Teolog Jesuit: Michael Amaladoss, SJ

Michael-Amaladoss-SJSiapakah Michael Amaladoss, SJ?

Cahyo Christanto, SJ

Identitas keagamaan ganda : Mungkinkah? Perlukah?

Identitas dan Keanggotaan

Pokok pembahasan pertama-tama diarahkan untuk melihat apakah identitas keagamaan ganda, bukan keanggotaan keagamaan ganda. Identitas berpusat perhatian pada pengalaman individu. Keanggotaan selalu menyertakan aspek komunitas atau institusi seorang individu. Pada taraf keagamaan, keanggotaan menentukan identitas individu secara sekunder. Pembicaraan tentang Identitas keagamaan ganda tidak dimaksudkan mengarah ke proses inkulturasi. Juga bukan dimaksudkan untuk mengatakan bahwa identitas keagamaan ganda adalah integrasi dari keagamaan kosmos dan metakosmos. Aloysius Pieris menganalisa struktur keagamaan masyarakat dalam tiga tahap: pertama, pengalaman awal-dasar atau primordial sebagai asal muasal agama. Kedua, adanya memori kolektif yang menyimpan pengalaman ke dalam teks-teks, simbol-simbol, ritual dan kepercayaan yang memunculkan pengenangan akan pengalaman. Ketiga, penafsiran atas pengalaman dalam istilah filsafat dan teologi. Amaladoss menambahkan unsur yang keempat yaitu institusionalisasi yang berkembang untuk melidungi dan meneruskan atau mengajarkan memori kolektif, termasuk penafsiran secara resmi. Orang yang tertarik kepada sebuah agama mungkin menggunakan aspek memori kolektif untuk mencapai pengalaman primordial, sambil menarik diri dari kerangka institusi. Seseorang tidak dapat menjadi Kristen tanpa mengetahui dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus. Tetapi apakah orang tersebut perlu sebuah hubungan dengan sebuah institusi? Sebagai contoh, Gandhi membaca Perjanjian Baru dan menyanyikan himne bagi Kristus yang tersalib tanpa mengikuti disiplin sakramental dari sebuah gereja. Di India, K. Subba Rao meng-klaim memiliki penglihatan akan Kristus dan menjadi pengikut-Nya tanpa hubungan apapun dengan salah satu gereja. Ia menolak hubungan ini, tetapi ia memiliki kelompok pengikut. Berbicara tentang pengalaman mistik, kadang-kadang komentator menyarankan bahwa pengalaman intinya adalah sama. Meskipun pengalaman mistik itu diterjemahkan dan diterangkan secara berbeda oleh berbagai tradisi keagamaan. Tetapi tampaknya lebih kepada mereka yang menjalani bentuk doa mistik memang mengikuti tradisi yang lebih khusus. Hal itu mengkondisikan bukan hanya praktek, tetapi juga kebiasaan dan kerangka mental spiritual, dan pada akhirnya adalah pengalaman mereka. Sebagai contoh seorang Kristen dari Kanada menjalani praktek Zen di Korea, meng-klaim memiliki pengalaman akan Yesus sebagai akibat dari pengosongan diri ala Zen.

Identitas keagamaan

Jika mempertimbangkan sebuah identitas saja begitu rumit, bagaimana kita mempertimbangkan identitas ganda? Pieris menunjukkan ada tiga jenis interaksi diantara agama-agama: sinkretisme, sintesis, dan simbiosis. Sinkretisme terjadi jika unsur-unsur sistem kepercayaan(agama) dijebloskan bersama dalam beberapa cara yang tidak sistematik, yang dicirikan dengan keinginan atau kenyamanan sesorang atau suatu kelompok. Gerakan New Age bisa dikatakan bersifat sinkretik. Orang-orang yang menganut paham ini adalah mereka yang sedang mencari sebuah identitas. Sedangkan sintesis adalah proses dimana dua sistem (agama) dibawa bersama, dipadukan menurut keasliannya dengan cara yang sistematik dan menghasilkan sebuah bentuk yang ketiga. Lalu, simbiosis adalah proses dimana kadang-kadang ada interaksi pada tingkat memori kolektif. Seseorang mendapatkan pengertian tentang sistem yang lain dari sistem yang diikutinya, beserta dengan istilahnya sendiri. Simbiosis memungkinkan kita mengarah menuju sebuah kolaborasi dalam karya liberatif bersama, yang berlandaskan tradisi agama masing-masing tetapi dalam dialog dengan yang lain. Tetapi, sinkretisme, sintesis, dan simbiosis masih belum berbicara tentang identitas keagamaan ganda. Sebagai contoh konkrit adalah pengalaman Swami Abhishiktananda: seorang biarawan Benediktin yang datang ke India untuk memberikan kesaksian dimensi kontemplatif Kristiani, dengan harapan menarik orang-orang Hindu. Bukunya yang pertama, Saccidananda, mulai dengan pengalaman advaitic atau kemanunggalan dari Ramana Maharshi dan mencoba untuk menunjukkan sampai pada pemenuhannya dalam pengalaman Trinitas Kristiani. Tetapi semenjak ia sendiri menjadi begitu mendalami pengalaman advaita, ia tidak bisa lagi melihat pengalaman advaita ini sebagai persiapan menuju pengalaman Trinitas. Ia tidak mampu lagi secara intelektual mengintegrasikan dan mungkin pada level praktek spititual. Kadang-kadang ia berpikir bahwa pengalaman advaitic ini melampaui nama dan bentuk, yaitu batasan-batasan agama, tanpa perlu menolaknya. Ketika muridnya diinisiasi ke dalam proses sannyasa, ia merayakannya sebagai penyatuan inisiasi yang ia berikan bersama dengan guru Hindu, Swami Chidananda, Kepala ashram di Rishikesh. Setelah serangan jantung beberapa bulan sebelum kematiannya, dimana sepertinya ia mengalami pengalaman advaitic ini, ia mendapatkan kedamaian batin. Hal ini mungkin karena ia telah sampai kepada realisasi bahwa baik Hindu maupun Kristiani menuntun kepada yang mutlak dan sama. Ia menegaskan bahwa pengalaman kemanunggalan itu melampaui nama dan bentuk. Tetapi hal ini tak mencegahnya untuk terus membaca Upanishad atau merayakan Ekaristi. Ia dapat berpindah dari bentuk pengalaman satu ke yang lain tanpa mengusahakan integrasi yang dibuat-buat. Hal ini justru berkebalikan dengan perspektif awalnya bagaimana ia menafsirkan Kristianitas dari sudut pandang advaitic. Pertanyaan yang bisa diajukan merujuk pengalaman Abhishiktananda bukan apakah komunitas atau institusi Kristiani dan Hindu menganggap bahwa ia berperanserta, tetapi lebih kepada identitas apakah yang ia sendiri alami pada saat itu. Paradigma-paradigma yang muncul saat ini berpangkal dari pandangan agama sebagai pembawa keselamatan adalah eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme. Paradigma-paradigma ini tidak mencukupi karena menyamakan agama dengan jalan menuju keselamatan dan memunculkan berbagai kemungkinan logika yang bermacam-macam dalam sebuah situasi dimana banyak agama hidup bersama-sama. Hal ini adalah rasionalisasi dan bukan teologi. Banyak teolog Asia menolak menggunakan pemikiran ini. Kita tidak membutuhkan teologi agama-agama, tetapi membutuhkan Allah yang menyelamatkan jauh menjangkau manusia dengan berbagai cara. Maka yang menyelamatkan adalah Tuhan, bukan agama. Tuhan dapat menyelamatkan manusia dengan atau tanpa agama. Tuhan adalah agen utama penyelamatan dengan atau tanpa struktur simbolik agama.

Sebuah Teologi Perjumpaan Yang Ilahi dan Manusia

Tuhan yang menyelamatkan menjangkau seluruh umat manusia (GS No. 22). Dalam AG No. 28 menerima bahwa Roh Allah hadir dan aktif dalam semua budaya dan agama. Hal ini mengimplikasikan bahwa “jalan-jalan” menuju Tuhan meski itu tidak diketahui secara nyata berhubungan dengan berbagai budaya dan agama. Dimana Tuhan hadir dan berelasi dengan manusia, Tuhan hadir dan berkarya menyelamatkan. Tuhan itu absolut. Tetapi penyataan Tuhan sendiri dan respon manusia dikondisikan oleh keterbatasan manusia, sejarah dan budaya. Peran pluralisme amat mendukung pada tahap ini dan bukan relativisme dalam arti bahwa manusia menciptakan sendiri kebenarannya, terkondisi oleh keterbatasan keadaan, dalam relasi dengan sesuatu yang absolut dan tak diketahui. Dalam menjangkau manusia, Tuhan bebas untuk menyatakan dan mengkomunikasikan diri-Nya dalam cara yang ia kehendaki. Kebebasan yang Ilahi bertemu dengan kebebasan manusia secara kreatif. Interaksi ini telah hidup di dunia, dalam individu dan komunitas, sebelum menjadi secara simbolik dirayakan dalam ritual keagamaan. Tuhan dengan indahnya menyesuaikan cara-Nya dengan kondisi dan kerinduan manusia mencari pengalaman akan Tuhan.

Dari sisi lain: manusia

Sisi yang lain dari perjumpaan adalah manusia. Tuhan mungkin memanggil manusia dengan berbagai cara. Tetapi ‘aku’ telah berjumpa dan berjanji dengan ‘cara’ Tuhan memanggil. Inilah panggilan personal: pilihan yang diambil bukan olehku tetapi oleh Tuhan. Dalam hal inilah Tuhan itu absolut dan kepada-Nyalah ‘aku’ mencari. Dunia bukanlah supermarket agama dimana aku bisa mengambil yang aku suka. Tetapi meski demikian, hal ini tidak mencegah ‘aku’ menjadi terbuka terhadap ‘cara’ Tuhan telah memanggil yang lain dan belajar dari mereka. Aku belajar dengan mendengarkan bagaimana mereka berbicara tentang pengalaman mereka akan Tuhan.

Perspektif Kristiani

Bagi umat Kristiani, Tuhan itu Tritunggal. Tuhan, sabda, dan roh selalu hadir dan aktif dalam sejarah. Tuhan berinkarnasi dalam Kristus pada hari akhir, yang merupakan tahap eskatologis untuk menyatakan rencana Tuhan dalam sejarah. Tetapi juga Tuhan aktif terus menerus bagi sebagian besar manusia melalui partisipasi mediasi yang lain. Dalam istilah eklesiologi, ada penerimaan yang luas saat ini bahwa pemerintahan Tuhan lebih luas daripada gereja. Dimanapun Tuhan hadir dan aktif, disanalah pemerintahan Tuhan ada. Tidak hanya bagi gereja, tetapi bagi agama-agama yang lain pun termasuk dalam pemerintahan Tuhan ini. Berangkat dari cara pandang ini, Tuhan memanggil sebagian manusia berada pada perbatasan diantara komunitas keagamaan yang berbeda. ‘Aku’ sungguh-sungguh Kristiani, tetapi situasi dan pengalamanku mungkin menuntunku menjadi sadar bahwa, ketika ‘cara’ atau ‘jalan’ku telah memadai dan menolong aku berjumpa dengan Tuhan, hal ini juga secara manusiawi, budaya, dan sejarah-“ku” itu terbatas. Aku mungkin bukan terpanggil untuk meninggalkan ‘jalan’ku, tetapi untuk mengkaji juga jalan lain dimana perjumpaan Yang Ilahi dan manusia pun terjadi. Inilah orang-orang liminal, berada pada perbatasan tetapi menunjukkan jalan ke arah kebersamaan dalam kehadiran Tuhan. Pengkajian ini mungkin menjadi sarana orang dari berbagai tradisi agama untuk hidup dan bekerja sama sambil tetap teguh pada tradisi agama masing-masing. Maka, identitas keagamaan ganda itu mungkin.

Identitas keagamaan ganda dalam praktek

Di India terjadi praktek diantara pemeluk agama yang berbeda seperti: membaca Kitab Suci agama lain, menggunakan metode berdoa agama lain, dan mengadakan doa dan ibadat bersama. Pada tahun 1974, seminar para teolog India mengangkat pertimbangan Kitab Suci agama lain sebagai sumber inspirasi. Diskusi mendukung, akan tetapi prakteknya secara liturgis resmi tidak diizinkan. Bagi yang non-Kristiani hal ini tetap dijalankan di pusat-pusat doa dan ashram mereka. Juga sampai saat ini banyak orang Kristiani di India menjadi praktisi meditasi Budha atau Hindu seperti Yoga, Vipasana, dan Zen. Pada level institusi, ‘aku’ tidak bisa ikut serta dalam dua institusi agama sekaligus. Pada level penafsiran, aku bebas menafsirkan setidaknya beberapa simbol umum seperti kata “Om”. Pada level memori kolektif, dengan hadir sejenak di komunitas lain, itu hal yang memungkinkan. Pada level personal, Tuhan itu terbuka kepada simbol dan jalan apapun yang aku gunakan untuk mencapai-Nya, meskipun aku lebih memilih menggunakan cara-cara yang mana Tuhan telah memanggil aku secara personal.

Kesimpulan Amaladoss

Yang Absolut yang sepertinya jauh dapat menyatakan diri-Nya kepada kita dengan berbagai cara, yang semuanya mengarahkan kepada Satu yang Absolut. Tetapi cara atau jalan menuju yang Absolut itu tidak dapat dimutlakkan. Penegasan-penegasan berkenaan dengan yang Absolut mungkin benar tetapi terbatas. Jika kita memiliki pandangan pluralis dalam kesatuan, identitas keagamaan ganda ini akan menjadi panggilan yang menunggu dan sebuah kesempatan untuk mengalami kekayaan Tuhan.