Santapan Batin 25

Konon, ada seekor burung yang tidak mempunyai tenaga untuk terbang. Seperti ayam, ia berjalan saja di tanah, meskipun ia tahu bahwa ada burung yang bisa terbang. Pada suatu ketika, terjadilah, lewat berbagai keadaan, ada telur seekor burung yang bisa terbang yang dierami oleh burung yang tak bisa terbang itu. Setelah sampai waktunya, telur itu pun menetas. Burung kecil itu masih mempunyai kemampuan untuk terbang yang selalu dimilikinya, bahkan ketika ia masih berada dalam telur. Ia pun berkata kepada orang tua angkatnya, “Kapan aku akan terbang?” Dan burung yang hanya bisa berjalan di tanah itu menjawab, “Tetaplah terus belajar terbang, seperti yang lain.” Sebab burung itu tidak tahu bagaimana mengajarkan anak angkatnya itu terbang; ia bahkan tidak tahu bagaimana menjatuhkannya dari sarang agar ia bisa belajar terbang. Dan aneh bahwa burung kecil itu tidak mengetahui hal tersebut. Pengenalannya terhadap keadaan terkacaukan oleh kenyataan bahwa ia merasa berterima kasih kepada burung yang telah menetaskannya. “Tanpa jasanya,” katanya pada diri sendiri, “tentu aku masih berada dalam telur.” Dan lagi, kadang-kadang ia berguman pada diri sendiri, “Siapa pun yang bisa mengeramiku, tentu bisa juga mengajariku terbang. Pasti ini hanya soal waktu saja, atau karena usahaku yang tanpa bantuan, atau karena suatu kebijaksanaan agung: ya, psati karena itu. Akan tiba waktunya, suatu hari nanti aku akan dibawa ke tahap berikutnya oleh ia yang telah membawaku sejauh ini.”

Dikutip dari Shah, Idries, Harta Karun dari Timur Tengah, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2005, hal. 171-172