Teolog Jesuit: August Lehmkuhl, SJ

Siapakah August Lehmkuhl, SJ?

Bayu Marsetyawan, SJ

J August Lehmkuhl adalah seorang teolog moral. Ia lahir di Hagen, Jerman, tanggal 23 September 1834. Ia masuk Serikat Jesus tanggal 15 Oktober 1835. Setelah menjalani masa formasi ia menjalani studi lanjut dalam bidang spiritualitas dan teologi. Setelah selesai studi ia mengajar Kitab Suci selama satu tahun di Maria Laach, Jerman dan mengajar teologi dogmatik selama empat tahun di tempat yang sama. Kemudian selama satu tahun ia berkarya di paroki untuk selanjutnya mulai mengajar teologi moral dari tahun 1871 sampai 1880 dan sejak itu ia adalah penulis purna waktu di bidang teologi moral, spiritualitas, dan masalah sosial. Karyanya yang utama adalah dua jilid Theologia Moralis yang terbit pertama kali 1883 dan sampai 1914 diterbitkan kembali 14 kali dan terjual sebanyak 40.000 eks. Buku itulah yang menguasai wacana teologi moral pada zamannya. Lehmkuhl meninggal di Kolese Ignatius, Valkenburg, Belanda tanggal 23 Juni 1918.

Pengantar

Apabila ada seseorang (B) yang membongkar rahasia (tentang hal-hal memalukan dan dirahasiakan) dari diri orang lain (A), demikian reputasi A menjadi rusak. Banyak cara yang mungkin dapat dipakai untuk melakukan pembongkaran rahasia itu, seperti melalui pernyataan di media massa, percakapan sehari-hari atau barangkali lewat posting-an di web site bahkan chatting di internet. Lalu ketika A mengeluh atau mengadu ia mendapat tanggapan dari si B seperti ini: “Saya (B) bukanlah dokter atau pengacara, juga bukan seorang pastor, yang mempunyai kewajiban secara profesional untuk menjaga rahasia. Yang saya katakan adalah kebenaran. Penghormatan yang pernah kamu (A) dapatkan hanyalah buah ketidaktahuan semata. Jika reputasimu rusak itu lebih karena orang-orang sekarang melihat kamu yang sebenarnya. Saya telah mengatakan kebenaran dan sudah sepantasnya kamu menerima hasilnya. Tidak ada luka di situ. Yang ada adalah keadilan sebagaimana adanya.” Bagaimana para ahli etika (etikus) menanggapi argumen di atas? Apakah penyingkapan kebenaran dan fakta tentang orang lain yang berpotensi merusak atau merugikan mengasumsikan bahwa sebuah informasi tidak merepresentasikan tanggung jawab secara profesional tentang suatu rahasia? Dalam tradisi agama Katolik pertanyaan tersebut menarik perhatian dari para teolog mulai dari abad XVI sampai pertengahan abad XX. Seringkali mereka berpendapat bahwa penyingkapan kebenaran yang merugikan adalah perlu secara moral. Namun, jika dasar pembenarannya kurang, mereka mengatakan bahwa penyingkapan itu salah dan dapat diklasifikasikan sebagai tindakan fitnah atau jujah (detraction; calumny).

Di zaman kita sekarang barangkali istilah ‘fitnah’ atau ‘jujah’ sudah jarang dipakai walaupun banyak orang masih sering melakukannya. Berdasarkan permasalahan yang masih sering terjadi itulah kita dapat belajar dari pemikiran para teolog pendahulu kita melalui gagasan tentang tindakan fitnah. Dapatkah tradisi mereka yang terbentuk dalam suatu sejarah pemikiran yang berbeda dari zaman kita saat ini dapat menerangi permasalahan kita sekarang? Jika mereka berpendapat bahwa fitnah (detraction) itu secara moral salah, dapatkah mereka membantu kita untuk memahami di mana letak kesalahannya?

Theologia Moralis

Tulisan August Lehmkuhl dalam Theologia Moralis ini merupakan salah satu buku pegangan moral sebagaimana lazim tersusun di abad 18 sampai 20. Buku ini merupakan uraian kasuistik sebagai bantuan untuk para bapa pengakuan dan pedoman untuk perdebatan moral di dunia yang menjadi modern. Tulisan ini secara mandiri menguraikan kembali asas-asas tradisi teologi moral, mengembangkannya serta menerapkannya pada keadaan hidup yang selalu berubah menurut situasi zaman. Ia tetap mempertahankan ikatan dengan tradisi moral. Buku ini ditulis dalam bahasa latin karena dimaksudkan bukan untuk konsumsi publik melainkan untuk kalangan teolog moral dan untuk mahasiswa teologi moral calon imam. Tulisan ini dimaksudkan untuk menghadapi perubahan soal-soal kemasyarakatan dan ekonomi di zaman renaissance, zaman berlayar ke Barat (Amerika) dan Timur (India dan Cina-Jepang), yakni zaman lahirnya protestantisme dan reformasi Katolik, kasuistik dalam tradisi Jesuit abad 16 dan 17 … merupakan jembatan yang unik dan kreatif antara buku-buku pegangan untuk pada pengakuan di abad 14 dan 15 yang amat individualistik dan manual-manual setelah revolusi Perancis yang amat legalistik.

Art. I: Kewajiban sekitar kehormatan dan nama-baik orang lain serta mengenai pencemaran nama-baik

A. Jujah

  1. Jujah artinya mencemarkan nama-baik orang lain. Perbuatan ini dianggap dosa apabila dilakukan ‘secara tidak adil’ atau ‘dengan cara yang terlarang’. Ada dua cara pencemaran nama-baik: pertama, dengan menceritakan kejelekan/perbuatan jahat yang nyata; dan kedua, dengan mengenakan sesuatu yang tidak benar, baik itu karena dibuat-buat ataupun karena terlalu membesar-besarkan/melebih-lebihkan sesuatu itu. Pencemaran dapat dilaksanakan dalam dua cara: melalui pengungkapan langsung dan tidak langsung (sindiran dan pujian yang suam-suam kuku).
  2. Pada hakekatnya jujah adalah dosa berat, meskipun dalam perkara kecil. Disebut sebagai dosa berat karena merugikan orang lain mengenai sesuatu yang lebih berharga dari pada kekayaan, yaitu nama-baik (bdk. Ams 22:1 dan Pengkhotbah 7:1).
  3. Lalu dibedakan lagi dua hal yang merupakan perkara moral yang besar, yaitu pencemaran dengan menceritakan kejelekan yang bersifat rahasia (jujah); dan pencemaran dengan menceritakan kejelekan yang tidak benar (fitnah). Dalam fitnah ditambahkan kejahatan baru, yaitu bohong. Meskipun bohong dalam perkara kecil tetap disebut kejahatan dan dosa berat karena terjadi pencemaran nama-baik.
  4. Jujah dapat disebut sebagai dosa besar kalau nama-baik dirugikan dengan berat. Berat atau tidaknya pencemaran tergantung dari perkara-obyektif mengenai pencemaran nama-baiknya.
  5. Jujah, jika dilihat secara subyektif, jarang sekali merupakan dosa besar karena sifatnya yang kurang sadar-penuh dan kurangnya unsur kesengajaan.
  6. Berkaitan dengan jujah ini ada satu pertanyaan menarik tentang apa yang diizinkan bagi penulis sejarah. Ada satu prinsip yang dikemukakan bahwa menulis sejarah tidak dengan sendirinya merupakan alasan bahwa boleh menjelekkan nama-baik orang (termasuk orang yang sudah meninggal) dengan menceritakan kejahatan yang sampai kini masih rahasia atau dengan mengangkat kembali perbuatan jahat yang sudah dilupakan. Prinsip itu oleh sebagian penulis sejarah tidak diperhitungkan karena mereka menganggap bahwa sejarah merupakan pengadilan. Namun Lehmkuhl (dan menurut ajaran para teolog) melihat anggapan itu tidak ada dasarnya sebab penulis sejarah bukanlah hakim yang legitim. Lalu diajukan beberapa hal yang dengan sendirinya boleh dilakukan oleh para penulis sejarah, antara lain bahwa menulis yang tidak seluruhnya ahasia bagi umum, menceritakan sesuatu yang perlu demi bonum commune, (jika menceritakan orang yang sudah meninggal) memperhatikan kerabat yang masih hidup, mengusahakan pertobatan dan pemulihan.
  7. Orang yang mendengarkan pencemaran nama-baik umumnya tidak berdosa besar kecuali dia senang dengan pelecehannya ataupun secara efektif menyumbang padanya.

B. Mengenai penilaian yang acak-acakan dan praduga

C. Penghinaan

Art. II: Pemulihan (Restitusi) atas Pelecehan nama-baik dan Kehormatan

  1. Dari jujah timbul kewajiban untuk restitusi, syaratnya jujah itu merupakan dosa melawan keadilan. Pencemaran yang mungkin melawan cintakasih tidak dapat ditegaskan kewajiban untuk melakukan restitusi.
  2. Kewajiban untuk memberi restitusi itu mengikat semua orang, baik bagi orang yang secara tidak adil mencemarkan nama-baik atau yang secara tidak adil menjadi sebab pencemaran itu.
  3. Dalam cara memperbaiki pencemaran nama-baik dibedakan antara kasus jujah dan fitnah. Yang memfitnah orang wajib menariknya kembali, kalau perlu, secara publik. Yang hanya menjujah orang tidak dapat terang-terangan menarik kembali jujah tanpa berdusta (terutama dalam kasus yang belum diketahui umum).
  4. Alasan sehingga tidak wajib melakukan restitusi atau perbaikan (alasan untuk tidak menarik kembali pencemaran). 1) yang menjujah mengalami kesulitan yang terlalu besar dan tidak memadai perbuatannya, 2) sudah jelas bahwa tidaklah efektif menarik kembali pernyataan, 3) nama-baik sudah dengan cara lain dipulihkan, 4) sudah secara legitim diampuni oleh dia yang nama-baiknya dicemarkan.
  5. Kehormatan yang sudah dicemarkan harus dipulihkan, sekurang-kurangnya agar perbaikan diketahui oleh mereka yang mendengar pencemaran.

Mengenai Nilai nama-baik, Kehormatan dan Rahasia atau mengenai Perintah kedelapan.

Mengomel, Pernyataan Acak-acakan, Prasangka Kasus: Permasalahan Barbarius yang mengeluh dengan kata-kata kasar mengenai cara ia diterima kembali oleh superiornya. Ia menganggap superiornya tidak adil karena lebih mendengarkan prasangka-prasangka yang tidak benar yang disuarakan mengenai dirinya. Lalu ia menuduh superiornya bahwa superiornya itu selalu memihak orang lain, tidak mampu untuk memimpin, berputar-putar bagaikan sebuah alat dalam tangan Cladius, yang mendalangi pemerintahan keuskupan. Dari kasus di atas kita dapat membahasnya melalui beberapa pokok:

  1. Tentang pelaku (orang yang berdosa-jujah) bila mengeluh dengan teman curhat-nya. Dengan menceritakan kepada orang lain kadar beratnya jujah dari pelaku tidak semakin ringan, namun laku jujah itu dapat tidak merupakan dosa besar kalau ketidakadilan diceritakan kepada orang lain (sahabatnya) untuk mendapatkan dukungan atau penghiburan. Perlu diingat juga jangan sampai mengatakan keluhan itu di depan umum. Selain itu, nama orang yang bersangkutan tidak boleh disebut, kecuali kalau menyebut nama itu memang amat mendukung demi tujuan tersebut.
  2. Tentang dosa macam apakah kalau orang menilai orang lain dengan tidak baik dan mengutarakan dugaan yang jelek dan jahat. Para teolog moral sepakat bahwa perbuatan tersebut secara teoritis selalu harus disebut dosa besar. Namun tidak selalu merupakan dosa besar karena beberapa pertimbangan seperti: materi cerita tidak menunjukkan dosa besar, pernyataan dibuat tanpa penuh kesadaran (emosi meluap), menyadari apa yang dikatakan namun tidak menyadari bahwa telah berbicara dengan tidak cukup alasan, pernyataan bukan sebagai penilaian yang sungguh melainkan hanya pendapat dan dugaan (seperti yang umumnya terjadi). Jika penilaian jahat itu tersebar pada orang lain dan para pendengar menganggap bahwa pelaku berbicara dengan kemarahan hati sehingga pernyataan itu tidak seluruhnya dipercaya maka pernyataan itu bukan sebagai dosa besar, sejauh menyangkut keyakinan dalam hati para pendengar. Prasangka merupakan pernyataan yang tidak pasti, diragukan benar-salahnya, maka bukan merupakan dosa besar. Baru kalau prasangka itu menyangkut perkara yang luar biasa berat dan diambil setelah pertimbangan jelas dan dengan penuh kesadaran bahwa pernyataan memang jahat dan bahwa kurang ada alasan, harus dipandang sebagai dosa besar. Namun pendapat lain mengatakan bahwa prasangka disebut dosa besar hanya kalau bersumber dari sikap hati yang jahat terhadap orang.
  3. Dari kasus Barbarius dapat dikatakan bahwa ia dapat dianggap tidak berdosa kalau ia menceritakan kepada temannya hanya apa yang ia alami, namun karena ia mengomel dan menuduh superiornya ia dianggap berdosa. Ia mengungkapkan keluhan (tentang superiornya yang mendengar dan percaya prasangka-prasangka) dengan penuh emosi tak terkendali, maka omelan macam itu tidak akan disebut melampaui dosa kecil. Mengenai tuduhan Barbarius kepada superiornya sebagai orang yang tidak mampu memimpin dan memihak orang lain harus dilihat lebih jelas apakah tuduhan itu benar atau salah. Kalau memang benar tidak terdapat dosa besar dalam kata-kata Barbarius. Namun kalau salah karena Barbarius membesar-besarkan perkara masih harus lihat lagi bagaimana tanggapan temannya. Kalau temannya ragu-ragu karena Barbarius mengatakan dengan marah sehingga ia tidak percaya seluruhnya maka bukanlah jujah besar atau dosa besar. Secara subyektif selalu ada alasan untuk tidak menganggapnya dosa besar karena dengan penuh emosi Barbarius mengatakan tanpa pertimbangan jelas dan tanpa kesadaran betapa berat perkara itu. Secara obyektif timbul juga kewajiban untuk membetulkan apa yang dikatakannya dan memperbaiki pencemaran nama-baiknya, kalau pencemarannya senyatanya merupakan perkara besar.

Mengapa dikatakan salah ketika orang menyingkap kebenaran yang berpotensial merusak hal yang senyatanya tentang orang lain tanpa sebab yang cukup? Pemikian Lehmkuhl tentang jujah atau fitnah menyediakan baik dasar kemungkinan dan metode untuk menganalisa suatu masalah atau perkara. Ia menekankan pentingnya tindakan yang didasarkan keadilan dan kebenaran. Pendasaran kebenaran atas setiap pernyataan dan tindakan mempunyai implikasi moral, baik secara sosial maupun individual. Oleh karenanya setiap orang haruslah memiliki pertimbangan yang jelas ketika bertindak atau mengatakan sesuatu sebab akan mempengaruhi reputasi atau nama-baik orang lain. Seperti yang ditegaskan Julia Fleming bahwa reputasi secara sosial signifikan sehingga berpengaruh pada kebaikan bersama juga. Maka dikatakan salah ketika seseorang menyingkapkan kebenaran namun merusak reputasi orang lain yang akhirnya mempengaruhi lingkungan sekitarnya (keluarga, komunitas).