Santapan Batin 29

Terkadang saya datang ke Pingit, sekadar hadir dan melihat teman-teman kita yang ad ekstra di Pingit, bertemu dengan para voluntir yang bergabung dengan kita, dan anak-anak yang bermain dengan kakak-kakak pendampingnya, ibu-ibu menunggu dan melihat anak-anaknya bermain. Saya kagum akan ketulusan hati para voluntir untuk mau bersama anak-anak itu, merelakan waktu mereka bersama anak-anak yang bukan saudara-saudari mereka. Tertegun juga melihat ibu-ibu yang menunggu anak-anak mereka yang sedang bermain. Kagum akan suasana bahagia dalam kesederhanaan. Bahagia memang seringkali amat sederhana. Tak ada polesan istimewa di tempat itu. Semuanya sederhana, entah dari penampilan mereka, alat-alat yang digunakan atau jenis permainan yang dimainkan. Tapi tercipta suasana persaudaraan, kegembiraan, dan harapan akan hari-hari yang membahagiakan. Kebersamaan dengan sesama pun sudah memancarkan harapan di tempat itu. Harapan yang cerah bagi anak-anak yang kesulitan untuk mengenyam pendidikan dan sering kehilangan hari-hari bermainnya karena harus meminta-minta di jalan. Itu saya lihat sebagai usaha kemartiran di tengah Jogja ini, dalam kapasitasnya sebagai sesama di Pingit. Perayaan kemartiran dengan demikian bukan perayaan kebanggan dan luapan kekaguman semata, tetapi lebih dari itu adalah memberi ruang bagi ingatan untuk terus mengusik dan mendorong hati kita meniru hal serupa, menorehkan harapan dan kebahagiaan di sekitar kita. ***

(Sharing, 4 Februari 2013, Perayaan John de Britto, Jacques Berthieu, dkk)