Teolog Jesuit: Franciscus Suarez, SJ

Franciscus-Suarez-SJ

Siapakah Franciscus Suarez, SJ?

Beny Setiawan, SJ

Franciscus Suarez lahir di Granada, Spanyol pada 1548. Ketika berumur 16 tahun, Suarez masuk novisiat SJ di Salamanca. Lalu studi Filsafat 2 tahun (1564-1566) di Rumah Studi Jesuit di Salamanca. Dilanjutkan kemudian dengan studi Teologi di Universitas Salamanca dan di Biara Dominikan dalam waktu 4 tahun (1566-1570). Karena umurnya masih begitu muda untuk ditahbiskan ketika dia sudah menyelesaikan studinya, Suarez ditugaskan untuk memimpin program dan mereview lagi studi teologi bagi mereka yang sudah selesai seperti dia. Setelah itu, dia ditugaskan untuk melengkapi studi teologi dan filsafatnya di Segovia selama 3 tahun (1571-1574). Sementara studi di Segovia itu, dia ditahbiskan menjadi imam pada 1572. Sejak 1574 sampai meninggalnya di Lisbon pada 1617, waktunya habis digunakan untuk mengajar teologi di berbagai macam tempat. Antara lain mengajar di Collegium Romanum (1580 – 1585) bersama koleganya dalam Serikat, Robertus Bellarminus. Setelah itu, selama 20 tahun terakhir hidupnya, dia mengajar sebagai profesor Teologi di Universitas Coimbra, Portugal. Pater Jenderal, Claudius Acquaviva, meminta Suarez untuk menuliskan sebuah traktat yang berisi tentang spiritualitas Serikat Yesus dalam seluruh tradisi hidup membiara. Lalu terbitlah tulisan berjudul “De Virtute et Statu Religioso” yang terdiri dari empat jilid. Tulisan itu berisi suatu refleksi teologis tentang Hidup Religius dalam Serikat Yesus dan secara khusus mengenai praksis dan teologi Latihan Rohani. Dalam “De Virtute et Statu Religioso” khususnya bab. II, dituliskan mengenai Seni dan Metode Latihan Rohani yang juga merupakan tanggapan Suarez terhadap Summa Theologiae II-II Thomas Aquinas. Oleh sebab itu, secara ringkas tulisan Suarez dalam bab II ini menyangkut tentang beberapa konsep pemikiran Skolastik. Dalam tulisan singkat ini, akan dikemukakan dengan ringkas mengenai keunggulan Latihan Rohani menurut Franciscus Suarez. Selanjutnya juga akan dibahas di sini mengenai unsur-unsur diskursus teologi skolastik serta pengertian mengenai Kodrat dan Rahmat menurut Franciscus Suarez.

Keunggulan Latihan Rohani menurut Fransiscus Suarez

Ignatius mempertimbangkan secara bijaksana di dalam memberikan metode Latihan Rohani. Inilah hal penting yang dikatakan oleh Suarez di tengah berbagai macam keberatan terhadap metode atau seni Latihan Rohani. Mengapa dikatakan bijaksana? Hal pertama yang paling jelas adalah dilihat dari hasilnya. Dari seluruh sejarah pengalaman manusiawi, kita tahu bahwa metode atau seni (Latihan Rohani) sangat membantu banyak orang. Maka Paus Paulus III berkenan menerbitkan Bulla demi mengakui metode ini. Dari kisah para kudus pun juga diteladankan bahwa orang tidak hanya diajak untuk berdoa batin dan pertimbangan saja akan tetapi juga sedapat mungkin mengajarkan cara berdoa dan mengangkat diri kepada Allah. Ada banyak tokoh yang mengajarkan cara berdoa. Antara lain, Dionysius dalam bukunya Theologia Mystica; Augustinus dalam Meditationes, Deligendus Deus dan dalam Soliloquia; Julianus Pomerius yang menulis 3 jilid mengenai hidup kontemplatif. Lalu juga Para Bapa Gereja seperti Bernardus dalam Interior Domus dan dalam Scala Claustralius; Richardus dari S. Victor, Bonaventura dalam Exercitia Spiritualia dan Quatuor Mentalia Exercitia, dan seterusnya.

Dalam seluruh tulisan mereka itu, yang mendapat penekanan khusus adalah mengenai keunggulan dan hasil dari meditasi serta kontemplasi. Sementara menurut Suarez, keunggulan dari Latihan Rohani terletak pada cara (metode) berdoa yang memang belum ditunjuk dari seluruh tradisi doa yang sudah disebutkan itu. Santo Ignatius menyampaikan ringkasan pengajaran yang menakjubkan dalam bentuk pedoman-pedoman dan kata-kata yang singkat, yaitu pengajaran yang sepertinya tidak ditimba dari buku-buku melainkan dari kekuatan Roh Kudus dan dari pengalamannya yang melimpah. Berawal dari sinilah, dapat ditarik dari pemikiran Suarez mengenai pengertian Kodrat dan Rahmat.

Pengertian Kodrat dan Rahmat

Sudah panjang orang berdebat mengenai pengertian kodrat dan rahmat. Dan dari sejarah panjang perdebatan itu, yang juga tak dapat dihindari dari perdebatan itu sudah merembet melibatkan institusi, satu pertanyaan masih bisa diajukan: apakah yang khas dari pemikiran Suarez mengenai Kodrat dan Rahmat dalam tulisannya mengenai Seni Latihan Rohani ini? Thomas Aquinas mengajarkan Teologi Kodrat. Di situ, Aquinas mengajarkan bahwa manusia sanggup mengenal Allah dengan pertolongan akal budinya. Ajaran tersebut secara sistematik dibahas dalam dua bagian, yaitu pertama dibahas mengenai “bukti-bukti adanya Allah dan kedua, bagian yang membahas sifat-sifat Allah. Dalam tulisan itu, Aquinas mendasarkan argumentasinya mengenai eksistensi Allah atas pengalaman empiris manusia. Sementara Suarez menegaskan bahwa dalam semua tindakannya untuk mengenal Allah, manusia membutuhkan pendidikan dan pengajaran agar dapat melakukannya dengan tepat dan bermanfaat. Untuk dapat melakukan doa batin (usaha batin), yang merupakan doa paling utama yang dapat dibuat manusia, membutuhkan suatu pendidikan dan pengajaran. Usaha tersebut menyangkut berbagai tindakan manusiawi, yaitu tindakan akal budi yang menggagas hal-hal abadi, tindakan yang menolak dosa, yang mencintai Allah, yang menganggap hal-hal fana dan merindukan yang abadi. Maka adalah sangat berguna dan merupakan karya ilahi seandainya manusia mempunyai suatu jalan yang tertata dan singkat, yang bisa diterima oleh kemajemukan manusia, dan yang telah teruji melalui praksis dan pengalaman orang-orang yang lebih sempurna. Cara atau metode Latihan Rohani melalui doa dan meditasi, merupakan warisan Santo Ignatius yang mesti dijunjung tinggi oleh Serikat karena hal itu merupakan suatu karunia utama dan tugas dari Allah dan sarana paling manjur untuk mencapai tujuannya. Ketika dipertanyakan oleh berbagai macam pihak dalam bentuk keberatan-keberatan atas metode ini, dimana disangsikan bahwa melalui metode ini tidak akan dihasilkan buah melimpah karena diyakini secara luas usaha berdoa dan melatih budi pada hal-hal rohani pertama-tama adalah karya inspirasi Roh Kudus sendiri dan bukan karena kemampuan manusia, Suarez menegaskan bahwa “biarpun Roh Kuduslah yang terutama memprakarsai kemajuan batin dan usaha untuk memperolehnya, namun dari pihak kita dituntut untuk menanam dan menyirami, agar Allah mengaruniakan pertumbuhan; rahmat dan penerangan ilahi tidak mengesampingkan kerjasama dan persiapan dari pihak manusia, melainkan malahan menuntutnya.” Dalam poin keberatan juga diajukan bahwa karya Roh kudus berbeda dengan usaha manusia. Inspirasi Roh Kudus tidak dapat dibatasi dengan aturan-aturan atau pedoman-pedoman melainkan menurut kehendakNya, Ia menggerakkan dan mencerahkan jiwa dengan aneka cara tak terbatas. Usaha ini bukan peristiwa seni atau metodik melainkan peristiwa rahmat dan kalau orang mau mengikat diri pada aturan-aturan dari seni (metode), sering justru malah menghalangi gerak Roh Kudus. Menanggapi keberatan semacam ini, Suarez menegaskan bahwa pedoman itu tidak diberikan supaya mengikat manusia atau membatasi Roh Kudus kalau Ia menurut kehendakNya membimbing ciptaan-Nya. Namun, nasihat dan aturan hanya mengajari manusia agar ia mulai berusaha dan bermeditasi, menimbang-nimbang, sementara ia belum secara khusus digerakkan terlebih dahulu oleh Roh Kudus dan dapat merasakannya dan mengikuti-Nya. Sampai di sini, dapat ditarik suatu simpul dari pemikiran Suarez bahwa kodrat itu tidak bertentangan dengan rahmat. Melalui pedoman dan aturan Latihan Rohani, kodrat justru menjadi titik tolak untuk menyongsong Rahmat yang sudah pasti bekerja seturut kehendak-Nya. Yang disebut dengan kodrat adalah seluruh hakikat realitas ciptaan. Misalnya, kodrat manusia sebagai mahkluk yang berakal budi. Untuk itulah, melalui metode Latihan Rohani manusia justru dibantu untuk bisa berkomunikasi (jw: nyambung) dengan Allah yang bekerja secara aktif melalui Inspirasi Roh Kudus.

Tentang Struktur Materia dan Forma

Sejak Aristoteles sampai Thomas Aquinas dibicarakan mengenai unsur-unsur ontologis Materia dan Forma. Thomas Aquinas setuju pada Aristoteles yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang ada dalam alam terdiri dari materia dan forma. Yang dimaksud materia adalah bakal atau bahan yang darinya muncul sesuatu. Ia adalah substansi tidak sempurna yang masih merupakan kemungkinan (Lt: potentia) dan yang kemudian menjadi kenyataan (actus). Sementara Forma adalah prinsip yang memberikan cara berada pada materia sehingga materia menjadi nyata atau mencapai actus. Dengan kata lain, formalah yang membuat sesuatu yang bersifat potensial menjadi aktual. Dan forma itu sendiri sudah terkandung di dalam materia. Suarez juga menggunakan term itu dalam mengurai renungan-renungan latihan rohani. Menurutnya, yang bisa disebut materia adalah hal dan perkara yang diberi pertimbangan; sementera forma adalah cara dan pengarahan, yang diberikan untuk mengadakan pertimbangan dengan tepat lagi berguna. Cara dan pengarahan ini mendapatkan tekanan lebih daripada hal atau perkara yang mesti dipertimbangkan itu karena sebenarnya cara dan pengarahan itu merupakan karunia yang diberikan kepadanya dengan rahmat khusus, yang dihasilkan dengan banyak praksis dan pengalaman dengan bantuan rahmat ilahi.

Untuk Diskusi Lebih Lanjut

Setelah membaca karangan Franciscus Suarez ini berulang-ulang dan merefleksikannya, pokok diskursus teologi yang bisa diangkat darinya adalah 1. Apakah berteologi atas doa itu bermula dari insipirasi Roh Kudus atau lewat dinamika usaha manusiawi dengan mengikuti pedoman-pedoman atau aturan-aturan? 2. Dalam beberapa hal, Latihan Rohani itu setia pada Teologi Thomas Aquinas. Teologi Thomas Aquinas itu mendasarkan diri pada prinsip kausalitas. Allah dipandang sebagai prinsip pertama yang menjadi sebab tertinggi dari gejala-gejala di bumi. Bagaimana Latihan Rohani berusaha membantu manusia melihat dan memahami dunianya? 3. Berkaitan dengan kodrat manusia, manakah yang merupakan ciri-ciri hakiki dari kodrat manusia? Manakah tindakan yang sesuai dengan kodrat manusia dan mana yang tidak?