Perjumpaan dengan Penebus

Asas dan Dasar bagaikan awal drama. Tirai diangkat, namun sebelum gunungan diangkat, lakonnya sudah mulai. Dari penonton, aku menjadi agen dan ditengah-tengah begitu banyak pemain, ternyata aku punya peran khas dan khusus, tak tergantikan (habis aku terlanjur suka ikut main!)

Drama Kerahiman Allah

Tirai terangkat di minggu pertama – dan aku terlanjur berdiri di atas panggung dan aku tidak sempat menghias diri. Maka meditasi-meditasi bukan hanya untuk memperbaiki hidup, bahkan bukan saja untuk grief, sorrow, dan abhorration atas dosa-dosa, disusul contrition, penance yang disempurnakan dalam sakramen tobat. Pertama: kalau “Allah menyingkapkan dosa kepada kita” dan “kalau Allah membuka tabir dosa-dosa dan kecondongan dosa kita, kita bisa saja merasakan kesedihan yang mendalam dan air mata meleleh oleh karena apa yang kita perbuat, namun kita tidak merasa bahwa Allah sedang mempersalahkan kita dan sedang membuat kita merasa tak pantas akan persahabatan dan cinta kasihNya. Penyingkapan Allah terhadap dosa dan kecondongan dosa kita, kita bisa saja merasakan kesedihan yang mendalam dan air mata meleleh oleh apa yang telah kita perbuat, namun kita tidak merasa bahwa Allah sedang membuat kita merasa tak pantas akan persahabatan dan cintakasih-Nya. Penyingkapan Allah terhadap dosa dan kecondongan dosa kita itu memampukan kita untuk berani mengenal diri kita dan memperbarui kehidupan kita.

1. Sekurang-kurangnya harus dijernihkan, apa yang dimaksud dengan kata “via purgativa”, suatu konsep yang tidak jarang dikenakan pada Minggu Pertama. Sebab, ketika retretan bermeditasi mengenai dosa dan hidupnya, “Ignatius mengharapkan…agar berkembanglah suatu percakapan intim antara peserta retret dan Tuhan Yesus. Adalah maksud meditasi pertama: Reaksiku (aku, orang pendosa ini) mengingat dosa malaikat-malaikat, menimbang-nimbang dosa-dosa manusia perdana (yang berlangsung dalam hidupku juga) berhadapan dengan ujung-ujung dosa (hukuman neraka) akan kubicarakan dengan Dia yang demi aku dan demi dosaku telah turun dari kehidupan abadi ke dalam kematian di dunia. Meditasi pertama mengenai suatu relasi, yakni dalam bahasa Latihan Rohani: suatu komposisi orang pendosa dihadapan Penebus.

2. Di saat sejarah sekarang ini, orang amat peka bahwa kesadaran dosa pribadi dan sesal mendalam tidak boleh mengasingkan kita dari tanggung jawab dunia. Mengenal keadaan yang “desolat” dari dunia kita sekarang ini malahan akan mendorong kita untuk makin memahami, hanya Allahlah yang dapat membuka tabir dosa dalam hidup kita. “Tatkala kita mampu melihat diri kita sebagaimana adanya, yaitu sebagai pendosa yang dikasihi di dunia yang dicintai dan berdosa… Kita dimungkinkan melihat diri kita secara tepat sebagai pendosa yang hidup di dunia yang penuh dosa ini karena kita dicintai.

3. Sia-sialah segala niat untuk melawan kehancuran dan menciptakan dunia yang ramah untuk semua orang, pengalaman membuktikan kebalikannya. Namun dialami sekaligus, “desolat” (hanur – bukan hanya kesepian) di dunia yang “desolat” (ditinggalkan Allah). Kita tahu bahwa kini kita dapat hidup hanya dalam perjumpaan dengan kasih yang lebih kuat dari segala kehancuran. Meditasi (melihat seturut kacamata Allah) menghadapkan orang pendosa berhadapan dengan kasih dari “Dia Pencipta sendiri, yang berkenan menjadi manusia…” Komposisinya empowering, demi cinta, si pendosa mampu menentang dan menantang dosa.

4. Nampaknya serba jelaslah pokok Minggu Pertama, “Kerahiman adalah pokok menentukan dalam meditasi-meditasi Minggu Pertama. Namun tidak ada rasa mendalam akan kerahiman Allah, kalau tidak pula ada rasa mendalam akan dosa. Namun dalam Latihan Rohani, dosa selalu dipandang dalam terang kerahiman, yakni kerahiman yang secara definitif diwahyukan dalam keterlibatan Pencipta pada umat manusia yang berdosa dalam salib Yesus (LR 53) dan yang dapat dialami dimana-mana – dalam pengalaman orang mengenai dunia (LR 60) dan mengenai hidupnya sendiri (LR 61, 70). “Nampaknya jelas juga tujuan Minggu Pertama itu, “Rahmat hakiki pada minggu pertama ini adalah rahmat pertobatan, yang tumbuh dalam pengalaman yang benar-benar mematahkan hati kita, yakni pengalaman bahwa dirinya dicintai dan diampuni. Maka tidak mengherankan juga petunjuk yang diberikan pada pembimbing awal Minggu Pertama, “Ingatlah – dan ingatkan pula si pembuat latihan – bahwa dosa adalah misteri. Tanpa wahyu, kita tidak memahami ikhwal dosa supaya kita tahu siapa yang melakukan dosa itu dan siapa yang menderita karenanya, yang kita perlukan hanyalah Allah.

Drama Tidak Berhenti di Babak yang Lalu

Cuma, jangan sampai segala kesulitan dan kejanggalan Minggu Pertama tenggelam dan menghilang dalam lautan kerahiman Allah. Umpamanya, untuk minggu pertama ini, Ignatius mencatat ada lima latihan, dua menditasi (tentang dosa), dan dua ulangan dan satu meditasi (tentang neraka) untuk hari pertama itu – apakah dimaksudkan bahwa kelima meditasi itu diulangi selama seminggu? Lain, mulai hari pertama latihan rohani, di ambang meditasi, retretan diminta “mengarahkan jiwa” dan “menimbang-nimbang bagaimana Allah Tuhan kita memandang aku” dan “membuat laku penghormatan atau perendahan diri” (LR 75). Selanjutnya retretan, mulai hari pertama latihan, akan berdoa batin selama lima jam. Sulit diandaikan bahwa hidup orang itu butuh perbaikan besar-besaran. Lantas untuk apa saja “meriam-meriam” besar yang menggempur hati yang keras supaya bertobat? Dan lagi, sampai selesai minggu pertama, setelah sekian jam meditasi, hendaknya orang tetap mohon “rasa malu” dan “kacau bingung”, mohon dukacita dan air mata atas dosa-dosaku. Kemana harus kita bawa langkah-langkah lakon kita, kalau dalam minggu pertama orang berdosa berjumpa dengan penciptanNya? Lanjutan Minggu Pertama tidak boleh dibatasi pada suatu usaha purifikasi –biarpun pentahiran itu adalah lebih karunia rahmat ilahi daripada tekad dan hasil manusia. Menurut William Peters, “dalam Minggu Pertama kita menyaksikan, bagaimana langkah demi langkah dibangun komposisi retretan, diujung perkembangan itu, retretan tidak lagi berpusat pada dirinya sendiri. Komposisinya menggerakannya keluar daripada Allah dan PenciptaNya, bahkan pada Allahnya yang bergantung pada salib. Harus ditekankan terus menerus, bagaimana di akhir Minggu Pertama, hanya dengan mengacu pada Kalvari, retretan dapat menerangkan misteri bahwa ia masih dapat hidup terus (sebagaimana tiga kali disinggung di LR 60, 61, 71). Beberapa pengamatan dan keterangan pada teks Minggu Pertama ini mendukung kesimpulan itu. 1. Dengan Latihan Pertama (LR 45-54), retretan menempatkan diri sebagai orang tidak beres dalam dunia tidak beres, seperti terpenjara dalam badan yang fana, seperti orang hidup-hidup terbuang dalam lembah tanpa harapan itu (LR 47). Komposisi ini dijajaki dengan ber-meditasi dengan tiga daya jiwa tentang dosa pertama, kedua, dan ketiga. Maksudnya, meditasi pertama itu bukan mengenai dosa para malaikat atau dosa manusia pertama, melainkan mengenai reaksi dan sikap yang kuambil terhadap peristiwa-peristiwa dosa yang terjadi dalam sejarah kita. Nampaknya, aku tidak dapat cuci tangan. Kalau saya “ingat” saya pun menjadi hadir dalam peristiwa kekacauan seperti itu. Kalau saya “pikir” nalarku pun lebih konfrontasi dan naluri berarti membela. Dan bila sejarah seperti tiga dosa itu berakhir pada salib, dan aku tidak dapat tidak ikut bertanya. Komposisiku menjadi transparan dalam konteks sejarah, rasaku, malu, dan aib. 2. Pada meditasi tentang dosa-dosa, orang yang tahu diri tidak beres di dunia yang serba tidak beres mohon “duka cita dan air mata atas dosa-dosaku” (LR 55). Pokok-pokok meditasi menjabarkan komposisi, maka dengan sejarah dosa-dosaku orang tidak membuat pemeriksaan batin – persiapan pengakuan mengenai segala dosa berat. Bukan daftar lengkap dosa, melainkan melihat bagaimana dosa hadir ditempat-tempat dan saat-saat hidupku (LR 56, 1). Hadir dalam segala relasi-relasiku dan usaha-usahaku (LR 56, 2-3). Beratnya dosa (LR 57) kutemukan bukan dalam hebatnya pelanggaran-pelanggaran sepanjang hidup melainkan dalam dosa-dosa pokok (sombong dan serakah, iri dan marah, mewah dan rakus, serta malas). Dalam-dalam ada dosa dalam pribadiku dan dalam tanggung jawabku dan dalam imanku – dan hanya adalah satu pertanyaan: bagaimana mungkin hidupku ini masih berlangsung terus (LR 60). Kerahiman ilahi (LR 61) bukan jawaban atas segala kekacauan hidupku, lebih suatu awal ujung baru. Retretan berwawancara dengan Allahnya, apa maknanya, bahwa sampai kini aku dikaruniai hidup? Di akhir latihan, meningkatlah kesatuan dan integrasi dengan masa lampauku, dengan Allah kuasa dan keadilan. Allah kebijaksanaan dan kebaikan, dan dengan seluruh dunia ciptaan. Kini ciptaan itu bukan lagi lembah binatang-binatang buas, tempat pembuangan, melainkan penuh mahluk yang dengan sabar melayani manusia yang tetap diperhatikan oleh Allahnya. 3. Mengenal diri sendiri sebagai orang pendosa tidak dengan sendirinya berarti bahwa orang mengerti dosa-dosanya dan bahwa ia kenal kekacauannya yang dalam segala usahanya. Latihan ketiga (ulangan) dan keempat (rangkuman) mengangkat bukan dosa-dosa melainkan konsolasi dan desolasi yang dialami dalam meditasi sampai kini, supaya dengan perhatian Allah pada diriku “aku merasakan pengertian akan dosa-dosa” sekaligus dibangkitkan “kengerian” (rasa jijik: desire yang menjauhkan aku dari segala ketidakberesan itu). Di tengah-tengah “rasa malu” dan “air mata” kini orang memandang dan tergerak ke masa depan. Dan masa depan itu memang gawat. 4. Latihan Kelima adalah meditasi tentang neraka. Nampaknya: meditasi itu tidak fakultatif. Retretan dipesan untuk mohon perasaan mendalam tentang penderitaan, ujung definitif dari dosa dan kekacauan, supaya sekurang-kurangnya, karena takut akan hukuman, orang tidak beres digerakkan untuk menghindari dosa (LR 65). Namun kiranya lebih dari itu, dengan komposisinya retretan tidak membayangkan neraka, melainkan menjajaki panjangnya dan luasnya dan dalamnya neraka itu. Yakni neraka, yang bukan tempat dibawah atau disebrang, juga bukan masa setelah kematian dan kiamat. Neraka tak lain dari kesungguhan dosa kalau perkaranya sudah habis, adalah kekacauan dan kehancuran—mau apa lagi. Neraka adalah kini, sama seperti kerahiman ilahi adalah kini. Dan sementara kita berdoa, seakan-akan dalam lanjutan hiruk pikuk hidup, kini segala sesuatu sesaat berhenti. Aku berdiri di situ, orang yang tahu diri orang berdosa, berhadapan dengan Kristus Tuhan kita, bertanya apa maknanya “sampai saat ini” aku belum digolongkan dalam mereka yang masuk neraka itu. Minggu Pertama berakhir dengan meditasi tentang neraka, bukan hanya untuk menakut-nakuti. Neraka adalah hukuman, untuk selama-lamanya (LR 48) yakni kehancuran sepenuh-penuhnya dan kesepian yang terkuasa dalam dosa, yang “sampai sekarang” ditahan sedemikian, sehingga seluruh pandangan terarah untuk selanjutnya. Di setiap meditasi Minggu Pertama, dari Latihan Pertama sampai meditasi tentang neraka, doa yang tidak beres dalam dunia yang tidak beres berakhir pada Allah yang dari hidup abadi sampai kematian salib. Kata Peters, “Kedatangan Allah itu tidak boleh dijadikan suatu peristiwa untung, kapan-kapan dalam sejarah manusia. Tidak dapat tidak, kedatangan Allah itu disambut atau ditolak dan penolakan menyangkut hukuman dan neraka juga. Tidak dapat dielakkan dan dihindari, hidup retretan terikat dan terjaring untuk menyambut Allah yang menjadi manusia, sama seperti hidup dari aneka kelompok yang disebut dalam percakapan terakhir di minggu pertama ini.” Dengan minggu pertama, retretan lebih dari hanya membereskan masa lampaunya tanpa sempat menghias diri, ia ditempatkan, sebagai peran utama dalam drama penebusan untuk lanjutnya.