13th Meeting of The Scholastics and Brothers’ in Formation Circle: Oleh-oleh dari Kamboja

  1. SBC 2012 diselenggarakan di Metta Karuna, Siem Reap, Kamboja. Rm. Gabby Lamug-Laniawa, SJ memberi pengantar tentang mitigasi dan arah dari pelayanan Jesuit Service tentang lingkungan di Kamboja. Dalam paparannya Gabby menyatakan bahwa dengan adanya sungai Mekong yang melintasi Laos-Thailand-Kamboja dan bermuara di Danau TonleSap membuat kawasan-kawasan tersebut kaya akan sumber daya ikan. Danau TonleSap memiliki biota ikan yang banyak. Hanya masalahnya di kawasan Cina sebagai hulu sungai Mekong sekarang banyak dibangun dam-dam raksasa yang bisa mengancam kekayaan dari lintasan sungai Mekong tersebut.
  2. Seperti SBC-SBC sebelumnya, peserta juga mengadakan program live-in di Battambang (24-27/12). Peserta dibagi ke dalam kelompok Tahen, Battambang, Chomnaom, Nikhum, Tapung, dan Knach Romeas. Kami tinggal bersama penduduk di sana untuk merayakan natal bersama. Bagi sebagian tempat merupakan kawasan pedesaan dengan penduduk yang masih dalam taraf ekonomi menengah ke bawah; rumah panggung dengan dinding gedhek, mandi dengan genthong besar dan sumber air dari ‘kalen’ setempat, serta jalan desa yang bledhug tidak beraspal. Kondisi keluarga yang ditinggali (baik yang memiliki anggota keluarga dengan tubuh normal maupun cacat) membukakan mata kami untuk semakin merealisasikan ‘keberpihakan’ kami untuk menemani mereka, menantang kami untuk lebih berani lagi sampai ke garis depan. Dalam perjalanan pulang kembali ke Siem Riep, kami mengunjungi monument The Walls of Shadow (masih di Battambang) untuk mengenang para korban ‘The Killing Fields’ asuhan Pol-Pot. Miris menyaksikan bagaimana cara-cara rejim Pol Pot mengeksekusi para korban, terlebih di monument tersebut dipasang tulang-tulang tengkorak di kaca etalase, mereka yang dibunuh. Kemudian kami mengunjungi tempat pembunuhan Mgr. Tep Im Sotha, Prefect Apostolic Battambang yang pertama, yang berada di Banteay Meanchey.
  3. Suhu udara di Siem Reap bulan ini ternyata panas ‘mongah-mongah’. Sebelumnya memang menurut keterangan juru cuaca dadakan Frater Thomas disebutkan biasanya di bulan Desember ini udaranya sejuk. Namun sejak datang pertama kali hingga siang tadi panasnya minta ampun, sampai-sampai sesi III jam 14.30 sore diiringi dengan wajah-wajah ngantuk para peserta SBC yang gagal tidur karena panas.
  4. Di sela-sela acara padat, kami juga mengadakan jalan-jalan di Night Market. Bilangan night market ini persis plek dengan Malioboro-nya Jogja, plus dengan gang-gangnya seperti Sosrowijayan, Pajeksan, atau Dagen, Beskalan. Kawasan Night Market juga dilengkapi dengan gang-gang yang dipenuhi vendor maupun pub-pub. Lampunya pun gemebyar. Yang membedakan mungkin pengaturan jalanan di sini lebih tertata ketimbang Jogja. Di kawasan night market yang parkir adalah tuk-tuk, semacam becak yang ditarik dengan motor. Ada hal lain yang menarik! Masih ingat lagu ‘Naik-naik ke Puncak Gunung’? Syairnya demikian,”…kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara..aaa..” Nah, di jalan protokol Siem Reap, dari mulai kawasan dekat Metta Karuna menuju Royal Park, dan di traffic light menjelang Royal Park kita belok ke kanan. Nah, di tempat itu kita bisa menyanyi dengan diubah syairnya,”..Kiri kanan kulihat saja banyak toko minuman aaa…” Tak tanggung-tanggung, dari kelas minuman produk rumahan hingga yang berkelas tinggi; Johhny Walker, Jack Daniels, Belly’s, sampai Martini ada! Dan harganya pun menggiurkan (5 dollar ada, 12 dollar ada, dll). Vodka Raspberry pun murah juga…ckckckckck.