Latihan Rohani menurut Anotasi 18

Menurut Konstitusi Serikat Yesus, dalam rumah-rumah dan kolese kolese, latihan rohani merupakan sarana kerasulan yang unggul. Cuma dikatakan “Latihan Rohani seutuhnya hendaknya diberikan hanya kepada sedikit orang saja, dan inipun dari antara mereka yang daripadanya diharapkan buah bukan biasa demi kemuliaan Allah. Latihan-latihan Minggu Pertama dapat diberikan kepada orang banyak dan sedikit mengenai pemeriksaan batin dan cara berdoa, terutama cara pertama dari ketiga yang diuraikan dalam Latihan Rohani dapat disajikan kepada lebih banyak orang lagi, sebab setiap orang yang berkehendak baik kiranya cocok untuk latihan-latihan itu. Latihan Rohani dikotbahkan yang diberikan kepada umat, yang menjadi acara sekolah katolik adalah Asas dan Dasar plus Minggu Pertama. Dari anotasi 18-20 menjadi jelas. Latihan Rohani tidak sama dengan teks buku LR. Latihan Rohani adalah adaptasi yang terlaksana dalam perjumpaan antara pembimbing dan retretan. Latihan Rohani adalah praksis pastoral yang berkembang selama lebih dari 450 tahun dengan usaha anggota Serikat Yesus yang dengan pelbagai cara memberikan latihan rohani. Dan khususnya kepada orang yang ingin ditolong tidak lebih dari beberapa pengajaran dan sampai ke tingkat tertentu kedamaian jiwa (LR 18b), dan tidak boleh dibebani dengan macam-macam acara, diberikan pemeriksaan batin, diajari berdoa dan didorong untuk merayakan sakramen tobat, merayakan ekaristi dan menerima komuni. Singkatnya, suatu penyegaran praksis iman, di zaman orang kristiani yang paling rajin pun menerima komuni (dan mengaku dosa) paling sering dua atau tiga kali setahun.

Gunther Switek memperlihatkan bahwa dalam bahan LR 18b itu pada pokoknya tidak lain dari bahan bimbingan pastoral yang ditemukan dalam spiritualitas Imitatio Christi yang diberikan di tempat-tempat ziarah dan bimbingan (seperti di biara Monserrat), menyangkut pemeriksaan batin dan cara-cara berdoa. Di saat cetakan menjadi biasa, disusun aneka buku “confesionales” yakni buku-buku kecil yang membantu peniten untuk mempersiapkan diri pada pengakuan dan membantu bapa pengakuan untuk membimbing orang pada pertobatan. Kiranya tidak lain dari itu, dibuat pula Ignatius, waktu di Barcelona (1524-26) membimbing ibu-ibu – dan waktu itu di kemudian hari ia mendorong jesuit-jesuit yang pergi ke Konsili Trente, untuk mencari kesempatan memberikan Latihan Rohani. Namun, ingatlah pada umumnya hanya latihan minggu pertama. Switek menyimpulkan, “Dewasa ini kita menghadapi tantangan yang serupa dengan tantangan yang dihadapi Ignatius pada masanya. Katekese adalah tuntutan hidup mati bagi kehidupan gereja dan bukan saja demi ajaran iman yang dasariah, melainkan juga di medan penghayatan dan kebaktian yang praktis. Amat dibutuhkan pengantar pada laku bakti iman kristiani yang paling sederhana. Dan oleh sebab itu, orang mengusulkan Latihan Rohani menurut Anotasi 18 – dan mengingat itu, mungkin diselesaikan sekaligus juga pelbagai masalah yang praktis sekitar latihan rohani seperti dilebihkan instruksi intelektual sampai menghilanglah latihan doa yang sederhana. Pada sembarangan orang saja diterakan skema yang sama, tanpa memperhatikan kondisi mereka yang badaniah dan psikis, kemampuan intelektual dan kegembiraan iman. Latihan Rohani bukan upgrading dan biarpun dilakukan sebagai proyek pembinaan mental SD sampai universitas adalah maksud latihan rohani agar Pencipta dan Tuhan bertindak dengan setiap orang menurut caraNya/caranya sendiri.