Teolog Jesuit: Jerome Nadal

Jerome-Nadal

Ketaatan sebagai Keutamaan menurut J. Nadal

Y. Eko Sulistyo, SJ

“Biarlah ordo-ordo religius lain lebih unggul daripada kita dalam hal puasa, pantang tidur, dan macam-macam lakutapa yang lain….Akan tetapi, dalam hal ketaatan yang sejati lagi sempurna, apalagi dalam hal penyangkalan kehendak dan pendiriannya, kalianlah saudara-saudara yang terkasih, yang mengabdi Allah Tuhan kita dalam Serikat ini, kuharapkan menjadi unggul.” (Surat Ignatius kepada Jesuit di Portugal)

Selain merupakan usaha untuk mengenal Jerome Nadal [1507-80], paper ini juga mau membicarakan tiga pokok terkait dengan pemikiran Nadal: 1. Nadal menjelaskan dasar teologis ketaatan; dia mendudukkan tempat Allah dalam kenyataan dengan pembesar 2. Ketaatan menyangkut tiga daya: kehendak, intelek, dan pelaksanaan; proses menjadi taat melibatkan ketiganya 3. Ketaatan adalah keutamaan; bagaimana itu ditumbuhkan dan dijaga? Apa yang perlu dilakukan dan apa yang perlu dihindari? Pertanyaan pribadi saya adalah: apakah membicarakan ketaatan masuk dalam ‘kategori’ berteologi, saya takut dalam membahas hal ini (berteologi) saya jatuh dalam ‘omong suci’ belaka? Namun lebih jauh dari itu Nadal sering disebut sebagai Teolog Spiritualitas Ignatian. Maka paper ini mencoba melihat pendasaran teologis kaul ketaatan.

Siapa Jerome Nadal?

Nadal lahir di Palma, Mallorca pada 11 Agustus 1507 dari sebuah keluarga terhormat. Ia meneruskan kuliah di Alcala, Paris dan akhrinya di Avinon. Di Avignon pada 20 April 1938 ia ditahbiskan menjadi imam dan meraih gelar doktor teologi (11 Mei 1938). Setelah ditabhiskan ia kembali ke Mallorca dan hidup dekat keluarganya. Nadal masuk serikat dalam periode setelah resmi SJ disetujui Gereja. Nadal sendiri mengenal para sahabat pertama pada 1535 namun menolak untuk langsung bergabung de-ngan kelompok Ignasius. Ia baru bergabung dalam serikat pada 1545. Oleh karena itu mengingat kembali panggi-lannya, Nadal selalu mengatakan bahwa panggi-lannya mulai dari Paris pada tahun 1535. Nadal mengenal secara baik Ignatius dan spiritualitas yang dihidupi Ignatius ketika berada di Roma. Di sana terjadi komunikasi menda-lam dirinya dengan Ignatius. Ada yang menyebut-nya alter ego Ignatius, first theoritician of Jesuit Spirit-uality, penerjemah pemi-kiran Ignatius. Polanco, seba-gai sekretaris pertama dan sejarawan, pernah menulis “He knows our father Master Ignatius well because he had many dealings with him and he seems to have understood his sprit and comprehended our Institute as well ass anyone I know in the Society.

Ia berpengaruh luar biasa bagi perkembangan Serikat awal. O’malley menyebutkan ada 3 pengaruh kuat Nadal bagi Serikat: pertama, ia dikenal sebagai penerjemah otentik pikiran Ignasius. He almost immediaately won the special confidence of Ignatius, who sooon confided to him the experimental promulgation of the Constituions of the Society of Jesus. Maka Ia juga diperintahkan Ignatius berkeliling ke eropa (Italia, spanyol, Portugal, perancis, Jerman, Austria). Ignasius sendiri menyatakan bahwa ‘he altogether knows my mnd and enjoys the same authority as myself”. Kedua, nadal menajalankan dengan antusiasme tugasnya berkunjung kepada komunitas -komunitas SJ di Eropa. Peran Nadal sangat unik karena menempatkan dia dalam posisi mempengaruhi yesuit secara langsung dalam hidup panggilan dan ordo dimana mereka bergabung. Ketiga, pengaruh Nadal dirasakan dalam gaya dan isi pesan yang ia bawa tenang Serikat. Dalam generasinya Nadal dikenal sebagai penerjemah yang setia pemikiran Ignatius. Dalam arti tertentu, ada bagian yang tidak ditemukan pada Ignasius karena mrupakan perkembangan ide lebih lanjut. Contoh nyata adalah frase kontemplasi dalam aksi (contemplativus in actione simul).

Nadal sebagai Teolog Spiritualitas Serikat

Ada dua pemikiran pokok dari pengajaran Nadal. Pertama, doktrin tentang ‘kontemplasi dalam aksi’. Hal ini memaparkan dan menggabungkan ide dalam LR tentang ‘kontemplasi untuk mendapatkan cinta Ilahi’ dan penjelasan Ignasius dalam Konstitusi tentang ‘menemukan Tuhan dalam segala’. Kedua, yakni pemikiran yang tidk secara langsung ditemukan dalam ajaran Ignasius, yakni tentang ‘rahmat panggilan’ atau ‘rahmat pendiri’. Panggilan dalam tiap ordo religius mempunyai kaitan erat dengan cara hidup dan hidup spiritual dari pendiri. Bapa pendiri menyatakan dan menghayati sebuah cara hidup tertentu termasuk sesuatu yang dalam dan pengalaman mistis. Bangert mengungkapkan pemikiran teologis Nadal dalam kaitan dengan theology of jesuit spirit mengungkapkan ada beberapa pokok diantaranya: 1. Kehadiran Allah di dunia; 2. Aktivitas Allah di dunia; 3. Hidup dalam Allah dan dalam Kristus; 4. Peran hati dalam hidup rohani; 5. Aksi dan kontemplasi dalam hidup yesuit; 6. Dimensi apostolis dari doa; 7. Spirit of Society of Jesus; 8. Cara berliturgi. Nadal menjelaskan bahwa Allah hadir di dunia secara nyata. Ia hadir dalam diri kita. “God is in us. We exist. God exist. Our being is from God and is in God. With reflectionon our being we perceive God within us. And we adore him.” Dosalah yang dapat diklaim sebagai milik yang ada dalam diri manusia. Maka manusia harus mencari Tuhan, membebaskan dirinya dan menemukannya dalam segala hal. Inisiatif selalu dari Allah. Dunia ada karena pemberian Allah. Tindakan Allah berkelanjutan di dunia dan selalu memberikan diri. “the understanding, the contemplation, the love, the adoration of God. This is the way God wants us to be.” Dalam kaitan dengan frasa ‘kontemplasi dalam aksi’ yang terkenal itu, berasal dari cerita Ignatius kepada Nadal. Tenang seorang Raja yang mempunyai 2 anak. Yang satu diutus bernegosiasi dan berperang; sedangkan yang satu berjaga di rumah dan tinggal bersama Ayahnya. Anak yang pertama mendapatkan upah yang lebih besar daripada yang kedua. Kisah dimaksudkan Ignatius untuk menjelaskan cara hidup aktif dan contemplatif. Terakit dengan cerita ini Nadal menulis “Here I understand that the active life –about which I shall speak in another olace-is supreior to otherssed hoc loco intelligio activam [de qua alias] superiorem aliis esse). Nadal membedakan ada 3 bagian: active life, contemplative life, dan higher active life. Menurutnya seturut pengalamannya sebagai yesuit: yesuit itu masuk dalam cara hidup aktif dengan examen, penitensi, meditasi akan dosa, matiraga, keutamaan; yesuit masuk dalam tahap kontemplatif ketika berdoa dengan kontemplasi akan misteri hidup Kristus; dan akhirnya cara hidup aktif paling tinggi adalah dengan melakukan tanggungjawab dalam karya kerasulan dan tetap berjuang dalam perang melawan dosa dan dalam kontemplasi akan hidup Kristus. Maka dari cerita Ignatius anak yang maju berperang itulah cara hidup yang paling tinggi menurut Nadal.

Bergulat dengan Ketaatan

Dalam bagian tulisan ini akan dipaparkan penjelasan Nadal tentang ketaatan sebagai sesuatu yang khas dalam Serikat. Nadal mencoba menjelaskan dasar teologis dari kaul ketaatan. Ketaatan dalam Serikat pertama-tama harus dipahami dalam konteks perutusan. Artinya, ketaatan ditempatkan dalam kerangka tugas perutusan. Dengan ketaatan diharapkan orang bisa diutus dan menghasilakn buah melimpah dalam kerasulannya. Hal pokok yang ditekankan dalam penghayatan ketaatan adalah pentingnya kesempurnaan dalam penghayatan ketaatan. The nature of obidience, as it is grounded by vow in religious orders, is greatly different from that found in any other circumstances. Karena ketaaatan religius tidak bisa dipertimbangkan kecuali ada pertanyaan dalam usaha untuk lebih mencapai kesempurnaan. Ketaatan menyangkut tiga daya: kehendak, pengertian (intelect), dan pelaksanaan; proses menjadi taat melibatkan ketiganya. Ketaaatan harus diungkapkan dalam tindakan, kehendak dan dalam waktu yang sama pikiran. Hal itu dapat dianalogikan dengan Analogi tentang Iman, Intelek, dan keadilan, dan Pewahyuan. Ketaatan mempunyai karakter khusus dalam hal ketenangan tapi bersifat menuntut seperti ada dalam iman. Orang yang taat berpendirian dan berkehendak melakukan seolah-olah mereka berkeinginan memahami dan menghendaki pikiran atau kehendak pembesar. Ketaatan yang melulu melaksanakan perintah-perintah secara lahir adalah paling rendah dan sangat kurang sempurna. Bahkan ketaatan semacam ini tidak pantas disebut sebagai keutamaan. Ketaatan yang wajar meningkat ke taraf kedua, yang membuat kehendak Pembesar menjadi kehendak sendiri. Kecocokan antara kedua pihak haruslah sedemikian rupa sampai tidak hanya menghasilkan pelaksanaan secara lahir, melainkan juga kesetujuan dalam batin. Oleh kedua-duanya sama yang dikehendaki, sama yang ditolak.” (No 5). Praktik ketaatan seperti pewahyuan Allah. Sebab kapanpun pembesar berbicara, aku harus merasakannya sebagai aku yang mendengar Tuhan sendiri yang hadir di depanku. Ketaatan dilakukan kepada manusia seolah-olah kepada Tuhan sendiri, tidak hanya karena aku mencitai manusia karena cinta kepada Tuhan tetapi juga karena kaul itu dibuat kepada Tuhan dan manusia, maka mempunyai kewajiban yang sama. “Hal ini tidak berarti bahwa kalian dilarang menghadapkan keberatanmu kepada Pembesar. Sesuatu yang berbeda dari pendapat Pembesar mungkin timbul padamu, asal setelah memohon dalam doa kepada Tuhan untuk menerangi hal tersebut, kalian menganggap perlu untuk menyampaikannya pada Pembesar. Akan tetapi, agar dalam hal seperti itu kalian jangan diperdaya oleh cinta diri dan pendapat sendiri, haruslah ada jaminan bahwa kalian, baik sebelum maupun sesudah pemberitahuan tadi, tetap lepas bebas, tidak hanya untuk melaksanakan atau menolak perintah tersebut, tetapi juga untuk menyetujui dan menganggap lebih baik apapun yang diperintahkan oleh Pembesar.” (no 19) Nadal juga mengungkapkan 20 hal yang dapat melemahkan penghayatan semangat ketaatan. 1. Mereka yang taat namun tidak taat dalam hal tertentu. 2. Melakukan apa yang diperintahkan namun tidak melakukan sepenuhnya. 3. Melakukan yang diperintahkan namun dengan cara yang lain sebagaimana diminta. 4. Mereka yang membuat dirinya sendiri sulit sejauh dengan ketaatan dengan usaha dan permasalah yg besar. 5. Mereka yang tidak berkehendak menaatai kehendak pembesar dengan ungkapan sederhana 6. Taat bukan karena cinta tapi karena takut. 7. Taat tapi terbiasa dengan diskusi lama tentang apa yang diperintahkan. 8. Selama menjalankan perintah, merasa sedih dan berat hati. 9. Tidak siap menaati dengan mengatakan tidak bisa melakukan apa yang diperintahkan. 10. Tidak pernah menyiapkan diri dengan doa dan pikiran untuk menaati. 11. Taat tapi dengan menggerutu. 12. Tidak nata menggerutu namun melakukan dengan sedih. 13. Taat dalam perkara besar tapi menolak dalam hal lain. 14. Tidak punya perhatian untuk memnuhi maksud pembesar. 15. Ketika diperintah tidak mengenakkan, mengubah intensi dari pembesar. 16. Mengungkapkan ketidakmampuan untuk mengungkapkan ketidakmampuan menaati. 17. Menunjukkan temperamen tinggi ketika diperintah (kuda liar). 18. Tidak bisa diperintah orang lain karena keyakinan diri. 19. Lebih sudak ditaati/dituruti daripada menaati 20. Menaati tapi melakukannya dengan buruk. Ketaatan yang mengesan? Pengalaman akan ketaatan yang saya lihat konkrit dan menyentuh adalah ketika Br. Prapta ditugaskan di Kolsani. Pada awal ia hanya diminta datang dan bergabung dalam pertemuan para bruder se-asistensi. Namun setelah pertemuan ia juga dimnta berobat matanya. Ia seolah-olah merasa ‘terjebak’ agar mudah untuk ditugaskan. Ia tidak tahu kalau ia akan dipindah dan diberi SK tugas di Kolsani. Ia tidak mempermasalahkan penugasan baru. Ia tetap melakukan kepindahan ke Kolsani walau dengan baju dan apa yang ia miliki seadanya. Karena memang tahunya ia hanya dalam rangka pertemuan saja di Jawa. Barang dan segala yang dia miliki masih ada di Papua. Bagi saya inilah penghayatan ketaatan yang konkrit, jelas dan menunjukkan kerendahan hati yang sungguh.