Kontemplasi Misteri-Misteri Hidup Kristus

Mengenal – Mengabdi – Mencintai – Mengikuti – Menyerupai “terarah pada electio”, maksudnya dengan beridentifikasi dengan Kristus dan ditransformasi hidup dalam laku-kontemplasi itu aku dengan desire-ku mendisponir diri sedemikian sehingga desireku terpadu dengan desire ilahi dan hidupku menjadi tertata dalam disposisi ilahi. Di kontemplasi misteri hidup Kristus, yakni peristiwa-peristiwa sejarah keselamatan Allah, dalam hidup retretan dengan segala kaitan dan hubungannya, sejarah Allah dengan manusia hendaknya berlangsung lebih lanjut (sampai pada tujuan manusia dan segalanya diciptakan). Menonton drama di atas panggung – supaya berlangsung dalam medan publik, dengan caraNya sendiri

1. Dari LR 161, Ignatius mengusulkan 14 peristiwa dari inkarnasi sampai Minggu Palem untuk kontemplasi, dengan mengacu pada misteri-misteri hidup Kristus Tuhan kita (LR 261-287). Sementara misteri-misteri itu mengacu pada perikop-perikop dalam keempat injil, agak acak. Mengapa Ignatius memilih 14 atau 26 peristiwa itu? Mengapa dengan “comot sana comot sini” dan bukan dengan mengikuti Injil Markus (seperti William Barry)? Kiranya Ignatius mengenal misteri-misteri hidup Kristus dari buku Hidup Kristus oleh Ludolf dari Sachsen dan dari Riwayat pada Kudus dari Jacques de Voragine. Pengetahuannya, pengertiannya, dan pengalamannya ditulis dalam buku tulis tiga ratus halaman. Kata-kata yang diucapkan Kristus pakai tinta merah dan kata-kata Maria dengan tinta biru. Mungkin agak kebetulan bahwa Ignatius tidak biasa pegang kitab suci. Ignatius memang mengenal misteri-misteri hidup Kristus Tuhan kita dari tradisi gereja se-zaman. Demikian juga retretan di abad 21. Kristus menemui muridNya sekarang ini lewat murid-murid yang beriman kini dan yang menjadi saksi. Oleh mereka, kita juga menerima lembaran-lembaran Perjanjian Baru terjemahan LAI (yang juga bukan tulisan Yesus sendiri melainkan buku gereja, ditulis oleh para saksi awal). Retretan memang tidak mengkontemplasikan Kitab Suci melainkan peristiwa-peristiwa perjumpaan sejarah keselamatan dalam Kristus, sebagaimana dari saat ke saat menjadi hidup dalam gereja. Sejarah itu kini – oleh pembimbing – hendaknya “dengan setia diceritakan” bagaikan “historia kontemplasi atau meditasi” dan semoga – oleh retretan – diteruskan dengan mengikuti Kristus ke dalam masa depan kita.

2. Dalam kebanyakan pembahasan, kontemplasi pertama tentang inkarnasi (LR 101) dan kontemplasi kedua tentang kelahiran diterangkan lebih awal sebagai awal dari kontemplasi Minggu Kedua dan kurang diperhatikan sebagai contoh kontemplasi. Dalam kedua kontemplasi itu, Peters melihat dua tipe kontemplasi dan menarik perhatian kita pada perbedaan antara dua contoh itu. Pertama: Perihal inkarnasi, dikontemplasi peralihan dari ketiga Pribadi Ilahi pada sekian orang diseluruh permukaan bumi, dari malaikat utusan Allah pada Maria. Perihal kelahiran, perhatian adalah Maria dan Yoseph dan perjalanan ke Bethlehem. Di situ Kristus lahir dan malaikat-malaikat bernyanyi. Kata Peters, kontemplasi pertama mengenai peristiwa penyelamatan, yang kedua mengenai Sang Penyelamat. Yang pertama adalah suasana agung, yang kedua dekat dan berkekeluargaan. Dan keduanya saling melengkapi, sebab Kristus memang adalah kedatangan Allah Yang Agung dalam kelahiran manusia. Tetapi selanjutnya dan terutama, pokok ketiga dalam kontemplasi mengenai Inkarnasi berakhir dengan anjuran supaya habis memandang pribadi, mendengar kata-kata mereka dan melihat apa mereka buat “melakukan refleksi dan mengambil buah dari masing-masing perkara itu” (LR 108). Ternyata, di kontemplasi kedua perhatian bukan lagi pada masing-masing perkara. Di pokok pertama kontemplasi, saya memandang pribadi-pribadi sementara saya sendiri berada di situ juga sambil menawarkan pelayananku, dan akhirnya saya “merefleksikan pada diriku dan mengambil buah yang berguna” (LR 114), demikian pula pada kedua pokok berikut (LR 115-116). Hasil buahnya bukan lagi dari masing-masing perkara melainkan dari melihat diriku dan keterlibatanku.

Begitulah kita punya dua gaya kontemplasi pada satu misteri kedatangan Allah. Dalam yang pertama, pribadi-pribadi yang berlaku seakan-akan melangkah menuju aku. Dalam yang kedua, aku sendiri menyongsong lakon yang ku kontemplasi. Dalam yang pertama, kelimpahan sejarah Allah dengan manusia adalah rahmat kontemplasi. Dalam yang kedua, rahmatnya ialah disposisi dan gerak hatiku untuk mengenal dan mencintai, mengabdi, mengikuti, dan meneladani. Dalam arus dasar yang terungkap dalam kata-kata itu berlangsung electio.