Panggilan Raja Duniawi

Panggilan Raja Duniawi membantu untuk mengkontemplasikan hidup Raja Abadi. Minggu Pertama diawali di medan ketelibatanku. Minggu Pertama berakhir waktu seluruh drama dunia seakan-akan dihentikan sejenak. “Pending” antara neraka dan kasih surgawi, aku (tersangkut pribadi dalam sejarah kemalangan) mendapatkan diriku, bukan dihadapan dosa melainkan berhadapan dengan Tuhan dan Pencipta yang dari hidup abadi sampai pada kematian yang fana…dst. apa yang telah kuperbuat, sedang kuperbuat, dapat kuperbuat…? Pertanyaan hidup dan praksis mendapat tanggapan sementara komposisi dikembangkan. Menjumpai Tuhan dan Pencipta dalam kerahiman dengan mengambil langkah dan mengikuti dan menyerupai Kristus.

Adalah acara Minggu Kedua mengkontemplasikan hidup Yesus Kristus untuk memperoleh pengertian Tuhan yang mendalam untuk lebih mencintai dan mengikutiNya lebih dekat (LR 104). Maka hasratku untuk sambung menyambung pada hasrat kasih ilahi beralih mendapat wujud makin aktif dalam langkah dan gaya hidup, dalam ikatan pribadi akan Yesus yang telah Ia awali tidak dapat aku dan kita sia-siakan. “The contemplation on the Temporal King is a kind of foundation for all the meditations on the life of Christ which come after it. The entire meditatation has no other content than the imitation our Lord in which human perfection consists and this is of course what is to be sought in all the other meditations as well.”

Dari catatan singkat (LR 99) dan dari susunan LR 91-98, dapat ditarik kesimpulan “The Kingdom is designated neither as a contemplation nor a meditation, but simply as an “exercise”. Pantas diperhatikan bahwa tidak diharapkan pada akhir latihan, retretan mengucapkan LR 98 bagaikan suatu percakapan. “Namun kekhasan itu tidak berarti bahwa Latihan Panggilan Raja hanya punya peran dan makna sekunder, maksudnya kiranya, bahwa harus dipandang sebagai pengantar dan dapat disebut Asas dan Dasar Kedua. Beberapa catatan mengenai teologi Minggu Kedua serta Latihan Panggilan Raja dan mengenai psikolohi Minggu Kedua dan Latihan Panggilan Raja.

Mengikuti Kristus

1. Latihan Rohani adalah salah satu langkah dalam sejarah Imitatio Christi. Di Manresa, usaha askese Ignatius menjadi niat untuk napak tilas berziarah ke tanah suci. Di situ Ignatius menyadari bahwa orang mesti mengikuti Kristus bukan di mana Kristus hidup dulu melainkan di mana ia berkarya sekarang. Oleh karena itu, Ignatius ingin membantu orang. Untuk itu, ia harus studi. Untuk itu, ia mengumpulkan teman-teman. Setelah ditahbisakan imam, ketika tak mungkin kembali ke tanah suci kesepuluh teman dalam perutusan melakukan perjalanan ke Roma untuk menyerahkan diri pada Sri Paus. Ignatius mohon kepada Santa Perawan sudilah kiranya menempatkan dia pada Puteranya dengan berdoa di suatu gereja dekat Roma. Ignatius melihat dan yakin bahwa Allah Bapa menempatkan dia bersama PutraNya. Dengan naluri dan kebijaksanaan rohani, Ignatius mengangkat pada dirinya suatu kerohanian yang sepanjang sejarah dihidupi orang Kristiani, yaitu hasrat dan jerih payah hidup kita menjadi sambung dengan hidup Kristus. Dengan demikian, Yesus Kristus bukan lagi sosok dari sekian abad yang lalu melainkan menjadi hidup sekarang ini. Dengan demikian bukan lagi kurban yang penuh darah yang mendamaikan murka Allah melainkan Tuhan yang berjerih payah untuk membawa seluruh dunia ke dalam kemuliaan Allah (tujuan kita dan semuanya diciptakan). Mengenal, dengan lebih dekat mengikuti dan lebih mencintai adalah kristologi yang eksistensial hidup.

2. “Jerih payah dan kemuliaan” (LR 95) adalah ciri yang menentukan hidup Kristus dan menjadi pokok hidup yang mengikutinya. Hidup Kristus yang hina dalam jerih payah adalah tanda sakramental bagi gloria ilahi. Dalam rangka dan paham soteriologis, Kemuliaan Allah yang tak terkalahkan melibatkan Diri dan berjerih payah dalam perjuangan melawan “pembunuhan manusia sejak permulaan” (Yoh 8, 44). Dengan kata-kata kristologi, Kesatuan dari ‘sungguh manusia sungguh Allah’ (bdk. Konsili Khalsedon) terwujud dalam labor manusia dan gloria ilahi yang tersembunyi di dalamnya. Dan adalah maksud kerohanian (khususnya pembedaan roh) agar hidupku yang khas dan khusus ini sambung menyambung dengan hidup Kristus yang unik. “Latihan Rohani diberikan Kristus kepada Bapa kita Ignatius…dan itulah sebabnya bahwa punya daya dan kekuatan seperti itu. Latihan itu adalah milik Kristus.”

3. Latihan mengenai Panggilan Seorang Raja dapat dipandang sebagai asas dan dasar untuk kontemplasi-kontemplasi hidup Kristus, karena dan sejauh menempatkan retretan dalam perjumpaan dengan Kristus yang aktif. Kristus “memanggil semua orang untuk mengambil bagian dalam karya agung dan mulia, masing-masing orang menurut caranya. Dari situ sudah jelas ada aneka tahap dalam mengikuti. Namun pada semua yang mengikuti latihan, diandakan disposisi untuk – sejauh tergantung dari orangnya sendiri – untuk menginginkan yang lebih sempurna, kalau Allah memberi kepadanya rahmat dan kekuatan”. Dalam catatan P. Davila, kalimat yang dikutip di atas berbunyi: Kristus “memanggil orang-orang supaya mereka menolong dia dalam ekpedisi”. Pilihan hidup merupakan jawaban atas suatu panggilan, yakni panggilan untuk membaktikan diri pada suatu ekpedisi. Ekspedisinya melawan musuh hidup manusia yang dalam hidup dan wafat Yesus telah dikalahkan justru di mana ia menang, dan yang kini dapat dikalahkan, sejauh aku menolong Kristus dalam ekspedisiNya yang menjadi ekspedisiku. Maka dari satu pihak, ekspedisi itu adalah ekspedisi Kristus, namun sekaligus tak mungkin “karya yang agung dan mulia” diselesaikan tanpa bakti setiap orang pada tempat dan laku hidupnya sendiri. Bakti pada ekspedisi Kristus itu melampaui harapan dan niat untuk diselamatkan, karena “orang mempersembahkan diri seutuhnya untuk berkerja dan lebih lanjut bertindak melawan hawa nafsu, cinta kedagingan dan duniawi dalam dirinya (LR 97). Ada bakti pada ekspedisi bukan karena aku butuh selamat melainkan karena panggilan mengena di hati.

4. Labor et gloria, ciri hidup Yesus Kristus, menjadi hukum hidupku agar dalam hidupku pun musuh hidup manusia dikalahkan di mana ia menang. Retretan hendaknya mempertimbangkan bagaimana orang memberikan “persembahan lebih luhur dan berharga” untuk meneladan dan mengikuti Kristus, bila keagunganMu yang Mahakudus berkenan memilih dan menerima diriku untuk hidup sedemikian itu (LR 98). Persembahan dihadapan takhta ilahi itu dibangkitkan dan dirangkum oleh kerahiman ilahi dalam ikatan rahmat Allah yang mendahului dan tanggapanku yang khas, yang seluruhnya tumbuh dari kemerdekaan hatiku. “Inilah tata rahmat yang tak teruraikan, yang merangkum disposisi Allah dan disposisi diri manusia yang dirahmati dan semuanya itu tidak dapat tidak membawa kita pada suatu tujuan yang sudah dilihat dengan jelas dalam Panggilan Raja: meneladan dan mengikuti Kristus tersalib yang dengan itu menang atas Setan.

Impian Manusia Jumpa Dambaan Ilahi

Dapat saja orang menguraikan pada Panggian Raja Duniawi semacam peta teolog dari “Ignatius the Theologan” (dia yakin karena mengalami Allah yang melibatkan Diri demi manusia dalam dunia supaya hidup. Teologi dan Kristologi, wahyu-rahmat-iman-keselamatan, spiritualitas (mengikuti Kristus) dan teologi moral (membaktikan kemerdekaan manusia ke masa depan jumpa dambaan dari Deus semper maior, Allah yang tak pernah terjangkau ketemu dengan manusia yang selalu ingin melampaui diri. Hanya, Latihan Panggilan Raja Duniawi bukan renungan teologis (yang berbobot dan oleh karena itu berat) juga bukan kontemplasi yang tertib untuk menguji pilihan. Panggilan Raja Duniawi adalah semacam latihan mendengar, tujuannya “supaya tidak tuli”. Linguistik Paul Ricoeur menjabarkan langkah-langkah narasi yang membuat orang tersimpul: prefigurasi (berkisah) – konfigurasi (mendengar) – transfigurasi (diubah). Latihan di awal Minggu Kedua adalah semacam fundamen karena merupakan narasi yang membuka suatu perspektif. Sementara LR 23 terang-terangan disajikan sebagai semacam pertimbangan (untuk mengantar pada cara pandang). LR 91-98 adalah roman penuh jerih payah serta action dan drama penuh afeksi yang tidak dapat tidak melibatkan penonton (untuk merintis our way of proceeding). Karena ditonton dan karena tontonan “menyentuh”, Kristus menjadi teladan dan perintis yang kita ikuti. Tidak cukuplah bahwa emosi disentuh; tontonan hendaknya mengerahkan greget, yakni desire orang dalam kemerdekaannya, sehingga desire ketemu dengan desire dan dengan demikian orang menemukan apa “yang membawa lebih-lebih aku pada tujuan aku diciptakan”. Begitulah LR 91-98 menjadi dasar untuk kontemplasi hidup Kristus pada saat orang menentukan electio.