Presenting Asas dan Dasar: Dramatik dari Suatu Teks Klasik

Tak terhitung jumlah latihan rohani yang dimulai dengan “Manusia diciptakan”, LR 23 telah menjadi suatu teks klasik. Adapun nasib dari teks klasik seperti itu mesti ditafsir berulang-ulang, digagas ulang, direinvent. Adakah suatu “kunci hermeunetik” untuk LR 23? Asas dan Dasar diberikan mengingat:

1. Penciptaan – artinya ditengah barang-barang dan perkara-perkara hidup, dalam suka duka peristiwa dan dengan segala macam proyek yang mendesak, orang “is put together” sehingga ia hidup dalam referensi dan relasi, artinya bukan sembarangan disatukan. Barang-barang dan perkara seterusnya ia pakai dan gumuli atau tinggalkan demi untuk mencapai sesuatu, dalam usaha-usahanya, ia melangkah dari yang sudah-sudah, ia menggapai dengan membuat awal baru, ia berjumpa dengan yang bukan ia sendiri. Hidup berarti melampaui dan melangkahi batas-batas. Bobot hidup bukanlah pada identitasnya sendiri melainkan di luar dirinya. Maka kita mengawali hidup bukan dengan menghayati diri, melainkan dengan menggapai (memuji, menghormati-mengakui, dan mengabdi) pada yang bukan aku. “Diciptakan” berarti hidup dalam konteks, berawal dari luar, bukanlah hanya tergantung.

2. Desire – artinya menggapai. Dorongan dasar hidup bukanlah konstruksi dan rancangan akalku untuk mencapai makna hidup manusia, melainkan kebutuhanku yang dasar untuk keluar dari dan melampaui diri sendiri, untuk mengawali yang sampai sekarang belum ada, untuk mencapai sesuatu yang bukan bayanganku, untuk berawal dari yang didepanku. Keinginan belumlah desire kalau belum menjadi greget yang tak terkendali dan ingin tahu yang tak kenal malu dan cerewet yang terhadap siapapun tidak sungkan. Desire selalu menjawab desire – dan kita tak tertahan ikut main karena sudah ada yang main. Dan oleh karena itu, hidup kita berhasil bukan karena tidak melanggar pedoman juga bukan karena mengikuti dan menggenapi rencana, melainkan karena desireku menyambung pada desire yang lain.

3. Pilihan – artinya: bukan menyesuaikan diri dengan suatu rencana; juga bukan mengutamakan nilai ini atau itu; adalah pilihan kalau aku menemukan dan me”neges” desireku yang khas dan khusus. Dengan memilih “we stand against our culture. For we choose not to prefer as a matter of course, and even as a matter of principle, whealth, big job, fame good position in the community, the best of health, and the kind of living that will add years to our life span. We do not choose that way beforhand.” Pilihan adalah lain dari mengetrapkan suatu asas moral; pilihan lebih dari hanya menarik kesimpulan habis mempertimbangkan nilai-nilai. Pilihan adalah suatu pengertian eksistensial, bagaimana lebih-lebih desireku mendapat sambungan dan gairah dalam desire seluruh kehidupan. Kurasakan betapa leluasa dan luas desireku ini. Demikian kualami juga, betapa desireku yang ini atau itu mendapat tempatnya dalam desire tak terjangkau itu.

4. Lebih – artinya: aku ini bukan eksemplar nomor sekian dari jenis anthropos erectus. Nilai-nilai hidup umum pada umumnya berlaku juga dalam hidupku, namun kita asyik menjaga yang alternatif. Kita “tidak menginginkan lebih kesehatan daripada sakit, kekayaan daripada kemiskinan, kehormatan daripada penghinaan”. Bukan karena nilai-nilai tersebut kurang bernilai. Habis adalah pilihanku: bagaimana desireku sambung menyambung gairah menggairah pada laku hidup yang tidak mau kalah. “membuat diri “indiferentes” supaya yakin dan tanggap, ada alternatif.

Adalah agenda pada awal latihan rohani: ada ruang dan desire hidup dapat tampil, khas dan prinadi. Supaya hasratku nyata dan bukan dalam teori, sambung menyambung pada hasrat ilahi untuk berbagi hidup. Turun temurun, ruang itu tercipta dengan “mengasingkan diri” (LR 20); ditengah-tengah kesibukan pun kiranya orang mesti menciptakan ruang pada pengalaman iman itu – supaya berlangsunglah latihan rohani. Gaya hidup ‘post modern’ terutama orang muda memberi peluang sekaligus menimbulkan tantangan untuk pengalaman iman itu. Katanya angkatan 2000 ini akan mengalami runtuh dan robohnya wibawa lembaga – termasuk lembaga religius. Mereka diajari untuk tidak lagi mengandalkan semacam “sistem” kepercayaan dan kerangka pemikiran manapun jua. Segala sesuatu yang berharga lengkap dengan warisan nilai ternyata ada bandingnya. Mana ada yang dapat menjadi absolut dan sempurna! “In a thoroughly pluralistik world, young adults achieve a measure of critical consciousness that very often leads them to question the relevance of the beliefs and practices of their faith community”. Maka hanya pendirian adalah pasti dan pengalamanku akan berubah-ubah. Dan oleh karena itu, seharusnya tidak terlalu sulit, kita bersama mereka membuka ruang untuk mengenal dan menikmati pengalaman dan pilihan sendiri. Hanyalah: orang cenderung dan senang menerima suatu pegangan yang ditawarkan. Dan lagi, orang yang pernah dikecewakan pilih menikmati yang adanya. Maka, apakah tidak ada jalan lain? Apakah segala tawaran itu harus disingkirkan dan orang dibawa ke padang gurun, supaya akhirnya menemukan pengalamannya…? Muldon menyampaikan apa yang ia temukan dalam memberikan Latihan Rohani kepada orang muda – penemuan Muldon searah dengan pandangan psikologi moral. Orang belajar membuat pengalaman pribadi dan beajar mengambil pilihan dan keputusan bertanggung jawab dan berani mengakui pendiriannya, dengan menjadi terlibat dalam suatu pentas. Orang dituntut tetapi sekaligus mendapat peluang untuk mundur. Pentas memberi ruang untuk imaginasi dan inisiatif, sebab biarpun ada “play-script” pelaku dilatih dan ditantang untuk menjadi spontan, peka untuk mengenal dan mendengar. Dalam performance, orang diikutsertakan dan dibutuhkan, ditantang untuk menyumbang dan dihargai karena dia unik seperti itu, lain dari yang lain. Asas dan Dasar bukan suatu renungan, meditasi, konsiderasi, apalagi mengenai kerapuhan dan ketergantungan, melainkan suatu drama-pentas yang menempatkan aku dalam suatu lakon interaktif.