Teolog Jesuit: Joseph Kleutgen, SJ

Siapakah Joseph Kleutgen, SJ?

Devianto Fajar, SJ

Biografi

Joseph Wilhem Karl Kleutgen lahir pada tanggal 9 April 1811 di Dortmund, Westphalia. Tahun 1829, ia lulus dari gymnasium. Pada tanggal 28 April 1830-8 Januari 1831, ia belajar filsafat di Universitas Munchen. Tahun 1832, ia menjadi kandidat teologi pada Universitas Munchen. Pada bukan Apri 1833, ia pindah ke Padernborn dan disitu ia ditahbiskan menjadi subdiakon pada tanggal 22 Februari 1834. Pada waktu itu, Kleutgen memutuskan untuk masuk Serikat Jesus dan ia masuk novisiat SJ tanggal 28 April 1934 di Brig, Swiss. Setelah novisiat dan tahbisan imam, ia menjadi dosen etika di Fribourg, Swiss. Setelah itu ia dipanggil ke Roma dan berkerja di sekretariat jendral SJ. Tahun 1858-1862, ia menjadi sekretaris. Ia menjadi spriritual di Germanikum dan mengajar retorika dan homiltika pada tahun 1847-1862. Tahun 1850-1862, ia menjadi kongregasi untuk index. Menjelang tahun 1870, ia menjadi bapa pengakuan di biara-biara suster-suster benediktin St. Ambrosius dan terkena suspensi perihal ibadat-ibadat yang sesat. Oleh Paus Pius IX, suspensi tersebut langsung dicabut.

Kleutgen bukan teolog KV I tetapi ia amat berpengaruh pada KV I. Ia bersama P. Wilmers merumuskan kostitusi dogmatik mengenai ‘Dei Filius; mengenai iman Katolik. Pada tahun 1878, ia diangkat oleh Paus Leo XIII menjadi prefek studi di Universitas Gregoriana dan tahun 1879 ia mengembalikan tugas tersebut karena stoke. Ia meninggal pada tanggal 18 Januari 1883.

Hubungan antara Ilmu Pengetahuan dan Iman

Ilmu pengetahuan selalu dikaitkan dengan akal budi yang kodrati dan pengalaman. Ilmu pengetahuan pertama-tama dikaitkan atau ditentukan oleh isinya. Namun isi tersebut berkait dengan dasar atau prinsipnya. Isi ilmu dipandang pertama-tama pada dirinya semata-mata tetapi sejauh itu diperoleh dari dasar atau prinsipnya. Teologi sendiri berasal dari iman yang mengandaikan wahyu. Teologi sebagai ilmu juga berasal dari akal budi dan prinsipnya maka teologi sendiri tidak lain dari keseluruhan pengetahuan yang oleh akal budi diperoleh dalam menangkap isi iman dan isinya. Karena berpangkal dari iman dan akal budi maka ada penyatuan antara pengetahuan adikodrati, iman, dan pengetahuan kodarti. Dengan demikian tidak mengherankan bahwa akal budi dapat mengantar kita pada iman. Jadi, ada hubungan antara ilmu pengetahuan dan iman. Ilmu pengetahuan perlu untuk menangkap pokok-pokok apa yang diimani dan menjadikan iman menjadi rasional dan bukan romantisme belaka. Dan jikalau kita sampai pada beriman maka kita diajak kembali untuk melihat iman tersebut dan membedakannya dari yang salah atau sesat.

Mengenai tempat ilmu pengetahuan teologi dalam ilmu-ilmu pengetahuan

Pemahaman teologi sebagai ilmu berbeda dengan pemahaman ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya. Ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya memiliki dasar atau asas-asas yang dapat dibutuktikan secara ilmiah dan empiris. Dasar dari teologi adalah iman dan wahyu. Kedua hal ini diandaikan ada dan orang percaya. Pewahyuan Allah hanya dapat dilihat atau dibuktikan dalam kacamata iman. Selain itu ada yang menjadikan teologi berbeda dengan ilmu yang lain adalah karena dalam teologi terdapat pengetahuan kodrati dan adikodrati. Pengetahuan adikodrati sendiri adalah keterkaitan antara teologi dengan ilmu-ilmu yang lain, ilmu yang dimaksud adalah filsafat dan sejarah. Filsafat dan sejarah menjadi pengandaian akan teologi dan bukan sumber dari teologi. Sumber dari teologi tetap wahyu ilahi hanya saja kedua ilmu tersebut membantu kita untuk dapat melihat dan memahami teologi. Sejarah sendiri membantu kita untuk melihat Yesus atau keselamatan dalam konteks sejarah manusia sedangkan filsafat sendiri membantu kita untuk dapat berpikir secara kritis. Sedangkan pengetahuan adikodari adalah bukan saja filsafat dan sejarah menjadi pengandaian akan teologi tetapi juga dilihat dalam terang rahmat. Karena berasal dari rahmat maka iman diangkat diatas dari segala pengetahuan manusia. Teologi sendiri adalah ilmu pengetahuan adikodrati. Dasarnya adalah iman yang didapat bukan dari ilmu-ilmu pengetahuan manusiawi tetapi dari penerangan ilahi dan teologi mendapat kepastiannya dari iman adikodrati.

Teologi dan tradisi teologi dibela sebagai ilmu pengetahuan manusiawi

Teologi dan tradisi teologi dibela sebagai ilmu pengetahuan manusiawi karena dalam teologi yang menjadi dasar adalah iman dan wahyu. Iman hanya dialami oleh manusia yang menangkap kebenaran-kebenaran wahyu. Dengan demikian hal ini ingin dipahami bahwa teologi ingin merupakan usaha manusia untuk dapat memahami wahyu yang diwahyukan Allah kepada dirinya sehingga ia mendapat dasar, iman adikodrati, untuk Teologi sebagai usaha manusiawi untuk dapat memahami atau menangkap wahyu Allah.

Latar belakang Penulisan

Sebagaimana diakatakan dalam pengantar bahwa tulisan ini ditulis untuk membela tradisi teologi melawan teologi rasional dan liberal, khsusnnya teologi Georg Hermes dan Johann Baptist Hirscher. Kedua tokoh ini dipandang Kleutgen berhasil membela iman kristiani sebagai peristiwa adikodrati dan berhasil memperbaharui teologi kristiani yang asli sebagai ilmu pengetahuan dalam alam pikiran rasionalis. Namun, menurut Kleutgen, baik Hermes maupun Hirscher mengritik bahkan menolak tradisi teologi patristik maupun teologi skolastik abad pertengahan. Selain itu, tulisan ini ingin membuktikan kebenaran agama kritiani dari fakta-fakta sejarah melalui penalaran akal budi dengan maksud sebagai pelidung dari teologi. Dengan menunjukkan iman yang masuk akal maka akan menangkal serangan-seranagan ketidak percayaan akan iman kritiani.