuntutan Universitas Paris. Sementara studi artes yang biasanya empat tahun diperpendek menjadi tiga sampai tiga setengah tahun. Maka terbentuklah suatu tata urutan studi, yang logis, dan bagian-bagiannya memakan waktu kurang lebih tiga tahun. Tampak di sini jerih payah Ignatius untuk merubah aturan studi, sebab baginya studi, juga studi teologi, tidak berdiri sendiri. Studi teologi berada di bawah tugas pelayanan Serikat secara umum, yakni membantu sesama untuk mengenal dan mengasihi Allah, serta mencari keselamatan jiwa- jiwa mereka (Kons. 446). (Tantangan bagi kita: beranikah kita menjadi lebih otonom dalam urusan studi, atau biarlah kita larut saja dalam tuntutan umum universitas, yang mungkin tidak berkeprihatinan seperti kita yang memang bertugas melayani jiwa-jiwa?)

Perubahan yang dijalankan Ignatius juga menyangkut isi studi. Pertama-tama, seperti sudah disinggung di atas adalah masalah studi humanisme. Serikat menganjurkan studi humanisme sebagai studi, di samping retorika dan gramatika, kesusastraan, puisi dan sejarah (Kons. 352). Juga penguasaan tiga bahasa: di samping Latin, Yunani dan Hibrani (homo trilingiusi). Dengan studi humanis, orang tidak lagi mencukupkan diri dengan mempelajari Aristoteles dari komentar Latin, melainkan lewat teks aslinya. Demikian juga orang wajib di samping belajar dari Thomas Aquinas, juga mempelajari teks, surat, ucapan dan kotbah para bapa gereja, Hieronymus, Agustinus, Chrysostomus. Tampaklah di sini betapa pengaruh humanisme pada program studi Yesuit.

Seperti sudah disinggung, tidakIah terlalu tepat menyebut Ignatius sebagai humanis kristen. Ia jelas menjaga jarak terhadap humanisme. Namun, ia selalu bisa memetik guna dari humanisme itu. Lebih-lebih sejak di Paris, ia tidak bisa lagi melulu berpegang pada pendapatnya sendiri, melainkan pada pendapat teman-teman sezamannya. Untuk itu tak mungkin ia menghindari humanisme. Ignatius menggariskan studi humanisme bagi Serikat, karena studi tersebut dapat membantu tugas kerasulan. Begitulah watak seorang Ignatius, kendati ia sendiri bukan seorang humanis, ia adalah seorang organisator yang mendorong model baru dalam studi humanisme di universitas-universitas Katolik Eropa. Ia bukan seorang humanisme, tapi karena humanisme dapat membantu kerasulan Yesuit, ia menjadi pioner yang mengembangkan studi humanisme di kalangan akademi katolik.

Dalam hal yang terakhir ini, kendati bukan seorang humanis, jasa Ignatius lebih besar daripada jasa seorang Melanchthon, yang diakui sebagai humanis kristen itu. Perlu ditambahkan, pada zaman Ignatius, Serikat memang belum terlalu tampak sebagai pioner bagi studi humanisme. Kepioneran Yesuit terhadap studi humanisme baru benar-benar tampak pada generasi kedua Serikat, yakni generasi setelah Ignatius dan kawan-kawannya. Tokoh generasi kedua yang sangat menganjurkan studi humanisme itu adalah Nadal. Nadal selalu menekankan, agar para Yesuit kembali pada teks asli, jangan puas belajar Aristoteles lewat kompendium Latin, melainkan pelajarilah Aristoteles dari sumber aslinya. Di samping hal di atas, perubahan besar yang dibuat Ignatius dan Serikat terletak di bidang studi teologi sendiri. Pertama-tama, adalah upaya yang menyangkut penyatuan studi. Sudah sejak merekahnya tradisi skolastik, teologi tampak terpecah-pecah. Di Paris sendiri, mahasiswa dan teolognya terbagi-bagi dalam pelbagai kelompok. Ignatius bereaksi terhadap keterpecahan itu dengan mengutamakan studi tentang Thomas Aquinas. Dalam Patokan Kesepahaman dengan Gereja, ia bahkan tidak lagi menyebut Bonaventura dan Magister Sententiarum (Patokan ke XI). Hanyalah Thomas, yang paling bisa memberi ajaran yang pasti dan diakui, karena di adalah yang bisa mensintesekan pendapat-pendapat (Kon. 358). Konstitusi juga mengakui, Thomas sehagai otoritas bagi doktrin skolastik.

Pandangan Ignatius ini sungguh baru. Maklum, pandangan itu menekankan kesatuan dan penyatuan, sementara sejak zaman skolastik tiadalah kesatuan dan penyatuan itu dalam teologi. Pandangan Ignatius sejalan dengan kerinduannya untuk menjaga kesatuan gereja, dan dengan demikian merupakan reaksi yang keras terhadap orotestantisme yang sejak Luther cenderung mengarah pada perpecahan dan kesendirian dalam berteologi. Selain upaya konsentrasi itu adalah upaya integrasi. Ignatius memuji baik teologi skolastik maupun teologi positif (LR. 363). Ignatius tidak hanya menerima teologi bapa gereja di satu pihak dan teologi skolastik di lain pihak: ia juga menyatukan kedua teologi itu. Dengan demikian ia menyelaraskan aliran yang cenderung intelektual dan aliran afektif dan mistik. Dengan demikian pula ia meniadakan jurang di antara teologi dan praktik hidup bakti devosional dalam gereja.

Patut ditambahkan, Ignatius juga menekankan, bahwa pendidikan teologi perlu mengarah pada pelayanan pastoral dan kerohanian umat gereja. Dengan demikian ia memperluas horizon dari “teologi praktis”. Di bidang ini Ignatius boleh dibilang sebagai pelopor. Ia menekankan, studi teologi skolastik juga dapat diharapkan berbuah bagi harapan-harapan real dan praktis. Kelak Nadal mengatakan, hendaknya teologi spekutatif berhubungan dengan doa dan pemahaman hidup rohani. Itulah fundamen bagi rencana studi Yesuit. Skolastik Yesuit dituntut dapat berguna bagi kebutuhan zamannya. Skolastik adalah anak zamannya, maka mereka pun harus melayani zamannya. Karena itu mereka juga mempunyai kewajiban untuk memberikan apologi bagi kehidupan gereja, dan ikut dalam polemik yang menantang kehidupan gereja, seperti dikatakan oleh Latihan Rohani, (teologi) Yesuit hendaknya menyingkap dan menyerang segala tinnan (LR. 363), yang terjadi pada zamannya. Nadal sendiri dengan terang-terangan mengecam teolog di Paris, bahwa mereka hanyalah teolog spekulatif, yang menangani persoalan teologi melulu dari segi spekulatif, mereka tidak pergi ke desa-desa untuk mewartakan Kerajaan Allah seperti dicontohkan oleh Yesus dan rasul-rasulnya.

Dalam kaitan ini Ignatius dan Serikat juga sangat menekankan pentingnya kotbah, Dalam Konstitusi dan pelbagai suratnya tampak betapa penting disiplin homiletik bagi para Yesuit. “Hendaknya semua melatih diri juga dalam berkotbah dan memberikan konferensi suci, dengan cara yang cocok untuk membangun umat (berbeda dengan cara skolastik). Untuk itu, perlu dengan tekun mempelajari bahasa daerah dengan baik. Mereka perlu juga tahu dan siap memakai hal-hal lain, yang berguna untuk pelayanan. Akhirnya untuk melakukan karya ini, dengan hasil lebih baik dan lebih berguna bagi jiwa-jiwa, seyogyanyalah mempergunakan semua sarana yang berguna (Kons. 402).

Penekanan pada sisi praktis teologi ini berkaitan dengan pendidikan teologi moral. Hal ini berhubungan dengan pengalaman Ignatius sendiri yang sangat menghargai sakramen tobat, dan menarik guna yang besar dari sakramen tersebut. Pada waktu itu, sakramen tobat dan praktek pengakuan dosa praktis berada di pinggiran gereja Ignatius menjadikan sakramen ini dan prakteknya berada di pusat kehidupan gereja. Dan sehubungan dengan hal ini, seperti telah kita lihat di atas, patutlah disebut jasa Ignatius di bidang teologi positif Ia memperluas pengertian teologi positif ke wilayah teologi praktis. Patut pula dikatakan jasa lain Ignatius dalam perkembangan studi teologi. Bermula dengan pendirian “Coleggio Romano”, kota Roma pelahan-Iahan menjadi sentrum bagi studi teologi di Eropa. El modo de Roma pelan-pelan menggeser modus Parisiensis. Sebelum Ignatius, sejak Paus Bonifacius VIII, Roma hanya mempunyai satu universitas. Roma tak pemah menarik bagi studi teologi. Sejak Ignatius, Roma menjadi pusat yang bisa mengalahkan Paris. Begitulah, gambaran Abad Pertengahan tentang tiga dunia sudah pudar: Jerman sebagai imperium, Italia sebagai sacerdotium, dan Prancis sebagai studium sudah tidak dapat bertahan lagi. Sejak Ignatius, di Roma Italia pun orang bisa menjalankan studium teologi dengan baik dan terpelajar (Mungkin sekarang…tidak lagi ?).

Teologi dan keutamaan

Baiklah di sini diulangi kembali, bahwa dalam Serikat studi teologi dijalankan demi tujuan “menolong jiwa-jiwa”. Jadi teologi bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, tapi sarana demi tujuan. Bagi Ignatius, untuk menolongjiwa-jiwa, diperlukan pendidikan yang ulung dalam teologi. Tapi lebih dari itu, juga dibutuhkan teladan kehidupan yang baik. Kedua hal ini tidak terpisahkan. Maka semasa pendidikan pun, seorang skolastik juga seharusnya sudah bisa membantu sesamanya. Bila ia nanti unggul dalarn keutamaan, ia dapat juga merubah sesamanya. Karena itu pada skolastik di Coimbra, Ignatius menekankan agar mereka serius baik dalam hal studi mau pun dalam hal keutamaan. Hanya dengan demikian, mereka dapat menolong dan menyelamatkan jiwa-jiwa. Ilmu dan keutamaan, letras y virtudes, itulah rumus pendidikan Yesuit. Rumus ini dipraktekkan dalam kolese-kolese: “.. supaya bersama dengan ilmu mereka juga mengembangkan perilaku yang pantas bagi orang kristiani. Dalam arti tertentu, keutamaan lebih penting dari ilmu, maka jika ada kandidat yang tidak dapat memperbaiki kelakuannya, sebaiknya mereka dipersilahkan meninggalkan Serikat (Kons. 488). Ignatius sangat menekankan keutamaan. Hal ini kiranya juga akibat pengarah humanisme pada waktu itu. Menurut kaum humanis, pendidikan klasik tidak hanya membimbing orang pada ilmu tapi juga pada keutamaan, malahan juga bisa menyiapkan orang untuk menjalankan baik hidup kontemplatif maupun aktif. Uniknya, pendirian kaum humanis ini cocok dengan watak pietatis dari Ignatius. Dari Imitatio Christi, ia sudah tahu tentang perlawanan antara virtuosa vita terhadap scientia. Lebih penting, orang menanamkan virtutes dari pada asyik bersibuk dengan questiones. Sebaiknya orang sadar akan lebih perlunya bene vivere daripada scire.

Semboyan letras ya virtudes mungkin bisa disejajarkan dengan pengalaman Ignatius ketika ia masih tergila-gila akan kepahlawanan dan kebangsawanannya. Ideal kepahlawanan Spanyol adalah armas y letras. Senjata dan ilmu, itulah yang harus dikuasai seorang pahlawan. Setelah pertobatannya, semboyan keduniawian ini dimodifikasikannya menjadi semboyan yang lebih rohani: letras y virtudes. Paralel ini tampaknya tetap menjiwai Ignatius. Maka kepada skolastik di Coimbra, ia masih menganjurkan, agar mereka belajar teologi seperti seorang serdadu, yang selalu melatih diri untuk tugas yang diharapkan dari mereka, dan mempersenjatai diri dengan senjata dan amunisi yang diperlukan.

Sangat banyaklah jasa Ignatius bagi studi teologi. Namun bila orang bertanya, apakah arti teologi bagi Ignatius sendiri, jawabnya jelas: Teologi itu perlu, sejauh dengan bantuannya Serikat Yesus bisa mengejar cita-citanya, yakni menolong jiwa-jiwa. Pendirian ini mau tak mau mendorong teologi ke arah praksis. Untuk itulah, Ignatius merasa perlu untuk mengadakan perubahan studi teologi. Tapi untuk mengadakan peruhahan itu, Ignatius tidak memakai cara-cara kesalehan dan sikap anti teologi spekulatif belaka. Ia merubah studi teologi dengan keilmiahan teologis pula Maka ia mencari, manakah unsur-unsur teologi skolastik yang kendati spekulatif toh berguna bagi pendidikan Yesuit yang mengarah pada tujuan praktis. Ia juga tanggap pada arus baru teologi, seperti tampak pada keterbukaannya terhadap humanisme. Ia juga melengkapi teologi yang terlalu intelektual dengan teologi yang lebih affektif, karena itu ia menganjurkan agar Yesuit mencintai teologi positif bapa-bapa gereja Dan akhirnya ia kembali pada ajaran dasar Latihan Rohani, bahwa perbuatan itu lebih perlu daripada perkataan atau teori, karena itu teologi pun tak terpisahkan dari keutamaan. Ketakterpisahan antara teologi dan keutamaan di atas terus berkembang dalam Serikat awal.

Sangatlah baiklah dalam hal tersebut memperhatikan rumusan Nadal, seperti diutarakannya dalam konferensi di Alcala (1554): Setiap Yesuit dalam hidupnya hendaknya selalu mengusahakan kesatuan antara the spirit of learning (letras) and the quest for holiness (spiritu). Setiap Yesuit hendaknya bercita-cita untuk menjadi a learned man of devotion. Dalam keharmonisan tersebut, Yesuit mengabdikan diri pada gereja, dan dalam itu semuanya ia melihat karya penyelenggaraan Allah. Kendati Nadal menekankan pentingnya devosi, doa dan keutamaan, toh ia tetap menekankan segi keilmiahan dan keintelektualan. Janganlah Yesuit menjadi orang suci yang bodoh (personas idiotas y devotas – the stupid holy person). Dalam konferensi di Alcala itu Nadal menekankan, seorang Yesuit diharapkan dapat mengartikulasikan teologi dengan pasti dan jelas. Janganlah Yesuit sampai bermalas-malasan dalam mengartikulasikan teologinya, juga ia harus mengusahakan, agar ia tidak mengajarkan doktrin-doktrin yang salah. Untuk itu ia harus benar-benar menguasai teologi skolastik sebagai alat untuk mengungkapkan teologi dengan persis dan jelas .2

Makin jelas dengan demikian, bahwa bagi seorang Yesuit, kesalehan, keutamaan, atau kesucian itu tak bisa berdiri sendiri: Ketiganya harus berhubungan dengan keintelektualan teologi. Kesalehan Yesuit adalah kesalehan yang harus dapat dipertanggungjawabkan dengan keintelektualan teologi. Kalau tidak, Yesuit hanya akan menjadi the stupid holy person. Bukan dalam kesalehan atau kesucian melulu terletak kejujuran dan keseriusan seorang Yesuit: Baru dalam harmoni antara kesalehan dan ke intelektualan teologilah kejujuran dan keseriusan seorang Yesuit teruji dan terjadi.

Pertanyaan untuk refleksi

Dari pemaparan di atas, kiranya bisa dirangkumkan gambaran studi teologi yang terjadi pada Serikat awal. Studi teologi terletak dalam kerasulan dan pelayanan seluruh Serikat, yakni “menolong jiwa- jiwa.” Studi teologi harus berangkat dari pengalaman rohani pribadi. Ignatius tidak meniadakan kesalehannya dan praktik-praktik rohaninya, tapi mengolah kesalehan dan praktik rohani itu bagi teologinya, sehingga teologmya menjadi khas dan berbeda dari teologi lainnya. Studi teologi terbuka untuk berwacana dengan pemikiran yang sedang aktual di zamannya, seperti Serikat awal berhadapan dengan humanisme, mempelajarinya dan memetik buahnya. Kendati demikian, teologi juga harus setia pada teologi yang dapat menjamin kepastian dan kejelasan ajaran gereja, seperti Ignatius setia pada teologi skolastik. Kesetiaan itu bukan buta, ia harus kritis, karena itu Serikat awal juga berani melengkapi kekeringan dan spekulasi teologi skolastik dengan teologi yang lebih afektif dan biblis seperti teologi positif bapa-bapa gereja.

Dan akhimya, teologi adalah suatu keintelektualan yang terus mengawal dan mengkritisi segala praktek kesalehan dan kesucian Serikat. Keduanya tak boleh berat sebelah: Teologi harus berada dalam harmoni dengan praktik doa, kesalehan dan kesucian. Dengan bercermin pada kekayaan tradisi Serikat awal, kiranya kita dapat lebih mencermati pedoman formasi teologi. Dikatakan di sana, teologi adalah tahap akhir studi seorang Yesuit, tujuannya adalah “a personal integration of all the various dimensions or aspects of formation that go into the making of a Jesuit (life in the spirit, human maturitv and community life, studied and ministry) as well as insertion into the apostolic body of the Society.

Studi teologi seharusnya bisa memudahkan kita menyampaikan kepenuhan kekayaan rohani kita ke dalam kerasulan, lalu mengembalikan lagi pengalaman kerasulan demikian itu ke dalam studi, dan dengan demikian spiritualitas kita dibuat menjadi lebih mendalam. Secara lebih khusus dikatakan, “Theology enables the scholastic to penetrate deeper into God s plan of salvation in Christ, within which is located the mission of the Society at the service of the Church … “.

Studi teologi juga harus otentik dan orisinal, sesuai dengan pengalaman dan realitas eksistensial mau pun pribadi, semuanya itu kemudian ditaruh dan dicermati dalam tradisi: “Similarly, he must cultivatea faith-vision of the whole of reality, beginning with a reflection on his experience as a human being related to God, and on the divine mysteryrevelate in Christ and made known in Scripture and Tradition, and through the magisterium and life of the Church”.

Dalam studi, khususnya teologi, Yesuit harus meraih a high quality. Ia harus belajar benar-benar secara akademis dan intelektual, karena hanya dengan cara demikian ia dapat memenuhi tugas perutusannya pada zaman sekarang: “An intellectual formation that is both through and of high quality, specially in theology, is demanded by the very nature of the ordained ministry, by the requirementof the new evangelization to which the Lord calls his Church, and by the challenges of our present mission. Hence “the Society confirms its own distinctive option of a solid academic formation – in theology and philosophy, the arts and sciences – for its future priests. This is based on theconfiction that, besides the testimony of our life, there is no better means for fulfilling our mission. Such a formation is an indispensable element of our charism and way of proceeding, for a Jesuit is called to exercise a learned ministry sa that the Gospel really becomes the Good News, throughtheological reflection in a confused and troubled world – as General Congregation 34 reminds us.” Dari penuturan di atas, kiranya kita dapat merumuskan beberapa pertanyaan untuk refleksi mengenai studi teologi kita:

  1. Sungguhkah studi teologi kita masih tetap berada di bawah keprihatinan dan tugas perutusan Serikat zaman sekarang?
  2. Sungguhkah studi teologi kita memberi peluang bagi kita untuk berkonfrontasi dan mengolah pengalaman individual-pribadi, sehingga studi itu otentik dan orisinal bagi masing-masing skolastik?
  3. Terbukakah studi teologi kita pada pemikiran aktual, yang dapat membantu kita untuk mengenal dengan lebih baik keprihatinan dan harapan manusia zaman sekarang? (Manakah bentuk baru kolaborasi teologi dan humanisme pada zaman ini?)
  4. Beranikah kita, dalarn rasa hormat dan kesetiaan, mengkritisi tradisi, magisterium dan kebijaksanaan gereja?
  5. Mampukah teologi kita bersikap terhadap perlbagai bentuk kesalehan, praktik devosi pastoral, pribadi maupun social, yang cenderung tifak mengindahkan “refleksi dan keintelektualan teologis”? Jangan-jangan studi teologi kita mandul, sehingga hanya menciptakan the stupid holy person?
  6. Sejarah Serikat Awal memperlihatkan, studi teologi adalah program yang direncanakan dan diputuskan oleh gubernasi serikat “dari atas”. Tata cara ini disatu pihak memang kurang mengakomodasikan kepriharinan “di tingkat bawah” namun di lain pihak memperlihatkan dengan jelas ketegasan, keprihatinan pimpinan serikat terhadap studi teologi. Punyakah kita ketegasan dan kejelasan studi teologi di tingkat (pimpinan) provinsi demi pelayanan yang menjadi keprihatinan provinsi?
  7. Sungguhkah Kentungan masih menjadi pusat teologi Yesuit, dan promotor pembaharuan dan perubahan bagi refleksi teologis di Indonesia?

1 Tulisan berikut ini dibuat berdasarkan : Gottfried Maron: Ignatius von Loyola. Mystik, Theologie, Kirche, Göttigen 2001, hlm. 98-130 2 William V. Bangert, S.J. : Jerome Nadal, S.J., 1507-1580, Tracking the First Generation of Jesuits Chicago 1992, hlm.120.