Santapan Batin 20

Sepuluh tahun lalu saya mengunjungi nenek yang terbaring sakit dan mendapat perawatan jalan. Dokter memberitahu rentang kehidupan nenek, “Waktu hidupnya pendek.” Dua minggu lalu ibu membelikan alat sulam baru. “Nenek ingin mengisi waktunya dengan sulam.” Ibu belajar menyulam dari nenek. Usia lanjut nenek menghalanginya untuk menyulam seperti saat sehat. Jarinya mulai gemetaran saat menisikkan jarum sulam ke kain. Saat nenek tidur, ibu membetulkan beberapa kesalahan sulaman. Paginya nenek meneruskan sulamannya tanpa mengetahui tangan lain ikut menyulam di kain yang sama. “Nenek menyulam apa?” tanya saya. “Hadiah kejutan untuk ibumu. Nenek mengenang saat mengasuh ibumu saat ia kecil.” Setiap malam selama sebulan ibu merapikan sulaman nenek kecuali malam terakhir. Nenek menyulam hingga larut malam. Ibu dan saya tertidur di sisi nenek. Paginya saya terbangun oleh rengkuhan ibu. “Nenek tutup usia beberapa saat setelah menyerahkan sulamannya pada ibu.” Ibu memperlihatkan sulaman kepada saya. “Nenek menyulam dirinya yang berjaga di sisi tempat tidur ibu yang sakit waktu seusiamu.” Di sudut kanan bawah kain tertera kalimat dengan beragam warna. “Terima kasih engkau telah menjagaiku.” Nenek menyelesaikan tisikan dengan sempurna.

Dikutip dari Andalas, Mutiara, Just for You, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2009, hal. 41