Teolog Jesuit : Roberto Bellarmino, SJ

Siapakah Roberto Bellarmino?

Octariano Windiantoro, SJ
bellarminoRoberto Francesco Romulo Bellarmino lahir pada tanggal 4 Oktober 1542 di Montepulciano, kota perbukitan kuno di wilayah Tuscany, Italia. Dia adalah anak ketiga dari 12 bersaudara, anak dari Vincenzo dan Cinthia Bellarmino. Ayahnya berasal dari keluarga bangsawan. Sementara itu, dia sendiri adalah keponakan dari Paus Marcellus II (1555), dari garis keturunan ibunya. Semasa studi, Bellarmino termasuk anak yang cerdas, terutama dalam menulis Latin dan puisi Italia. Ayahnya menginginkan dia melanjutkan karir sebagai dokter dan berusaha menghalangi keinginan Bellarmino untuk menjadi Jesuit. Namun kemudian, hati ayahnya luluh dan memperbolehkan Bellarmino masuk Jesuit. Hanya saja—sekaligus sebuah pengecualian—Bellarmino menjalankan novisiatnya di rumahnya sendiri, dan itu terjadi juga setelah memperoleh izin dari Jenderal Diego Laynez. Setelah menjalani novisiat di rumah, di pergi ke Roma dan memulai belajar filsafat. Tiga tahun kemudian dia ditugaskan untuk mengajar di Firenze dan tahun berikutnya di Mondovi, Piemonte. Meskipun belum ditahbiskan, ia sering berkhotbah di katedral kota itu.

Pada tahun 1567, ia pergi ke universitas Padua untuk belajar teologi. Kemudian pada Mei 1569, dia pindah ke universitas Louvain Belgia. Tanggal 25 Maret 1570, Bellarmino ditahbiskan, dan pada tahun yang sama, ketika serikat membuka teologat sendiri di Louvain, ia ditunjuk sebagai professor teologi yang pertama. Pater Bellarmino menghabiskan waktu 7 tahun di universitas itu dan menjadi akrab dengan tulisan-tulisan para tokoh reformasi, khususnya tulisan Luther dan Calvin. Ia memberikan kursus-kursus teologi dengan maksud untuk menjawab keberatan-keberatan kaum reformator terhadap Gereja Roma.

Pada tahun 1576, Belarmino dipanggil ke Roma untuk mengajar “controversial theology” di Collegium Romanum. Teologi ini berurusan dengan perdebatan-perdebatan teologis yang ketika itu memecah-belah gereja Kristen, ditambah dengan penjelasan terperinci tentang pendirian Gereja Katolik Roma. Tak lama kemudian Paus mengangkatnya sebagai anggota panitia kepausan untuk memperbaiki Vulgata. Salah satu hasil karyanya yang terpenting adalah Controversiones yang diterbitkan dalam 3 jilid. Pada tahun 1592, ia ditunjuk sebagai rektor Collegium Romanum dan kemudian pada tahun 1594, ia ditunjuk menjadi provinsial di provinsi Napoli. Bellarmino sangat berperan besar dalam penyusunan Ratio Studiorum.

Pada tahun 1597, Bellarmino dipanggil ke Roma untuk mengambil-alih tugas dari almarhum Kardinal Jesuit, Franciscus Toledo, yakni sebagai penasehat teologis kepausan. Tahun 1598, ia menerbitkan katekismusnya yang terkenal (Doctrina Cristiana Breve), dan telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa dan masih dipakai sampai abad ke-19. Tanggal 3 Maret 1599, Bellarmino diangkat menjadi Kardinal. Meskipun sebagai kardinal dia diperlakukan sangat istimewa, dia tetap memilih hidup yang sederhana. Jika keuangan bulan itu menunjukkan kelebihan, ia membagi-bagikannya di antara orang miskin di kota Roma. Paus mempercayakan banyak tugas padanya, di antaranya memperbarui Martyrologium Romanum dan bacaan-bacaan brevir. Dia juga terlibat dalam peradilan Galileo Galilei. Pada tahun 1602, Paus mengangkatnya sebagai Uskup Agung Capua.

Pada saat Paus Clemens meninggal, ia ikut serta dalam konklaf (1605) yang memilih Leo XI. Tetapi Paus Leo hanya hidup selama 1 bulan, dan pada konklaf berikutnya Kardinal Bellarmino termasuk salah satu calon kuat Paus berikutnya. Tetapi, dia setiap hari selalu berdoa, “Dari jabatan kepausan, bebaskanlah aku, ya Tuhan!” Akhirnya, dia memang tidak terpilih sebagai paus. Paus Paulus V sebagai paus terpilih meminta Bellarmino tetap tinggal di Roma dan diangkat untuk mengepalai beberapa kongregasi penting, yakni Kongregasi Ajaran Iman, Kongregasi Ibadat dan sakramen, Kongregasi Pewartaan Iman dan Kongregasi para Uskup.

Meskipun telah menjadi kardinal, dia tetap mengadakan retret tahunan 8 hari. Bahkan pada tahun 1614-1620, retret tahunannya diperpanjang menjadi 30 hari. Selama minggu-minggu penuh doa, dia menulis buku rohani, salah satunya adalah The mind’s Ascent to God (De Ascensione mentis in Deum). Memasuki umur 77 tahun, karena kondisi kesehatannya yang menurun, dia meminta kepada paus untuk mundur dari jabatannya. Tetapi, paus menolaknya, karena Gereja masih membutuhkannya. Baru pada pemerintahan Paus Gregorius XV, ketika pendengarannya mulai hilang, Bellarmino diizinkan pensiun dan tinggal di novisiat San Andrea di Roma. Pada tanggal 17 september 1621, ia meninggal setelah sebulan sebelumnya diserang sakit deman yang berat. Kardinal Bellarmino dinyatakan beato oleh Paus Pius XI tanggal 13 Mei 1923, dan dinyatakan Santo oleh paus yang sama pada tanggal 29 Juni 1930. Tahun 1931, dia dinyatakan sebagai Pujangga Gereja dan diangkat sebagai santo pelindung para katekis.

Karya-karyanya

  1. Controversial works. “Disputationes de Controversiis Christianae Fidei adversus hujus temporis hereticos” (1586-89), “Triadelphi” (1608), “De Exemptione clericorum” dan “De Indulgentiis et Jubilaeo” (1599) yang kemudian disatukan dalam “De Controversiis”; “De Transitu Romani Imperii a Graecis ad Francos” (1584); “Responsio ad praecipua capita Apologiae … pro successione Henrici Navarreni” (1586); “Judicium de Libro quem Lutherani vocant Concordiae” (1585); 4 buah Risposte kepada John Marsiglio and Paolo Sarpi (1606); “Responsio Matthaei Torti ad librum inscriptum Triplici nodo triplex cuneus” (1608); “Apologia Bellarmini pro responsi one sub ad librum Jacobi Magnae Britanniae Regis” (1609); Tractatus de potestate Summi Pontificis in rebus temporalibus, adversus Gulielmum Barclay” (1610).
  2. Catechetical and Spiritual Works. “Dottrina Cristiana breve” dan “Dichiarazione più copiosa della dottrina cristiana” (1598), “Dichiarazione del Simbolo” (1604), untuk para imam; “Admonitio ad Episcopum Theanensem nepotem suum quae sint necessaria episcopo” (1612); “Exhortationes domesticae” (1599) “Conciones habitae Lovanii” (1615); “De Ascensione mentis in Deum” (1615); “De Aeterna felicitate sanctorum” (1616); “De gemitu columbae” (1617); “De septem verbis Christi” (1618); “De arte bene moriendi” (1620). Lima traktat spiritual yang disebut terakhir dibuat sewaktu menjalani retret tahunan.
  3. Exegetical and other works. “De Scriptoribus ecclesiasticis” (1615); “De Editione Latinae Vulgatae, quo sensu a Concilio Tridentino definitum sit ut ea pro authenticae habeatur” (1749); “In omnes Psalmos dilucida expositio” (1611). “Opera omnia” (1617).

Latar Penulisan The Mind’s Ascent

The Mind’s Ascent to God by The Ladder of Created Things adalah sebuah traktat spiritualitas yang ditulis Bellarmino sewaktu menjalani retret tahunan (di mana dia memilih retret sebulan penuh) pada tahun 1615. Pada waktu itu, Bellarmino sudah berumur 70-an. Sementara permintaannya pensiun ditangguhkan oleh paus, dia menggunakan retret tahunan untuk secara khusus menggali pengalaman spiritual dalam keheningan. Dalam masa tuanya ini, dia menulis 5 traktat spiritualitas, termasuk The Mind’s Ascent ini. Di bagian prakata tulisan ini, Bellarmino mendedikasikan tulisan ini kepada sahabatnya Pietro Aldobrandini, seorang kardinal yang ikut membantu ‘menggagalkan’ penunjukan dirinya sebagai Paus dalam konklaf di tahun 1605.

Sebenarnya, pada awalnya buku ini sendiri hanyalah tulisan yang dibuat untuk kepentingan pribadi saja. “I wrote the book for my own use.” Tetapi berhubung anjuran dari teman-temannya, tulisan ini dipublikasikan. Selain itu, penyebutan nama Aldobrandini juga menekankan kepada siapa sebenarnya tulisan ini ditujukan. “it will be mainly usefull for men engaged in public affairs, especially the Princess of the Church.” Bagi Bellarmino, Aldobrandini adalah yang pertama atau yang utama, karena dia adalah orang terpenting dari sekian banyak orang yang ditujukannya. Aldobrandini pada waktu itu adalah seorang kardinal, keponakan Paus Clement VIII (1592-1605), uskup agung Ravenna, Camerlengo, anggota Inkwisisi universal dan menjadi kardinal pelindung bagi beberapa organisasi penting.

Kebanyakan orang berpendapat bahwa tulisan-tulisan karya Bellarmino selalu identik dengan gerakan kontra-reformasi. Tetapi berbeda dengan The Mind’s Ascent dan karya spiritualitas lainnya. Kelompok tulisan yang terakhir termasuk ke dalam gerakan Reformasi Katolik. Lepas dari itu, Bellarmino memang menyadari bahwa pendalaman iman Katolik jauh lebih penting daripada tindakan represif terhadap protestantisme, seperti yang dilakukan oleh inkwisisi. Edisi pertama The Mind’s Ascent terbit pada tahun 1615. Sampai waktu kanonisasinya di tahun 1930, karyanya ini sudah dicetak sampai pada edisi ke-60, dan sudah diterjemahkan ke dalam 15 bahasa. Patut diingat, dalam sejarah kekristenan, masa di mana Bellarmino hidup adalah masa keemasan bagi mistisisme katolik. Karya mistik lainnya yang bisa disebut adalah The Introduction to the devout life oleh St. Francis de Sales dan The Practice of Perfection and the Christian Virtues oleh Alfonso Rodriguez.

The Mind’s Ascent to God by the Ladder of Created Things

Pola pikir bahwa letak Tuhan adalah di atas manusia sudah berakar jauh sebelum yudaisme dan kekristenan muncul. Tangga/langkah-langkah (ladder) menuju Tuhan sudah dihayati oleh orang-orang Mesir. Bahkan, orang Babilonia mempresentasikannya dalam bentuk bangunan ziggurats. Konfusianisme dan Taoisme juga berbicara tentang tahap-tahap perkembangan menuju kesempurnaan. Dalam Perjanjian Lama, kata sullam (ladder dalam Bahasa Ibrani), hanya disebut sekali, yakni dalam Kejadian 28:12, ketika Yakob bermimpi “di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.” Tetapi, di dalam Yeh 40:26, istilah ladder disebut dengan istilah lain, steps. Dan, banyak istilah lain dengan maksud yang sama, tanpa membedakan apakah yang dimaksud itu ‘tangga’ atau ‘langkah’. Pokoknya, penekanan pada perihal ‘Allah di atas dan manusia di bawah’. Dalam sejarah kekristenan, ada lebih dari seratus pengarang Kristen, entah dalam bentuk traktat, buku, ataupun puisi, yang secara ekplisit menggunakan istilah tersebut. Misalnya, The Ladder of Divine Ascent oleh St. Yohanes Klimakus dan The Mind’s journey to God oleh St. Bonaventura. Dalam pengantar di awal bukunya, Bellarmino mengatakan bahwa tulisan St. Bonaventuralah yang menjadi model penulisan bukunya. Agak sedikit berbeda, Bellarmino menggunakan istilah ‘ascent’ daripada istilah ‘journey’. Selain itu, penggunaan kata ‘mind’ sedikit menjadi masalah, karena kata ini jarang sekali dipakai di dalam tulisan Bellarmino ini. Dia lebih sering menggunakan kata ‘soul’ (anima), di mana kata ini lebih kaya dan lebih berciri kristen. Alasan dia menggunakan kata ‘mind’ hanyalah sebagai bentuk penghormatan saja kepada Bonaventura yang juga menggunakan kata yang sama. Menurut Bellarmino, dalam bukunya ini, ada 15 langkah menuju Allah. Setiap langkah mempunyai 4 sampai 10 babak. Di dalam pengantar disebutkan alasan mengapa Bellarmino menggunakan angka 15. Itu didasarkan pada pola 15 anak tangga menuju Bait Allah (bdk. Yeh 40:26,31) dan 15 Mazmur favoritnya (Mzm 120-134) yang disebutnya sebagai Gradual Psalms.

Di antara penulis-penulis buku mengenai langkah-langkah menuju Tuhan, berapa jumlah langkah atau tahap sangat bervariasi, dari 3 langkah sampai bahkan 190 langkah. 12 adalah angka yang paling favorit. St. Yohanes Klimakus, 30. St. Bernardus, 12. St. Bonaventura, 7. Yang sama dengan Bellarmino adalah St. Hilarry dari Poitiers dan St. Bruno. Langkah pertama, didasarkan pada konteks mikrokosmos, yakni antara manusia dan dirinya. Tidak ada yang lebih dekat pada manusia, selain dirinya sendiri. Bellarmino menjelaskan manusia dengan 4 sebab Aristotelian. Penyebab efisien adalah Allah sendiri. Peyebab material adalah ketiadaan. Penyebab formal adalah Wajah Tuhan dan penyebab final adalah penyelamatan manusia. Langkah kedua, didasarkan pada konteks makrokosmos. Kebesaran, keberagaman, kekuatan dan keindahan ciptaan menunjukkan kebesaran, kesempurnaan, kebaikan dan keindahan dari Allah sang pencipta. Langkah ketiga sampai keenam terkait satu sama lain. Bellarmino mendasarkannya pada kosmologi kuno, terutama Empedokles, yakni membagi dunia dalam 4 dasar elemen: bumi, air, udara dan api. Bellarmino menggunakan keempat elemen ini sebagai refleksi atas Tuhan sendiri. Sebagaimana Bumi menyediakan makanan dan tempat yang aman bagi manusia, Tuhan sendirilah yang memberikan istirahat dan tempat yang aman bagi jiwa manusia. Sebagaimana Air membersihkan manusia, Tuhan Allah sendirilah yang menyucikan dan mengampuni jiwa manusia dari dosa. Sebagaimana Udara memberikan kehidupan dan menjadi perantara untuk berbicara dan mendengar, begitulah Allah juga berbuat. Udara adalah gambaran keindahan dan kebaikan Allah sendiri. Sedangkan Api adalah gambaran Allah yang mem-purifikasi dosa manusia dan mengasah hati manusia, seperti halnya api digunakan untuk meleburkan besi dan membuatnya menjadi pedang yang tajam. Langkah ketujuh, Bellarmino menunjuk pada Matahari, bulan dan bintang-bintang. Ini didasarkan pada meditasi yang dibuatnya atas seruan Daud (Mzm 19, 1) “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Dari langkah pertama hingga langkah ketujuh kita bisa mengkategorikan langkah itu ke hal-hal yang bersifat material. Di atas hal-hal yang material adalah hal-hal yang spiritual. Bellarmino menyebut dua, yakni jiwa rasional (rational soul) dan malaikat. Keduanya menempati langkah kedelapan dan kesembilan. Langkah ke-10 hingga ke-15 meninggalkan realitas tercipta (baik material maupun spiritual) dan menimbang-nimbang diri Allah sendiri. Bellarmino menyusun keenam langkah terakhir berdasarkan Efesus 3:18, ”Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.” Ayat ini adalah salah satu ayat favorit yang sering-sering disebut oleh bapa-bapa gereja sejak St. Ireneus. Keempat dimensi Allah itu digunakan untuk menjelaskan esensi Allah (langkah ke-10), kekuatan Allah (langkah ke-11), kebijakan Allah (langkah ke-12), Kebijaksanaan Praktis Allah (langkah ke-13), belaskasihan Allah (langkah ke-14) dan keadilan Allah (langkah ke-15). Dari kelimabelas langkah-langkah tersebut, sedikitnya kita bisa menyimpulkan bahwa tulisan Bellarmino dalam buku ini begitu holistik, dalam arti mencangkup pandangan filosofis dan teologis dari Aristoteles hingga Aquinas dengan menggunakan gaya bahasa skolastik abad pertengahan, dan lebih banyak menggunakan gaya retorika Renaisans dan teologi humanis. Otoritas teologisnya merentang dari kitab suci hingga zaman patristik. Itu dibuat, tidak lain dan tidak bukan, demi membagikan mistisisme kristen di kalangan gerakan Reformasi Katolik yang semakin meluas.

Langkah ke-14 dan ke-15

Di bagian terakhir ini kita akan membahas teks yang sudah dibagikan, sekaligus sebagai cara untuk mengenal lebih dekat tulisan Bellarmino mengenai langkah/tahap menuju Allah ini. Di dalam langkah ke-14, orang kristen diajak untuk menimbang-nimbang kemurahan hati Allah. Dalam langkah ini dipaparkan 4 dimensi. Dimensi pertama, Tuhan menanggung penderitaan kita dengan kebesaran hati-Nya. Kebesaran kasih Allah menunjukkan bahwa hanya Tuhan sendirilah yang mampu menghilangkan segala penderitaan. Makanan (roti) memang bisa menghilangkan lapar, air menghilangkan haus, pengetahuan menghapus kebodohan, tetapi tidak ada mahluk satupun yang mampu menanggung semua penderitaan itu. Hanya Tuhan sendirilah yang bisa menanggungnya. Itu dibuat-Nya tidak untuk kepentingan-Nya sendiri. Segala penderitaan itu manusialah yang membuatnya, dan itu semua terjadi karena dosa-dosa yang dibuat manusia. Tapi Allah menanggungnya dan di situlah tampak kemurahan hati-Nya. “Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah (2 Kor 1:5).” Dimensi kedua, Panjangnya kasih Tuhan tampak dalam penderitaan dan kesabaran-Nya. Allah bersabar kepada semua manusia. Buktinya, meskipun di waktu muda hingga akhirnya tua, manusia sering berbuat dosa, Tuhan tetap menunjukkan kasih-Nya. Bahkan ketika manusia terjatuh lagi ke dalam dosa, manusia tidak ditinggalkan begitu saja. Allah menarik dan mengangkat manusia dari status anak-anak kegelapan menjadi anak-anak Allah. Kesabaran Allah tampak dari pengampunan-Nya kepada manusia. Tidak ada pertobatan yang terlambat bagi Allah Bapa yang penuh belaskasih (Mzm 51:17). Dimensi ketiga, Tingginya kasih Tuhan tampak di dalam penyebab yang menggerakkan kasih Tuhan sendiri. Tuhan memiliki belaskasihan kepada manusia karena mereka adalah mahluk-Nya dan mereka adalah gambar wajah-Nya, terlebih juga karena mereka adalah anak-anak-Nya, ahli waris kerajaan-Nya. Mungkin kita bertanya: mengapa Allah menciptakan dunia, mengapa Allah menjadikan manusia menurut gambar-Nya. Jawabannya: Karena DIA MAU. Hanya karena Dia adalah baik. Dimensi keempat, Kedalaman kasih Tuhan tampak dalam akibat yang dibuat-Nya. Sejak dalam Perjanjian Lama Allah telah menunjukkan belaskasihan-Nya. Kedalaman kasih-Nya semakin memuncak dalam misteri inkarnasi, di mana Allah menjadi manusia, sama seperti manusia, ikut menderita dan dihina, bahkan wafat di salib. Itu semua dibuat-Nya hanya untuk mengangkat manusia kembali ke martabatnya (Fil 2:8). Oleh karena itulah, manusia diajak untuk berbelaskasihan pula terhadap sesamanya. “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (1 Yoh 3:18).” Langkah ke-15, orang kristen diajak menimbang keadilan Allah dengan membandingkannya dengan keagungan Diri-Nya. Dimensi pertama, Besarnya keadilan Tuhan tampak dalam Keadilan yang bersifat universal. Keadilan Tuhan tiada batasnya, mencakup semua kebajikan dan identik dengan kesucian serta kebenaran. Seperti disebutkan dalam Mzm 145:17, “Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.” Sementara manusia, berbuat adil sebatas menjalankan hukum tertentu, “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat (Rom13:8).” Dimensi kedua, Panjangnya keadilan Tuhan tampak dalam Kesungguhan dan kesetiaan-Nya. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu (Mat 24:35).” “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya (Yes 40:8).” Oleh karena itu, manusia diajak untuk berjalan bersama Tuhan. Sebab, dengan begitu Tuhan akan merawat manusia. Perlindungan manusia terjadi karena berkat rahmat-Nya. Dan karenanya, manusia tidak akan takut pada sesuatupun yang dibuat oleh manusia maupun setan. Dimensi ketiga, Tingginya keadilan Tuhan tampak dalam pemberian Surgawi. Allah berbeda dengan manusia. Raja atau pemerintah memberikan hadiah kepada rakyat sesuai dengan kemampuannya. Sementara Tuhan memberikan kepada semua secara adil, bukan hanya sekadar imbalan dan balas jasa semata, tetapi karena Tuhan adalah adil! Pemberian surgawi adalah bentuk pemahkotaan terhadap kemenangan atas musuh jiwa, yakni setan. “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya (Why 3:21).” Dimensi keempat, Dalamnya keadilan Tuhan ada pada hukuman abadi bagi pendosa. Allah Mahakuasa. Dia ada di mana-mana, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa menyembunyikan diri dari diri-Nya. “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau (Mzm 139:7-8).” Tuhan mengetahui dosa yang dibuat manusia. Oleh karena itu Tuhan akan mengganjar manusia karena perbuatan dosanya. Terakhir, dimensi kelima, menjelaskan mengapa hukuman terkutuk itu bersifat abadi. Mungkin ada orang yang bertanya mengapa Tuhan yang berbelaskasih menetapkan hukuman berat dan abadi bagi dosa-dosa manusia. Hendaknya ia mendengarkan apa yang dikatakan St. Agustinus dalam The City of God, “Anyone who thinks that such damnation is excessive or unjust clearly does not know how to measure how great was the wickedness in sinning where it was so easy not to sin.” Oleh karena itu, Bellarmino mengajak orang kristen untuk bersikap benar terhadap Allah yang adil. Tidak seperti yang digambarkan dalam Tit 1:16, “Mereka mengaku mengenal Allah, tetapi dengan perbuatan mereka, mereka menyangkal Dia. Mereka keji dan durhaka dan tidak sanggup berbuat sesuatu yang baik.”

Pengaruh LR dan perihal Martabat Manusia

Dari sepenggal teks yang kita bahas di atas, mungkin kita bertanya-tanya, di mana pengaruh latihan rohani dalam tulisan ini. Apalagi The Mind’s Ascent ini ditulis Bellarmino sewaktu menjalani retret tahunannya. Jawabannya: pengaruh LR memang lebih banyak tersirat daripada tersurat. “the influence is more often subtle than obvious.” Misalnya, perihal Asas dan Dasar, menggunakan ciptaan “untuk memuji, menghormati, serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya.” Dalam langkah pertama hingga langkah ke-7, kita bisa menyadari pengaruh asas dan dasar di dalamnya. Di samping itu, bagian lain dari LR yang cukup kelihatan dalam tulisan ini adalah Kontemplasi untuk mendapatkan cinta. Bellarmino merefleksikan bagaimana Allah tinggal dalam ciptaan, bagaimana Dia bekerja dan berkarya di antara ciptaan dan bagaimana segala berkat dan kebaikan Tuhan hadir dalam kebesaran-Nya (kekuatan, kebijaksanaan, belaskasihan dan keadilan Tuhan). Refleksi tentang Allah ini kentara dalam 6 langkah terakhir (10-15). Dikaitkan dengan tulisan-tulisan Bellarmino lainnya, entah itu yang berciri teologis (controversial theologies, eksegesis dan ketekismus) dan yang berciri spiritual, ada satu benang merah yang bisa menyatukan kesemuanya. Tulisan-tulisan Bellarmino sangat mengedepankan martabat manusia. Oleh karena itu, teologi Bellarmino menandaskan ciri antropologi teologi. Ini bisa dilihat secara jelas, misalnya dalam De Controversiis, semacam tulisan apologetik guna melawan gerakan kontra-reformasi Luther dan Calvin. Khusus dalam The Mind’s Ascent, kita bisa melihat ‘gerak Allah’ yang terlibat dalam kehidupan manusia. Manusia sungguh dibedakan dari ciptaan lain. Manusia tidak hanya ciptaan yang paling mulia dan citra Allah sendiri, tetapi juga ciptaan yang diangkat menjadi anak-anak-Nya.