Maksud LR 23: Asas Mendasari Apa?

Tom Jacobs menjabarkan penggunaan dan pengertian akan asas dan dasar dalam sejarah praktis (da interpretasi) Latihan Rohani. Kisahnya: William Peters berpangkal dari anotasi 19 untuk mengawali Latihan Rohani dalam hidup sehari-hari, diberi terlebih dahulu penjelasan mengenai tujuan manusia diciptakan. Asas dan Dasar, suatu pengantar dan pendahuuan. Lain pentafsir (J. Lewis dan A. Codina) mengingatkan bahwa tidak jelas sejarah perumusan fundamen, yang begitu saja muncul setelah judul Latihan Rohani: apakah LR 23 merupakan ungkapan dan ringkasan dari pengalaman Ignatius di tepi cardoner? Suatu kalimat teologis terbentuk selama studi di Paris? Tidak jelas asal usulnya, tidak jelas juga maksudnya, sehingga tidak jelas juga harus diapakan.  Paling mudah teks itu dipakai bagaikan suatu rumus filsafat, umum dan abstrak, yang perlu dijelaskan atau suatu rangkuman yang termasuk isi pokok Latihan Rohani dan latar belakang bagi kebenaran-kebenaran lain dalam Latihan Rohani. Kiranya, sejak zaman Ignatius, Asas dan Dasar mendapat tempat dan perhatian dalam memberi Latihan Rohani. Sejak Claudius Aquaviva (Jendral SJ 1581-1615), Asas dan Dasar disajikan dalam bentuk meditasi – terutama mengenai penciptaan, untuk mawa diri tercipta. Dan tergantunglah dari pembimbing dan teologinya mengenai penciptaan. Apakah penciptaan dipahami sebagai kesadaran diri manusia yang kontingen, selanjutnya mahluk yang tergantung dirahmati oleh cinta Alah. Kalau begitu, Asas dan Dasar diberikan sebagai pertimbangan dan persiapan supaya dalam renungan selanjutnya kita menyambut Allah Penyelamat maharahim yang mengutus Putera-Nya. Ataukah penciptaan memang langkah pertama (dan dasar) dalam kiprah Allah yang berbagi hidup dengan manusia yang dirahmatiNya. Kalau begitu, Asas dan Dasar dapat menjadi saat ke”sadar”an akan kehadiran Allah dalam hidup kita dan kehadiran hidup dalam keimpahan hidup ilahi.

Karangan Tom Jacobs kiranya memperlihatkan antara lain: Teologi (dan praksis penyajian) Asas dan Dasar berubah searah dan seiring dengan perkembangan dalam teologi penciptaan: Teologi thomistik mengartikan penciptaan sebagai pengadaan (causatio) dunia termasuk manusia. Allah menciptakan kodrat manusia dan kemudian dalam Yesus Kristus Allah memperlihatkan kerahimanNya dan dari kemerdekaan dan kebaikanNya melimpahkan rahmat. Teologi eksistensial (Henry de Lubac dan Karl Rahner) membuat awal baru bagi teologi, antara lain dengan melihat penciptaan dalam kesatuan karya keselamatan Allah. Allah yang berbagi hidup (tritunggal) menciptakan yang lain dari DiriNya dan melibatkannya dalam gerak kasih abadi. Maka, “manusia diciptakan ….” bukan suatu pernyataan filsafat manusia atau filsafat ketuhanan yang dapat diterima dalam  sembarangan kerangka pikir melainkan suatu petunjuk akan pengaaman iman yang khas dan kristiani. Dan tidak mengherankan: sejak Walter Sierp dan Hugo Rahner, di sana sini ditegaskan: janganah LR 23 beserta tafsirnya (entah yang bagaimana) disumbangkan pada Latihan Rohani melainkan sebaliknya LR 23 hendaknya diartikan dalam keseluruhan Latihan Rohani sebagai proses pengalaman iman. LR 23 bukanlah suatu pendahuluan dan pengandaian yang manusiawi sebelum kita merenungkan misteri-misteri ilahi. Dalam pengertiannya yang mistik, Ignatius menempatkan “penciptaan” bersama dan dalam pengertian Allah yang triniter. Maka dengan Asas dan Dasar ini dibuka ruang untuk pengalamaan khas Kristiani. William A Barry kiranya juga mengartikan dan menyajikan LR 23 sebagai petunjuk untuk mengangkat pengalaman religius. “…untuk mendasari suatu kehidupan dan hubungan, pernyataan-pernyataan tersebut seharusnya merupakan sulingan dari pengalaman konkret.” Adalah asas dan dasar dari seluruh Latihan Rohani bahwa yang menjalani Latihan itu ditempatkan pada jalur pengalaman. Selanjutnya pengalaman itu disamakan dengan suatu peek experience (40-44), yang menggapai sesuatu yang lain daripada diriku, yang berciri “desire tak terjangkau tak terungkap” (artinya yang kuinginkan itu diluar segala pemahamanku. Pengalaman religius ini Barry uraikan lebih lanjut: pengalaman adalah “membahagiakan” dan adalah peristiwa antar pribadi (sebagai mahluk yang disentuh oleh keinginan Allah yang kreatif) bukan peristiwa pada saat permulaan melainkan peristiwa yang terjadi sekarang ini di setiap hidupku. “Pengalaman akan Allah” yang serba manusawi ini yang oleh orang beriman ditempatkan ke dalam perjumpaan dengan Allah yang mewahyukan Diri menjadi pengalaman iman, menjadi pengalaman akan Allah yang memang ingin berbagi hidup, bukan kebetulan melainkan dengan desire-Nya, sehingga desire yang dalam diriku kualami “selaras dengan satu maksud Allah dalam penciptaan dunia ini dan keinginan itu menjadi gairah hidupku jika saya membiarkannya. Jika diangkat pengalaman akan Allah tampil sekaligus tantangan: bagaimana desireku hidup “at balance” dengan desire Allah? Dengan pengertian ini, Barry mengikuti Tetlow. Dalam penjelasan dan pengarahan untuk pembimbing, Tetlow mencatat mengenai Asas dan Dasar: “The Brief document in the spiritual excercise represents a crucial experience reminds the director that he must draw the exercitant to this experience”. Dasar untuk lanjutan proses Latihan Rohani bukanlah suatu kebenaran yang masuk akal dan berlaku umum, yang bisa dijual kepada siapa-siapa saja yang berkehendak baik. Usaha untuk “melepaskan diri dari segala rasa lekat tak teratur dan selepas dari itu, mencari dan menemukan kehendak Allah dalam hidup nyata guna keselamatan” hanya dapat berlangsung nyata pada medan pengalaman (bukan kesadaran atau pengertian) dan hanya dapat hidup dalam dinamika eksistensial. LR 23 bukan untuk mengerti dan mengakui suatu asas melainkan untuk mencapai suatu landas berpijak lebih lanjut