Meditasi Dua Panji

Di Jalan Bersama Kristus

Meditasi itu terdapat pada hari keempat minggu ke dua, di tengah-tengah kontemplasi-kontemplasi misteri-misteri hidup Kristus, sebagai pengantar untuk mempertimbangkan status hidup. Kontemplasi di hari keempat telah memberi sekedar petunjuk pada dua status hidup, Yesus yang taat di rumah Nazareth, teladan hidup berkeluarga menyambut kehendak Allah, dan Yesus yang tertinggal di Bait Allah, teladan hidup meninggalkan keluarga untuk patuh pada kehendak Allah. “Sementara melanjutkan kontemplasi-kontemplasi atas hidupNya, sekarang kita akan mulai menyelidiki dan minta dalam hidup atau status mana Ia kehendaki, bahwa kita mengabdi KeagunganNya yang Ilahi. Entah kita masih memilih status hidup, yaitu entah kita sudah berada dalam status keluarga atau dalam hidup berkaul religius. “Bagaimana kita harus men-disponir diri agar dalam status atau hidup di mana Allah berkenan memilih kita, kita sampai pada kehendak kesempurnaan. Agar dalam melanjutkan kontemplasi-kontemplasi misteri hidup Kristus terwujudlah disposisi dan pilihan, ada meditasi tentang “dua panji, yang satu panji Kristus, Panglima tertinggi, dan Tuhan kita dan yang lain panji Lusifer, musuh mati-matian dari kodrat kemanusiaan kita. Dengan meditasi tersebut, retretan ditempatkan dalam pertempuran historis. Karya dan panggilan Kristus dalam suatu kontroversi raksasa dan menyeluruh, atas hidup dan mati. Pertentangan mati-matian di mana-mana antara pasukan gerilia sehingga tak seorang pun luput. Kontroversinya:

  1. antara yang mengerikan megah dan yang sederhana mengundang
  2. antara yang mencelakakan karena menipu dan yang menyelamatkan karena benar
  3. antara yang menjerat dan merantai dengan yang menebus dan membebaskan
  4. antara strategi membujuk-menggoda dengan strategi menolong
  5. antara sistem nilai kelobaan sampai keangkuhan dengan sistem nilai kemiskinan lawan kekayaan sampai kerendahan hati lawan keangkuhan.

Terjebak dalam pertempuran, orang tidak dapat tidak memilih pihak, juga memilih cara dan gaya hidup antar yang satu lawan yang lain. Kekayaan itu lebih daripada punya milik menjamin hidup, lebih hidup dari kesediaan atau bahkan kelimpahan barang. Kekayaan adalah jaminan aman pada dirinya. Kekayaan adalah independensy sampai self-sufficiency, tanpa relasi, dan terutama tanpa relasi dengan Allah. Sebaliknya kerendahan hati itu lain dari rendah diri. Adalah taat pada Allah (LR 165), adalah pilihan untuk menyangkal kemauannya sendiri (LR 166), adalah keinginan untuk menyerupai Kristus yang miskin, rendah, dianggap bodoh (LR 167). “Ketiga macam kerendahan hati pada pokoknya menolak self occupation, self sufficiency. Singkatnya: Manusia menghilang di hadapan Allah yang adalah Tuhan, namun mati untuk manusia.

Dalam meditasinya, retretan meminta “pengertian atas tipu muslihat pemimpin jahat itu dan pertolongan untuk menjaga diri darinya, dan juga pengertian tentang hidup sejati yang ditunjuk panglima tertinggi sejati, serta rahmat untuk meneladan Dia”. Meditasi tentang dua panji bukan lagi untuk memilih antara panglima jahat dan panglima sejati, dicari pengertian untuk mengenal gayanya, dimanapun aku menjumpainya. Maksud Ignatius dalam meditasi itu: memberi “some insight into what life is really about”. Namun dapat dipertanyakan: * diandaikan: Dalam menditasi tentang dua panji dicari insight: atas what life is really about – atau atas apa? * Dan lagi: Apakah memang diminta semacam penjelasan sehingga ada kejelasan mengenai cara dan tuntutan untuk mendisposisi diri dengan tepat?

Mengenal – Mengikuti

Dalam Vita Christi, karangan Ludolf dari Sachsen, Ignatius kiranya telah membaca: “Setelah mencapai umur 29 tahun, selama Tuhan Yesus hidup dengan jerih payah yang tersembunyi, berkatalah Yesus pada ibunya: Kini telah tiba waktunya, Aku pergi dan memuiakan Allah dan mewahyukanNya; bahwa Aku tampil pada dunia, di mana sampai sekarang saya tersembunyi, dan bahwa Aku mengerjakan keselamatan jiwa-jiwa. Untuk itu, Bapa mengutus Aku ke dalam dunia. Begitulah Tuhan semesta alam berangkat unatuk perjalanan jauh, sendiri, dan sendirian, dengan kaki telanjang. Amatilah Dia, dengan hati yang bakti penuh kasih; deritalah bersama Dia, tersentuh dan sepenuh hati. Siap sedialah untuk sampai kehabisan tenaga berjalan bersama Dia masuk dalam jerih payah. KerajaanNya bukan dari dunia ini, sebab Ia telah menghampakan diri dan mengambil rupa seorang hamba dan belum rupa seorang raja. Ia menjadi abdi untuk membuat kita menjadi raja.” Dalam meditasi dan terutama dalam kontemplasi misteri-misteri hidup Kristus, kita ingin mendapatkan dan menemukan dari hidup Kristus arah dan gaya, arus dan sepak terjang dari Dia, yang seluruhnya mengabdi kehendak Bapa, agar dalam pilihan dan laku hidupku aku pun menyerupai Dia sampai disposisi dan laku hidupku secara sempurna menyambung pada disposisi Allah. Dalam kontemplasi pengenaan pancaindera, Ignatius membina retretan untuk “dengan pencium dan pencecap, membau dan mencecap kelembutan dan kemanusiaan Allah yang tak terhingga” (LR 24). Maka, dalam meditasi tentang dua panji itu, retretan mohon pengertian bukan hanya atas dua sistem nilai, bukan juga atas dua macam strategi. Dan jelaslah juga bukan about what life is really about. Retretan ingin mengenal pribadi Yesus dan bersambung dengan arus hidupNya, ingin menciumnya dan merasanya, sampai menjadi darah dagingnya sendiri, supaya di mana pun berada, ia seperti mengendus tipu muslihat dan hidup sejati. Singkatnya: pengertian hidup akan laku Kristus.

2. Catatan: Di masa Perang Dunia I dan Perang Dunia II, teologi moral, yang katolik dan protestan, mengalami pembaruan dengan menarik manfaat dari siritualitas mengikuti Kristus. Di dalamnya terkandung pengertian (moral) bahwa nilai tinggal kertas abstrak tak berdaya, kalau tidak dihidupi orang bertubuh darah jiwa raga; pemahaman, bahwa pertimbangan nilai tidak pernah seimbang melainkan selalu terjalin dengan kepentingan dan perhatian. Pengalaman bahwa keputusan hidup mengikuti jaringan. Bermoral lebih dari mewujudkan nilai. Bermoral berarti masuk dalam suatu jaringan dan arus hidup. Hati nurani menyambung pada hati nurani. Dan secara teologis, “perjanjian membina akhlak orang kristiani” (R. Schnackenburg) karena dengan “mengikuti Kristus hidup kita mendapat denah baru” (F. Tillmann). “Rahmat bukan hadiah yang sepele melainkan harus dibayar mahal” (D. Bonhoeffer) sebab supaya ada rahmat, Allah menyerahkan AnakNya – dan untuk hidup dalam rahmat, kita pun harus membayarnya dengan hidup kita sendiri. Moral orang Kristiani mengikuti Kristus. Bukan supaya dalam kisah kita mencari contoh supaya kita terapkan zaman sekarang: holiness exemplified (S. Hauerwas). Dalam hidup beriman, pribadi Kristuslah “makes the difference” (J. M. Gustafon).

3. Orang meneladan Kristus supaya mengikuti Kristus dan masuk dalam dinamika hidup Kristus Penyelamat. Bukan masuk dalam suatu pertempuran sejarah antara kuasa penindasan dan gerakan pembebasan, bukan antara hidup kekerasan destruktif dan gaya hidup yang memelihara dan memperdamaikan. “Babylon” adalah tempat dan wujud kekacauan yang akhirnya diakibatkan oleh dia bolos (yang mengacau) dan “Yerusalem” adalah penampilan perdamaian. Yang satu kawasan setan, yang lain kawasan penebus dan maklumat Kerajaan Allah selalu terarah melawan kerajaan yang memusnahkan. “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” Dalam kematian Kristus, kuasa setan dan maut telah dimusnahkan pada salib Kristus, pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa telah dilucuti dan dijadikan tontonan dalam pawai kemenangan Kristus – sampai pada hari Tuhan, setan dimusnahkan dengan nafas mulutNya. “Sejarah antara kemenangan pada salib dan kemenanga pada akhir zaman akhir ditentukan oleh perjuangan, yang berlangsung dalam gereja, antara setan dan Kristus.

Perjuangan itu sekali lagi dan semula oleh orang-orang, yang oleh rahmat keagungan Ilahi dipanggil untuk mengambil bagian dalam hukum dasar, yakni labor et gloria, artinya: dengan meneladan Kristus yang hanya pada salib menjadi pemenang. Satan telah dilemparkan keluar dan kendati masih berkerja terus. Kristus telah meraih kemenangan dan terus menerus memperjuangkannya, namun sampai saat ini musuh tidak mau kalah. Demikian Paus Felix III merangkum teologi gereja kuno mengenai kemenangan Kristus. Maka, dengan meditasi tentang dua panji, komposisi menjadi lebih kental, berbobot hidup dan karya keselamatan. Dengan gaya dan laku hidup kita, retretan masuk dalam gerak gerik dan arus hidup Kristus, arus yang membawa Kristus dari kehidupan abadi sampai kematian dalam waktu kita, demi aku…: arus labor (melawan tipu muslihat) et gloria (kemenangan atas musuh hidup), untuk meneladan Kristus karena ingin menolong Kristus. Oleh karena itu, meditasi tentang dua panji bermuara dalam percakapan ganda tiga yang melibatkan segenap tokoh sejarah keselamatan. Retretan menyapa Maria yang melahirkan Kristus dan yang menjadi saudara kita dalam iman, supaya dari Sang Putra ia mendapatkan rahmatnya agar kita ditempatkan pada Kristus. Retretan menyapa Putera agar rahmat itu Ia perolehkan dari Bapa. Akhirnya, diantar oleh Kristus dan didampingi Maria, retretan berhadapan dengan Bapa, dalam permohonan dan karunia. Bagaimana lagi kita (biarpun dengan segala desire kita) dapat mengikuti Kristus dalam drama keselamatan seluas seluruh dunia itu, kalau tidak diterima dan dilibatkan oleh Allah dan oleh Kristus dan Maria serta oleh semua, yang sampai sekarang hidup dalam kerahiman Allah.

4. Di hari keenam Minggu Kedua itu, orang mengkontemplasikan baptisan Yesus di sungai Yordan dan bahwa Yesus dicobai di padang gurun. Catatannya bahwa kontemplasi-kontemplasi dilakukan sama seperti pada hari kelima. Untuk hari kelima itu dicatat agar kontemplasi diakhiri dengan tiga percakapan seperti pada meditasi tentang dua panji, dan kalau demikian, kontemplasi tentang pencobaan di padang gurun pun diakhiri dengan percakapan ganda tiga itu. “Dari situ harus kita simpukan: Dalam pencobaan Kristus di padang gurun senyatanya terlaksana dan terwujud, apa yang kita renungkan secara formal dalam meditasi dua panji. Hanya kalau diawali dalam jerih payah, Kerajaan akan datang dalam kemuliaannya.” Ketiga peristiwa pencobaan menjabarkan perjuangan antara Kristus, Allah dalam kehinaan, dengan musuh kehidupan sejak awal. “Mengubah batu menjadi roti” sebetulnya menanggapi harapan rakyat akan sang mesias – godaan untuk puas dengan duniawi serba biasa. Lagi “Mesias dinantikan turun dari bubungan bait Allah” – godaan ketiga dijawab Yesus: Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti. Dengan pengabdian kepada Allah, Yesus melawan gaya musuh kehidupan, dalam jalan mengikuti Kristus, Ignatius dibawa ke dalam “mistik pengabdian”. Demikian pula, “sementara melanjutkan kontemplasi-kontemplasi atas hidup Kristus”, retretan “menyelidiki dan minta, dalam hidup atau status mana Ia kehendaki, bahwa Ia mengabdi KeagunganNya yang Ilahi” (LR 135). Dan segala askese hidup untuk melawan godaan, akan berkisar pada pertanyaan: Dimanakah dan bagaimanakah berawal mula Kerajaan Allah ataupun kerajaan setan mendapat wujud? “Dengan mengkontemplasikan pencobaan di padang gurun (bahwa hanyalah labor adalah jalan menuju gloria), disuluh desire untuk mengabdi Bapa Abadi dengan menyerupai Kristus yang berwujud hamba. Kini Kristus bertolak untuk menyelesaikan perkerjaan yang ditugaskan kepadaNya dan Ia mencari orang yang membantu Dia pada ekspedisi itu”.