Catatan Mengenai Teks: Pengalaman dari/oleh Siapa?

Oleh W. Peters, teks LR 23 itu diulas dengan saksama. Pantas kita perhatikan: Kalimat pertama dan kedua berbicara mengenai manusia, kalimat ketiga dari LR 23 mengenai kita. Kalimat pertama membentangkan suatu visi dan suatu peristwa, kalimat kedua menunjuk laku manusia. Manusia ditempatkan dalam “happening” yang disebut ciptaan, yang mengkiblatkan manusia pada Allah dan Tuhan, sementara seluruh kekayaan yang ada dipandang dan ditempatkan “mengingat manusia” dan “supaya membantu dia untuk mengejar tujuan ia diciptakan”: begitu kalimat pertama. Dengan kalimat kedua, visi beralih pada praksis: orang “semestinya mempergunakan mereka, sejauh membantu menata tujuannya” dan “tidak memerhatikan mereka” bila mereka merintangi. Dalam Asas dan Dasar, pokok perhatian bukan pada pernyataan satu demi satu melainkan pada peralihan dari visi ke praksis – apalagi dalam peralihan subyek “manusia” pada “kita”, yakni aku sendiri, sebagai orang ini yang sedang menjalani Latihan Rohani. Praksis hidupku yang khas ini dengan membuat diri kita “indiferents” dalam sikap keseimbangan, serta dengan menginginkan dan memilih yang demi tujuan. Asas dan Dasar mengenai peralihan dari praksis manusia pada pilihan khas, unik dan pribadi kita. Diinginkan dan melulu dipilih yang “lebih membawa kita pada tujuan kita diciptakan”; suatu pilihan yang pribadi dan eksklusif – sejauh menyangkut kita masing-masing. Diincar bukan yang makin tinggi atau makin sempurna atau makin sulit, melainkan yang tepat (sejauh menyangkut kebebasan kita dan tidak melanggar moral), yakni yang membawa lebih-lebih aku, secara khas dan individual, pada tujuan kita diciptakan.

“Memuji, memberi hormat dan mengabdi Allah, Tuhan kita” serta “menyelamatkan jiwanya” dipilih oleh Ignatius dengan saksama. Kiranya kata “Allah, Tuhan kita…” dipakai setiap kali dalam perspektif manusia yang menghadapi Allah untuk memberikan pengabdian kepadaNya; sementara kata “Keagungan yang ilahi…” ataupun “Kebaikan yang Ilahi…” dipakai dalam perspektif Allah yang dalam kehendakNya dan kerahimanNya memakai (disponir) diri orang dalam karyaNya. Peters ingin menjelaskan: Kata-kata itu dipakai dalam peralihan dari visi pada praksis (pujian-reverentia-pengabdian); sementara kata “kemuliaan” dipakai dalam konteks pemberian diri Allah, dalam kesempurnaan dan cinta yang mengalir dari atas. Maka tidak mengherankan: dalam LR 23 tidak terdapat kata “cinta”. Sebab teks itu tidak bermaksud menyajikan suatu pedoman umum hidup orang kristiani, bagaikan rumus kembai perintah utama. Adalah asas dan awal bahwa diangkat pengalaman orang beriman dalam konstelasi Allah dan dunia demi pengabdian dan keselmatan. Adalah pengalaman bahwa kita tersangkut dan terlibat sedemikian sehingga ambil peran dan adalah kerelaanku dan hasratku bahwa lebih-lebih aku memainkan peranku yang khas dan khusus. Kehendak Allah ketemu dengan tekad manusia – dan dengan begitu semoga ad obtinendam amorem.